Hamzanwadi: Guru yang Hidup dalam Ilmu dan Perjuangan

Esay Populer

Oleh: Sanusi ( Mahasiswa IAI Hamzanwadi Pancor)
( Pancor, 07 Agustus 2026),

Forumkota.id– Guru yang Tidak Pernah Pergi

Ada manusia yang meninggalkan nama,ada manusia yang meninggalkan karya, namun, ada manusia yang meninggalkan cahaya. Nama mereka tidak hanya tertulis dalam lembaran sejarah, tetapi hidup dalam cara manusia lain berpikir, belajar, dan mengabdi. Mereka mungkin telah lama meninggalkan dunia, tetapi gagasan dan nilai yang mereka wariskan terus berjalan melewati batas waktu. Bagi saya, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah salah satu manusia yang meninggalkan cahaya itu. Saya tidak pernah duduk langsung di hadapan beliau. Saya tidak pernah menyaksikan beliau mengajar di ruang kelas. Saya tidak pernah mendengar suara beliau menyampaikan nasihat dalam sebuah majelis ilmu. Namun, saya mengenalnya.

Saya mengenalnya melalui guru-guru yang meneruskan perjuangannya. Saya mengenalnya melalui madrasah-madrasah yang tumbuh dari semangat pengabdiannya. Saya mengenalnya melalui doa, syair, dan pesan-pesan yang masih hidup di tengah para muridnya. Dan dari perjalanan panjang mengenal beliau, saya menemukan sebuah kesimpulan:

Guru sejati tidak pernah benar-benar pergi.

Tubuhnya mungkin telah kembali kepada tanah, tetapi ilmunya tetap tumbuh. Suaranya mungkin tidak lagi terdengar, tetapi nasihatnya masih menjadi petunjuk. Langkahnya mungkin telah berhenti, tetapi perjuangannya terus berjalan melalui generasi yang mewarisinya. Beliau adalah Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, atau yang lebih dikenal sebagai Maulana Syaikh, ulama besar dari Lombok yang mendedikasikan hidupnya untuk ilmu, pendidikan, dan kemanusiaan.

Di sebuah kampung kecil bernama Bermi, Pancor, Lombok Timur, pada 17 Rabiul Awal 1324 H atau tahun 1906 M, lahirlah seorang anak yang kelak memberikan warna besar dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia, khususnya di Nusa Tenggara Barat (Nu’man, 1999). Anak tersebut bernama Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.

Dalam tradisi masyarakat Nahdlatul Wathan, kelahiran beliau sering dikaitkan dengan kisah spiritual tentang tanda-tanda kebesaran yang menyertai kehadirannya. Dikisahkan bahwa ayah beliau, Abdul Madjid atau Datuk Madjid, mendapatkan kabar dari seorang wali bernama Syekh Ahmad Rifa’i dari Maghribi bahwa akan lahir seorang anak yang kelak menjadi ulama besar pada zamannya (Nu’man, 1999). Terlepas dari bagaimana seseorang memahami kisah tersebut, sejarah kemudian membuktikan bahwa kebesaran Hamzanwadi tidak hanya berasal dari cerita tentang kelahirannya. Kebesarannya lahir dari perjuangan, kebesarannya lahir dari ilmu,kebesarannya lahir dari pengabdian.

Sebab manusia tidak dikenang hanya karena bagaimana ia hadir di dunia, tetapi karena bagaimana ia memberi arti bagi kehidupan manusia lainnya. Hamzanwadi lahir dalam situasi masyarakat yang menghadapi berbagai keterbatasan. Pada awal abad ke-20, pendidikan masih menjadi sesuatu yang sulit dijangkau oleh sebagian besar masyarakat. Penjajahan kolonial tidak hanya berdampak pada aspek politik dan ekonomi, tetapi juga memengaruhi perkembangan pendidikan rakyat (Noer, 1996).

Dalam keadaan tersebut, Hamzanwadi melihat bahwa persoalan terbesar masyarakat bukan hanya kekurangan materi, tetapi juga keterbatasan ilmu pengetahuan. Beliau memahami bahwa masyarakat yang tidak memiliki ilmu akan sulit menentukan arah masa depannya.

