PKL Kantor Pos Johar, Merupakan Salah Satu Icon Kota Semarang. Mohon Dilestarikan

Jalan Alun-alun Timur Johar, ataupun Jalan Arief Rahman Hakim, sejak sebelum tahun 2000, sebelum saya menjadi warga Kota Semarang, sisi kanan-kiri nya sudah berjajar berbagai macam pedagang.

Ada pedagang kacamata, sevice jam tangan, korek api gas, sol sepatu, angkringan, hingga warung Padang.

Peningkatan Mutu Pedestarian Jalan Alun-alun Timur. Setelah itu bisakah ditempati kembali oleh pedagang ?

Sasaran pembeli mereka, tentunya orang-orang yang wira-wiri, hilir mudik dari dan menuju Pasar Johar.

Selain itu, kawasan tersebut merupakan Pangkalan Wartawan, baik dari Media Besar maupun wartawan media kecil. Tempat mereka “menyusun strategi”, rencana kerja, konfirmasi ke berbagai pihak.

Berkumpulnya para wartawan di situ, sebab saat masih jarang yang yang memiliki handphone, dan di situ ada Wartel Besar milik Telkom, yang tentu saja tarif nya normal dan menghemat biaya operasional.

Akhirnya lokasi tersebut meskipun tanpa peresmian, disebut sebagai Markas, ataupun Posko Wartawan Johar.

Bila wartawan membuat janji temu dengan teman-teman nya ke lokasi tersebut, maka penyebutannya adalah : “Kita ketemu di Markas, atau juga di Posko…”

Beberapa tahun terakhir ini, memang sudah jarang yang yang buat janji di lokasi tersebut. Sebab kami memang sudah berusia lanjut, bahkan beberapa rekan juga telah Berpulang…

Namun demikian, ada kalanya kami masih merindukan lokasi tersebut, sekedar bercengkerama dengan teman-teman lama, sekedar ngopi dan makan gorengan atau nasi kucing di angkringan yang ada. Dan itu adalah merupakan hiburan tersendiri bagi kami…

Namun sekarang, demi integrasi kawasan kota lama dan menjaga image di mata wisatawan, kawasan tersebut akan dibebaskan dari PKL…?

Bila kawasan tersebut menjadi bebas dari PKL, maka hilang pula harapan kami untuk sekedar bernostalgia.

Selain dari itu, para pedagang pun tentunya akan kehilangan pelanggan.

Sebab pangsa pasar mereka adalah orang yang wara-wiri dari dan menuju Pasar Johar. Maka bila mereka direlokasi, akibatnya bisa kehilangan pelanggan, harus beradaptasi dengan lingkungan baru, serta harus menyesuaikan dagangan dengan lokasi yang ada…

Kami sangat setuju dengan penataan wilayah menjadi lebih rapi, namun demikian kami juga berharap agar tidak ada yang terganggu ekonomi nya akibat sebuah kebijakan.

Harapan kami, setelah perbaikan infrastruktur, di lokasi tersebut kembali disediakan Selter Pedagang yang tertata apik, para wisatawan dan pengunjung Kawasan Kota Lama juga bisa mendapat tambahan hiburan Jajanan Rakyat yang Murah di angkringan, ketimbang harus jajan di cafe.

Mempertahankan keberadaan PKL di kawasan tersebut, bukanlah hal tabu, sebab kontribusi mereka terhadap pembangunan kota Semarang tidaklah sedikit. Setiap hari ratusan Retribusi bisa didapat dari para pedagang. Dan mempertahankan keberadaan PKL di sana, tidak akan merusak keindahan kota, asal tertata dengan baik.

Iya, memang. Dinas Perdagangan Kota Semarang telah menyediakan tempat untuk relokasi. Tapi kembali pada pada persoalan adaptasi lingkungan dan kemungkinan hilangnya pelanggan dan pembeli baru.

Para konsumen akan kesulitan mencari Tukang Sol, Tukang isi korek gas, tukang stempel, tukang plat nomor yang biasanya mudah ditemui.

Kami pun, para wartawan tua, meskipun masih bisa mendatangi lokasi tersebut untuk bernostalgia, tapi belum gambarannya ke depan. Apakah kami masih ngopi, minum es teh, makan gorengan di lokasi tersebut ?

Entah lah…

*** Bagus BS