Forumkota.id _Sugio, Lamongan – Kondisi infrastruktur jalan di wilayah barat Kabupaten Lamongan kembali menjadi sorotan. Ruas jalan penghubung antara Desa German (Kecamatan Kembangbahu) menuju Kecamatan Sugio yang melewati Desa Sekarbagus mengalami kerusakan parah. Dokumentasi lapangan menunjukkan permukaan jalan yang retak-retak, berlubang, dan bergelombang ekstrem, memaksa pengguna jalan berkendara layaknya melintasi arena offroad. Keluhan warga kini tak hanya tersuarakan lewat aduan formal, tetapi juga mengalir deras dalam obrolan harian di warung-warung kopi sepanjang jalur tersebut.
Kondisi Lapangan: Retak, Berlubang, dan Berdebu
Berdasarkan pantauan visual, kerusakan jalan ini bersifat sistemik dan merata. Aspal lama telah terkelupas habis, menyisakan lapisan pondasi batako (paving block) yang kini retak-seribu dan ambles tidak beraturan. Di beberapa titik, terbentuk lubang-lubang besar akibat erosi air hujan dan beban kendaraan berat yang terus-menerus melintas.
Saat musim kemarau seperti saat ini, kondisi diperparah oleh debu tebal yang mengepul setiap kali ada kendaraan lewat, mengurangi jarak pandang dan mengganggu pernapasan. Sebaliknya, ketika hujan turun, ruas ini berubah menjadi kubangan lumpur yang licin dan berbahaya. Bayangan pengendara motor yang terlihat menunduk fokus menghindari guncangan pada foto dokumentasi menggambarkan betapa melelahkannya melintasi jalur ini setiap hari.
Dampak Nyata bagi Petani, Pelajar, dan Pedagang
Jalur German–Sekarbagus–Sugio bukan sekadar jalan tikus, melainkan urat nadi ekonomi dan mobilitas sosial bagi ribuan warga. Kerusakan ini berdampak langsung pada tiga kelompok utama:
Musim panen adalah momen paling kritis. Truk pengangkut gabah dan hasil bumi lainnya terpaksa berjalan sangat pelan untuk mencegah muatan tumpah atau suspensi patah. Ongkos angkut pun naik karena sopir meminta kompensasi atas risiko kerusakan kendaraan dan waktu tempuh yang membengkak.
Ratusan siswa SMP dan SMA yang tinggal di Desa German namun bersekolah di Kecamatan Sugio menjadi korban rutin. Mereka sering datang terlambat karena harus memelankan laju sepeda motor, bahkan tidak jarang terjatuh akibat terperosok lubang atau tergelincir di permukaan aspal yang tidak rata.
Mobilitas pedagang pasar dan buruh pabrik yang menggunakan jalur ini untuk berangkat kerja pagi-pagi buta atau pulang malam hari menjadi penuh kecemasan. minimnya penerangan jalancombined dengan kondisi路面 yang buruk meningkatkan risiko kecelakaan tunggal maupun kriminalitas seperti jambret.
Suara Warga dari Warung Kopi: “Kapan Diperbaiki?”
Di warung-warung kopi sekitar Desa Sekarbagus dan German, topik kerusakan jalan ini selalu hangat dibicarakan. “Setiap hari lewat sini rasanya seperti ujian kesabaran. Motor saya sudah tiga kali ganti shockbreaker gara-gara jalan ini,” keluh seorang bapak paruh baya sambil menunjuk ke arah jalan yang retak.
Warga mengeluhkan bahwa perbaikan yang dilakukan sebelumnya seolah hanya “tambal sulam” yang tidak bertahan lama. Mereka mendesak pemerintah daerah, baik Pemkab Lamongan maupun instansi terkait, untuk tidak lagi melakukan penambalan aspal tipis, melainkan melakukan rekonstruksi total—idealnya dengan pengecoran beton (rigid pavement) mengingat intensitas beban truk pertanian yang tinggi.
Desakan Perbaikan Total dan Drainase
Warga berharap kunjungan pejabat atau tim survei dari dinas terkait benar-benar ditindaklanjuti dengan alokasi anggaran prioritas. Selain perbaikan badan jalan, pembangunan atau normalisasi saluran drainase di sisi jalan juga mutlak diperlukan agar air tidak menggenang dan merusak pondasi jalan lebih lanjut.
Bagi warga Lamongan bagian barat, jalan yang layak bukan permintaan mewah, melainkan hak dasar untuk menunjang kehidupan ekonomi dan keselamatan sehari-hari. Semoga keluhan dari warung kopi ini segera didengar, sehingga jalur penghubung German–Sugio bisa kembali mulus dan aman dilalui sebelum musim hujan berikutnya tiba.
Sunariyanto – Tim
Editor – Redaksi