Karena itu, pendidikan menjadi jalan perjuangan utama, Beliau tidak memilih membangun pengaruh melalui kekuasaan, Beliau memilih membangun manusia melalui ilmu, Beliau tidak mengejar kemasyhuran pribadi, Beliau menanamkan manfaat untuk generasi setelahnya. Pemikiran inilah yang kemudian menjadi dasar seluruh perjuangan beliau.

Perjalanan intelektual Hamzanwadi semakin berkembang ketika beliau menuntut ilmu di Makkah. Pada masa itu, Makkah merupakan salah satu pusat keilmuan Islam dunia yang menjadi tempat berkumpulnya para ulama dari berbagai penjuru negeri, termasuk Nusantara (Azra, 2013). Di Tanah Suci, beliau memperdalam berbagai disiplin ilmu Islam seperti fikih, tafsir, hadis, dan bahasa Arab. Pendidikan tersebut tidak hanya memperluas wawasan keagamaannya, tetapi juga membentuk cara pandang beliau dalam melihat persoalan masyarakat. Hamzanwadi memahami bahwa agama tidak boleh berhenti pada pemahaman teori. Agama harus hadir dalam kehidupan, ilmu harus memberikan perubahan, dakwah harus melahirkan manfaat.

Setelah memperoleh pendidikan yang luas, beliau tidak memilih untuk menetap jauh dari tanah kelahirannya. Beliau kembali ke Lombok membawa misi besar: membangun masyarakat melalui pendidikan. Keputusan tersebut menunjukkan karakter seorang ulama yang memahami bahwa ilmu memiliki tanggung jawab sosial. Ilmu bukan untuk meninggikan diri. Ilmu adalah amanah untuk melayani.

Sekembalinya ke Lombok, Hamzanwadi melihat bahwa masyarakat membutuhkan lembaga pendidikan yang mampu membuka akses ilmu secara lebih luas. Dari sinilah lahir gagasan besar yang kemudian mengubah wajah pendidikan Islam di Lombok. Pada tahun 1934, beliau mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI), sebuah lembaga pendidikan yang menjadi tonggak penting dalam sejarah pembaruan pendidikan Islam di wilayah tersebut (Nu’man, 1999).

Pendirian NWDI bukan hanya mendirikan sebuah sekolah. Ia adalah sebuah gerakan kebangkitan. Di tengah keterbatasan fasilitas dan kondisi sosial masyarakat yang belum sepenuhnya maju, Hamzanwadi menghadirkan sebuah keyakinan bahwa anak-anak desa juga berhak mendapatkan pendidikan yang baik. Beliau membuktikan bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari tempat yang besar. Kadang perubahan dimulai dari ruang sederhana, dari seorang guru yang memiliki keyakinan, dari murid-murid yang memiliki semangat belajar. dari perjuangan yang dilakukan secara terus-menerus.

Bagi Hamzanwadi, madrasah bukan hanya tempat memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid, Madrasah adalah tempat membangun karakter manusia. Murid tidak hanya diajarkan memahami ilmu agama, tetapi juga dibentuk menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian sosial. Pandangan tersebut sejalan dengan konsep pendidikan Islam yang menempatkan pembentukan akhlak sebagai bagian utama dari tujuan pendidikan (Nata, 2016). Sebab kecerdasan tanpa akhlak dapat kehilangan arah, Ilmu tanpa pengabdian dapat kehilangan makna. Karena itu, pendidikan yang dibangun Hamzanwadi selalu menempatkan keseimbangan antara ilmu, iman, dan amal. Dan di situlah letak perbedaan antara seorang pengajar biasa dan seorang guru sejati. Pengajar mungkin membuat seseorang mengetahui sesuatu, tetapi guru sejati membuat seseorang berubah menjadi lebih baik, dan Hamzanwadi memilih menjadi guru yang kedua.

