BULA, SERAM BAGIAN TIMUR PROVINSI MALUKU– Rencana investasi hilirisasi sagu di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, dinilai dapat membuka ruang partisipasi ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat lokal. Selain menciptakan lapangan pekerjaan, masyarakat juga berpeluang memperoleh nilai tambah dari penyediaan bahan baku sagu untuk kebutuhan industri.
Direktur Utama PT Permata Lintas Nusabangsa, Dr. Eddy Limantoro, mengatakan perusahaan menargetkan kapasitas produksi yang cukup besar, yakni sekitar 125 ton sagu kering per hari. Besarnya kapasitas produksi tersebut diperkirakan akan membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar.
Kalau dari investasi kami, masyarakat bisa berpartisipasi, bisa bekerja dan bisa mendapatkan nilai tambah. Rencana kami ini memproduksi sekitar 125 ton sagu kering per hari. Jumlahnya besar,” kata Eddy kepada wartawan.
Hal tersebut disampaikan Eddy saat memberikan keterangan di Breeding Center Pertanian SBT, Nama Timur Desa Bula Air, Kecamatan Bula, usai bersama tim mengunjungi lahan tanaman sagu di Kecamatan Teluk Waru dan Kecamatan Tutuk Tolu, pada 4 September 2026.
Menurutnya, dalam perekrutan tenaga kerja, perusahaan akan mengutamakan masyarakat lokal.
Sementara untuk tenaga teknis dengan keahlian tertentu, seperti mandor dan supervisor, perusahaan akan mendatangkan tenaga yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan.
Untuk tenaga kerjanya kami prioritaskan tenaga lokal. Untuk tenaga teknis, kami datangkan, terutama pada level mandor dan supervisor,” jelasnya.
Eddy menyebut rencana operasional investasi tersebut mulai diarahkan untuk berjalan pada 2027.
Salah satu pola yang disiapkan perusahaan adalah melibatkan masyarakat, termasuk masyarakat negeri/desa penghasil sagu, sebagai pemasok bahan baku.
Masyarakat nantinya dapat membantu menyediakan batang sagu yang kemudian disetorkan kepada perusahaan untuk diproses di pabrik.
Pola kerja kami adalah partisipasi masyarakat. Masyarakat negeri nanti dapat membantu menyediakan batang-batang sagu, kemudian disetor kepada perusahaan dan kami proses di pabrik,” ujarnya.
Selain menjual bahan baku kepada perusahaan, masyarakat juga tetap memiliki peluang mendapatkan sagu basah apabila membutuhkan untuk keperluan rumah tangga atau pengolahan lanjutan.
Eddy menjelaskan, perusahaan tidak ingin menghilangkan aktivitas masyarakat yang selama ini sudah berjalan. Perbedaannya, pengolahan dalam skala industri akan dilakukan melalui pabrik dengan mengolah bahan baku sagu menjadi produk tepung.
Kalau masyarakat masih ingin mendapatkan sagu basah, kami juga bisa mengembalikan sagu basah sesuai kebutuhan. Jadi di rumah masyarakat tetap bisa melanjutkan apa yang sudah ada,” katanya.
Ia menegaskan, pola tersebut diharapkan dapat menciptakan hubungan saling menguntungkan antara perusahaan dan masyarakat. Masyarakat memperoleh kesempatan ekonomi melalui penyediaan bahan baku maupun pekerjaan, sementara perusahaan mendapatkan pasokan bahan baku untuk mendukung kapasitas produksi.
Terkait harga pembelian sagu dari masyarakat, Eddy mengatakan perusahaan akan menyesuaikannya dengan kondisi pasar.
Kalau ditanya harganya, kami menyesuaikan dengan harga pasar. Harga pasar berapa, kami ikut. Perusahaan akan mengikuti harga pasar,” tegasnya.
Dengan kapasitas produksi yang direncanakan mencapai 125 ton sagu kering per hari, investasi tersebut diharapkan tidak hanya berorientasi pada pengolahan bahan baku, tetapi juga memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat SBT.
Rencana hilirisasi ini sekaligus diarahkan untuk mengubah sagu dari sekadar komoditas bahan mentah menjadi produk bernilai tambah melalui proses pengolahan di tingkat industri.
Jika berjalan sesuai rencana mulai 2027, keterlibatan masyarakat lokal dalam penyediaan bahan baku dan tenaga kerja diharapkan menjadi salah satu komponen penting dalam pengembangan industri sagu di Kabupaten Seram Bagian Timur.*** M. Lausepa.
