Forumkota.id _ Kediri – Suasana damai menyelimuti pelaksanaan Mujahadah Kubro gelombang kedua yang diperuntukkan kaum ibu-ibu. Lokasi pertemuan ini terasa semakin istimewa; semilir angin sejuk berhembus lembut, berpadu dengan alunan gemericik arus Sungai Brantas yang mengalir tak jauh dari tempat bersimpuh. Di tengah kesejukan alam ciptaan Tuhan itu, para jamaah berkumpul dengan hati yang rendah, memanjatkan doa, berzikir, serta memohonkan ampunan atas segala khilaf dan kekurangan yang mungkin pernah terlanjur diperbuat, mengingat tiada manusia yang luput dari salah.
Rangkaian ibadah berjalan tertib dan khidmat. Acara diawali dengan lantunan Tasafu’ dan Istighotsah yang dipimpin oleh Ustadzah Tatik Isma Mutamiroh dari Nganjuk. Suasana makin terjaga kekhusyukannya saat dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Qoriah Ustadzah Aula Ma’rufah asal Kediri. Sejalan dengan kebiasaan dalam pertemuan serupa, selanjutnya dibacakan Mujahadah Aurad 717 yang dipimpin Ustadzah Igit Hariyati dari DKI Jakarta, dilanjutkan pembacaan Kalimat Toyibah dan Tahlil yang dilantunkan dengan penuh penghayatan oleh Al-Mukarramah Ning Humairo Shofia Miladiana, S.Pd.
Mewakili panitia, Ibu Siti Arofah menyampaikan ucapan terima kasih dan penghormatan yang mendalam kepada seluruh pihak. Beliau mengapresiasi segala sumbangsih, baik berupa tenaga, materi, maupun dukungan moril, serta kehadiran dan doa dari para pengamal yang telah berpartisipasi. Ucapan terima kasih juga ditujukan khusus kepada Romo KH. Abdul Hamid Madjid, selaku Sohibul Miladiyyah, yang berkat doa dan restunya acara ini dapat terselenggara dengan lancar dan penuh keberkahan.
Dalam Kuliah Wahidiyah yang disampaikan Ibu Nyai Hj. Dra. Majidatul Wahidah, beliau mengingatkan bahwa derajat kemuliaan seorang hamba tidaklah diukur dari tingginya jabatan, banyaknya harta, maupun kedudukan di masyarakat. Nilai yang sesungguhnya terletak pada seberapa besar ketaatan kita kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Beliau mencontohkan sosok-sosok mulia seperti Sayidah Asiyah istri Firaun, serta Sayyidatina Khadijah, Fatimah Az-Zahra, dan Aisyah RA, sebagai teladan luhur yang patut dijadikan inspirasi, terutama bagi kaum ibu dalam menjalani kehidupan.
Puncak acara yang dinanti adalah penyampaian Fatwa Amanah dan doa restu dari Hadrotul Mukarom Romo KH. Abdul Hamid Madjid, penerus perjuangan Mu’alif Sholawat Wahidiyah. Beliau berpesan dengan lembut namun menyentuh hati: “Apabila tercapai suatu kebaikan, sandarkanlah hal itu semata-mata sebagai karunia dari Allah SWT. Sebaliknya, jika terjadi kekeliruan atau kesalahan, sadarilah itu datangnya dari kelemahan nafsu kita sendiri.”
Beliau pun mengingatkan agar hati tidak pernah berputus asa, sekalipun kita merasa penuh kekurangan. Sebab rahmat serta ampunan Allah itu jauh lebih luas dan dekat kepada hamba-Nya. Sebagaimana janji-Nya tercantum dalam firman-Nya: barang siapa bershalawat satu kali, Allah akan membalasnya sepuluh kali lipat; jika bershalawat sepuluh kali, balasannya menjadi seratus kali. Bahkan sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan—sebesar biji sawi saja—Allah akan membalasnya dengan kebaikan seluas alam semesta. Itulah kebesaran dan kasih sayang Sang Pencipta kepada makhluk-Nya.”
Sunariyanto – Tim
Editor – Redaksi