Guru yang Membuka Jalan bagi Generasi Masa Depan

Keistimewaan Hamzanwadi sebagai seorang pendidik tidak hanya terlihat dari kemampuannya mendirikan lembaga pendidikan, tetapi juga dari keberaniannya melihat persoalan masyarakat jauh melampaui zamannya. Salah satu bukti nyata dari pemikiran maju beliau adalah ketika mendirikan Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) pada tahun 1943. Lembaga tersebut menjadi ruang pendidikan bagi perempuan pada masa ketika kesempatan belajar bagi kaum perempuan masih sangat terbatas (Nu’man, 1999). Langkah tersebut menunjukkan bahwa Hamzanwadi memahami pendidikan sebagai hak seluruh manusia, beliau menyadari bahwa membangun masyarakat tidak cukup hanya dengan mendidik laki-laki. Perempuan juga harus mendapatkan kesempatan untuk berkembang karena mereka memiliki peran besar dalam membentuk generasi berikutnya.

Perempuan yang berilmu akan menjadi sumber ilmu dalam keluarga, keluarga yang memiliki ilmu akan membangun masyarakat yang lebih baik, masyarakat yang berilmu akan menjadi fondasi bagi kemajuan bangsa. Pemikiran tersebut menunjukkan bahwa Hamzanwadi bukan hanya seorang ulama yang memahami persoalan agama, tetapi juga seorang pembaru pendidikan yang mampu membaca kebutuhan zaman. Dari perjuangan pendidikan itulah kemudian lahir gerakan yang lebih besar.

Pada tahun 1953, Hamzanwadi mendirikan organisasi Nahdlatul Wathan sebagai wadah perjuangan dalam bidang pendidikan, dakwah, dan sosial kemasyarakatan (Nu’man, 1999). Nama Nahdlatul Wathan memiliki makna yang sangat mendalam: kebangkitan tanah air. Nama tersebut bukan sekadar identitas organisasi, tetapi menggambarkan visi besar Hamzanwadi bahwa kebangkitan umat tidak dapat dipisahkan dari kebangkitan bangsa, beliau memahami bahwa Islam harus hadir memberikan solusi bagi kehidupan manusia. Agama tidak boleh hanya menjadi simbol, agama harus menjadi kekuatan yang melahirkan perubahan.

Karena itu, perjuangan Hamzanwadi selalu memiliki dua dimensi: membangun manusia yang dekat dengan Allah dan membangun masyarakat yang bermartabat. Dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, ulama memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa. Mereka tidak hanya berbicara tentang persoalan ibadah, tetapi juga tentang tanggung jawab sosial dan kebangsaan (Azra, 2013).

Hamzanwadi berada dalam tradisi tersebut, beliau menyadari bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi juga tentang membebaskan manusia dari keterbelakangan. Jika para pejuang kemerdekaan berjuang dengan senjata untuk merebut kemerdekaan, maka Hamzanwadi berjuang dengan ilmu untuk mengisi kemerdekaan. Medannya adalah masyarakat, senjatanya adalah pendidikan, tujuannya adalah manusia yang merdeka dalam berpikir dan berakhlak. Sebab bangsa yang merdeka membutuhkan generasi yang memiliki pengetahuan dan karakter.

Pemikiran kebangsaan Hamzanwadi juga terlihat dari bagaimana beliau membangun hubungan antara agama dan nasionalisme, beliau tidak pernah memandang kecintaan terhadap tanah air sebagai sesuatu yang bertentangan dengan nilai Islam, justru mencintai tanah air diwujudkan melalui pengabdian nyata, dan mendidik masyarakat adalah bentuk cinta tanah air, membangun lembaga pendidikan adalah bentuk cinta tanah air, membantu manusia menjadi lebih baik adalah bentuk cinta tanah air.

Pandangan ini menjadi sangat relevan dalam kehidupan Indonesia yang terdiri dari berbagai latar belakang budaya, agama, dan tradisi. Hamzanwadi menunjukkan bahwa seorang Muslim dapat menjadi pribadi yang taat beragama sekaligus memiliki komitmen kuat terhadap bangsa, selain sebagai ulama dan pendidik, Hamzanwadi juga merupakan seorang pemikir yang memiliki kemampuan luar biasa dalam menggunakan bahasa sebagai sarana dakwah, beliau memahami bahwa pesan kebaikan tidak selalu harus disampaikan melalui ceramah panjang karena kadang-kadang sebuah syair mampu menyentuh hati lebih dalam.

