ForumKota.id–Lombok Timur, 10 Maret 2026. Temuan buah salak yang telah membusuk dalam paket makanan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Keruak, Lombok Timur, memicu kritik dari berbagai pihak terutama para orang tua dari anak-anak yang menerima manfaat. Buah yang seharusnya menjadi bagian dari menu bergizi bagi siswa justru ditemukan dalam kondisi hancur dan sangat tidak layak konsumsi di dapur penyedia makanan SPPG Mendana Raya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, sejumlah paket makanan yang didistribusikan kepada siswa berisi buah salak yang sudah menunjukkan tanda-tanda pembusukan, seperti perubahan warna, tekstur yang lembek, serta aroma yang tidak sedap. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena makanan yang seharusnya mendukung kesehatan anak-anak justru berpotensi menimbulkan masalah kesehatan apabila tetap dikonsumsi.
Program MBG sendiri merupakan salah satu program pemerintah di Indonesia yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekolah. Namun, temuan ini menunjukkan adanya kelemahan dalam pengawasan kualitas bahan makanan, terutama pada tahap penyimpanan dan distribusi.
Sejumlah pengamat menilai bahwa kejadian ini mencerminkan lemahnya sistem kontrol kualitas pada dapur penyedia makanan. Jika bahan makanan seperti buah tidak melalui proses seleksi dan penyimpanan yang baik, maka risiko kerusakan sebelum sampai ke tangan siswa menjadi sangat tinggi. Selain itu, kurangnya pengawasan rutin juga dinilai menjadi faktor yang memungkinkan bahan makanan tidak layak tetap masuk dalam paket distribusi.
Masyarakat dan pihak sekolah berharap kejadian ini tidak dianggap sebagai masalah sepele. Mereka meminta adanya evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan dapur SPPG Mendana Raya, mulai dari proses pengadaan bahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan kepada siswa.
Selain evaluasi teknis, transparansi dalam pengelolaan program juga dinilai penting agar kepercayaan masyarakat terhadap program MBG tetap terjaga. Tanpa pengawasan yang ketat dan standar kualitas yang jelas, program yang memiliki tujuan mulia ini dikhawatirkan justru menimbulkan persoalan baru di lapangan.
Kasus pembusukan buah salak ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan program makan bergizi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan di tingkat pusat, tetapi juga oleh kesiapan sistem pelaksanaan di tingkat daerah. Pemerintah daerah dan pihak penyelenggara diharapkan dapat segera melakukan perbaikan agar makanan yang diberikan kepada siswa benar-benar aman, sehat, dan layak konsumsi.
