FORUM KOTA | LAMPUNG TENGAH — Proyek pembangunan irigasi tersier program Instruksi Presiden (Inpres) Tahun 2025 di Kabupaten Lampung Tengah menuai keluhan dari para petani. Mereka menilai kualitas pekerjaan tidak sesuai harapan dan diduga dikerjakan secara asal-asalan.
Sejumlah petani di beberapa wilayah mengaku kecewa terhadap hasil pembangunan irigasi tersier yang seharusnya mendukung kebutuhan pengairan lahan pertanian.
Salah Seorang petani warga astomulyo Punggur Lampung Tengah yang enggan disebutkan nama nya , mengucapkan bahwa kualitas sangat buruk dan asal asalan.
“Material seperti lempengan beton diduga kurang campuran semen, sehingga mudah patah. Bahkan saat diangkat dalam posisi tertentu, banyak yang rusak,” ujarnya, baru-baru ini.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh petani di kampung lainnya. Mereka menilai pemasangan konstruksi irigasi tidak rapi dan terkesan tidak sesuai standar teknis.
“Pemasangannya tidak lurus, seperti berkelok-kelok. Kami khawatir irigasi ini tidak akan bertahan lama,” kata seorang penerima manfaat lainnya.
Meski demikian, sebagian masyarakat mengaku hanya bisa menerima kondisi tersebut karena tidak memiliki kewenangan dalam pelaksanaan proyek.
“Kalau saja kami yang mengerjakan, mungkin hasilnya tidak seperti ini,” tambahnya.
Para petani berharap pemerintah dan pihak terkait dapat melakukan pengawasan lebih ketat terhadap proyek-proyek serupa agar kualitasnya terjamin dan tidak merugikan masyarakat.
Mereka juga meminta agar pihak berwenang termasuk wakil rakyat (DPRD LAMPUNG TENGAH) Atau pihak BBWS Balai besar wilayah sungai untuk menindaklanjuti atau evaluasi stier irigasi di tiga kecamatan yang asal asalan.
Masyarakat berharap ada perbaikan dan menindak lanjuti,khususnya yang berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar petani, agar anggaran negara dapat dimanfaatkan secara optimal dan tepat sasaran.