Melalui karya seperti Wasiat Renungan Masa, Hamzanwadi menyampaikan pesan tentang pentingnya ilmu, persatuan, perjuangan, dan pengabdian (Zainuddin Abdul Madjid, 1994). Karya tersebut menunjukkan bahwa beliau bukan hanya seorang ulama yang berbicara melalui mimbar, tetapi juga seorang sastrawan yang menggunakan bahasa untuk membangun kesadaran. Dalam tradisi Nahdlatul Wathan, karya-karya beliau menjadi bagian dari pendidikan karakter. Syair bukan hanya untuk didengar. Syair adalah pesan, Syair adalah nasihat,Syair adalah warisan nilai.

Ketika para murid hari ini melantunkan karya-karya Maulana Syaikh, sesungguhnya mereka sedang berkomunikasi dengan sejarah, mereka sedang mendengar kembali suara seorang guru yang telah lama tiada, mereka sedang menghidupkan pesan yang pernah ditanamkan.

Sebuah karya yang lahir dari ketulusan memang memiliki kekuatan untuk melampaui zaman. Ia mampu menghubungkan masa lalu dengan masa depan, ia mampu membuat seseorang yang telah tiada tetap terasa dekat, itulah kekuatan sastra dan bahasa.

Dan Hamzanwadi memahami kekuatan itu. Semakin saya memahami perjalanan hidup beliau, semakin saya menyadari bahwa warisan terbesar Hamzanwadi bukan hanya lembaga yang beliau dirikan. Warisan terbesar beliau adalah manusia yang beliau bentuk, sebab bangunan dapat mengalami perubahan, organisasi dapat mengalami perkembangan, tetapi nilai yang tertanam dalam diri manusia akan terus berjalan. Guru yang mengajar dengan ikhlas, murid yang belajar dengan sungguh-sungguh, masyarakat yang menggunakan ilmu untuk kebaikan, semuanya adalah bagian dari perjuangan yang pernah beliau mulai.

Hari ini, tantangan generasi muda tentu berbeda dengan masa Hamzanwadi. Kita tidak lagi menghadapi persoalan yang sama seperti masa lalu. Dunia telah berubah. Teknologi berkembang dengan cepat. Informasi bergerak tanpa batas. Namun, kebutuhan manusia terhadap ilmu, akhlak, dan keteladanan tetap sama. Karena itu, pemikiran Hamzanwadi tetap relevan. Beliau mengajarkan bahwa kemajuan harus berjalan bersama nilai, bahwa kecerdasan harus berjalan bersama kebijaksanaan, bahwa keberhasilan harus berjalan bersama pengabdian.

Sebagai murid Hamzanwadi, tugas kami bukan hanya mengenang beliau. Tugas kami adalah melanjutkan, meneruskan semangat belajar, menjaga nilai perjuangan, menghidupkan pengabdian. Sebab mengenang seorang guru tanpa mengikuti nilai yang ia ajarkan hanyalah kebanggaan tanpa makna, tetapi meneruskan perjuangannya adalah bentuk penghormatan yang sebenarnya.

Pada akhirnya, saya memahami bahwa seorang guru tidak pernah benar-benar pergi. Ia mungkin tidak lagi berada di depan kelas, ia mungkin tidak lagi terdengar secara langsung. Tetapi ia tetap hadir dalam ilmu yang diwariskan, ia tetap hidup dalam kebaikan yang dilakukan, ia tetap berjalan dalam langkah para murid yang meneruskan perjuangannya.

Hamzanwadi telah membuktikan bahwa manusia tidak diukur dari berapa lama ia hidup, tetapi dari seberapa panjang manfaat yang ia tinggalkan. Dari Pancor, beliau menyalakan cahaya. Cahaya itu kemudian berjalan melalui madrasah, melalui murid, melalui generasi. Dan selama masih ada manusia yang belajar, mengabdi, dan berjuang dengan nilai yang beliau wariskan, maka Hamzanwadi akan selalu menjadi:

Guru yang Tidak Pernah Pergi”