Forumkota.id _ Sekarbagus, Sugio, Lamongan – Musim panen raya mestinya jadi musim bersyukur bagi petani. Gemuruh mesin combi harvester dan traktor biasanya sudah memecah kesunyian sawah sejak subuh. Namun pemandangan itu tak terlihat tahun ini di Dusun Babatan, Desa Sekarbagus, Kecamatan Sugio.
Sudah hampir sepekan, deretan alat pertanian modern milik warga hanya terparkir di halaman rumah. Tidak mengepul, tidak menderu, tidak bekerja. Penyebabnya satu: solar langka dan sulit dicari. Jeritan pemilik alat pertanian: Panen raya terancam, dapur ngebul, sekolah anak terganggu.
Alat-alat pertanian vital milik warga Dusun Babatan berhenti total beroperasi akibat kelangkaan Bahan Bakar Minyak jenis Solar. Padahal, saat ini sudah memasuki masa panen raya padi.
Akibatnya, ribuan meter sawah terancam gagal panen tepat waktu. Padi yang sudah menguning terpaksa menunggu, berisiko rebah jika telat dipanen atau datang hujan. Dampaknya berantai: dari petani pemilik lahan, buruh tani, hingga pemilik alat pertanian sendiri.
Yang paling terpukul adalah para pemilik alat pertanian yang menggantungkan hidup dari jasa olah tanah dan panen.
Pemilik Combi Harvester:
– Bapak Kamto, warga RT 02 RW 06
– Bapak Suwono, warga RT 03 RW 06
Pemilik Traktor:
– Bapak Kastum, warga RT 02 RW 06
“Mobil combi saya ini kalau jalan sehari bisa dapat 2 sampai 3 juta kotor. Itu buat bayar cicilan alat, bayar operator 2 orang, solar, dan sisanya buat anak istri,” keluh Pak Kamto sambil menunjuk combi-nya yang terparkir di samping rumah. “Lha sekarang seminggu ngandok di rumah. Nol pemasukan.”
Senada, Pak Suwono mengaku pusing. “Biasanya sebelum di Babatan, combi saya sudah kerja dulu di Mantup, di Tikung, bahkan sampai Bojonegoro. Jarang pulang. Sekarang malah nganggur di kandang. Telepon dari petani luar kecamatan banyak, tapi mau jawab apa? Solare mboten enten.”
Pak Kastum, pemilik traktor, juga tak kalah gelisah. “Traktor saya biasanya untuk nggaru dan ngluku sawah. Sekarang petani mau tanam kedua sudah nunggu. Tapi saya tidak bisa jalan. Solar di Pom Sugio kosong terus. Kalaupun ada, antriannya kayak ular, itupun dijatah.”
Kelangkaan solar ini dikeluhkan terjadi di wilayah SPBU Sugio dan sekitarnya, yang menjadi tumpuan utama warga Babatan dan Kecamatan Sugio.
Kondisi ini sudah dirasakan sejak dua minggu terakhir, dan puncaknya di minggu ini, tepat saat panen raya dimulai. Padahal di tahun-tahun sebelumnya, bulan Juni-Juli adalah “bulan emas” bagi pemilik combi dan traktor. Mesin mereka justru sudah beroperasi di luar kecamatan bahkan luar kabupaten sebelum akhirnya pulang kandang untuk garap sawah Babatan.
Bagi Pak Kamto, Pak Suwono, dan Pak Kastum, berhentinya combi dan traktor bukan sekadar mesin mati. Ini tentang pencarian nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang terhambat total.
Risikonya nyata dan berlapis:
1. Risiko Cicilan Alat: Combi dan traktor dibeli dengan sistem kredit. Sekali tidak beroperasi, cicilan bulanan tetap jalan. “Bisa-bisa ditarik dealer kalau kelamaan,” ujar Pak Suwono lirih.
2. Risiko Dapur: Operator yang ikut mereka juga ikut menganggur tanpa bayaran harian.
3. Risiko Pendidikan: “Anak saya SMK, butuh biaya daftar ulang tahun ajaran baru. Biasanya saya sisihkan dari hasil panen raya. Kalau begini terus, piye?” keluh Pak Kastum. Kebutuhan bayar sekolah anak, listrik, dan kebutuhan pokok lain jadi pertaruhan.
4. Risiko Petani Lain: Padi petani telat panen, kualitas gabah turun, harga jual anjlok. Rantai pangan terganggu dari hulunya.
Ketiga pemilik alat pertanian itu hanya punya satu harapan yang sama, ditujukan kepada pemerintah.
“Kami tidak minta solar gratis,” tegas Pak Kamto. “Mahalpun kami beli, asal ada persediaannya. Asal kami bisa kerja.”
Mereka berharap pemerintah, melalui Pertamina dan Dinas terkait, segera mengambil langkah konkret. Entah dengan menambah pasokan ke SPBU Sugio, membuka jalur khusus untuk alat pertanian saat musim tanam dan panen, atau memberi surat rekomendasi pembelian dari dinas pertanian.
“Yang penting combi dan traktor bisa ngebul lagi asapnya di persawahan,” kata Pak Suwono. “Kasihan petani. Kasihan kami. Ini urusannya perut, Pak. Urusannya sekolah anak.”
Untuk saat ini, mereka hanya bisa menunggu di rumah, sesekali memanasi mesin agar tidak rusak, sambil menatap langit-langit kandang combi. Berharap besok ada kabar solar sudah masuk ke Pom Sugio. Berharap mesin mereka bisa kembali menderu, menjadi tumpuan hidup keluarga dan membantu petani Babatan memanen harapan.
Laporan: Warga Dusun Babatan
Sekarbagus, 9 Juni 2026
Sunariyanto
