Oleh: Roni Leriang -Forumkota.id
ADA yang patut kita acungi jempol tinggi. Anggota Komisi V DPR-RI, Zigo Rolanda, menyambangi Tanah Datar. Bukan sekadar foto bersama, beliau turun ke lapangan meninjau langsung titik-titik strategis pembangunan, termasuk Pasar Serikat C Batusangkar. Padahal pasar ini sejatinya ranah mitra kerja Komisi VI DPR-RI, bukan Komisi V. Tetapi ketulusan perhatiannya tetap patut kita hormati — bukti bahwa urusan rakyat tak harus terhalang sekat birokrasi.
Di lokasi, Zigo Rolanda tak sekadar berkunjung. Beliau berani berbicara tegas: Pasar harus segera dikosongkan agar proyek senilai Rp61 miliar lebih berjalan lancar dan tertib. Sebuah instruksi yang langsung menyentuh inti persoalan. Tamu dari pusat saja begitu peduli pada nasib proyek di halaman rumah kita sendiri.
Lalu muncul satu pertanyaan yang tak bisa lagi dibungkam: Di mana Komisi II DPRD Tanah Datar? Komisi yang justru secara fungsinya adalah “pemilik” urusan perdagangan, UMKM, dan kesejahteraan pedagang di daerah ini — tampak seperti absen dari panggung terpenting. Hanya Fraksi Golkar yang terlihat hadir, sementara lembaga yang dipercaya masyarakat untuk mengawal urusan mereka justru tak terlihat bayangannya.
Kita bertanya selembut sutra, tanpa nada mengintimidasi: Pasar Serikat C bukan sekadar beton dan rencana anggaran. Di sana ada ratusan nyawa yang setiap hari mengadu nasib. Ada puluhan keluarga yang makan dari lapak mereka. Ke mana mereka pindah? Bagaimana jaminan hidup mereka selama proyek berjalan? Siapa yang akan menjadi juru bicaranya? Bukankah itu tugas utama Komisi II?
Sungguh ironis jika tamu yang jauh lebih paham peta persoalan di halaman kita, sementara kita yang tinggal di sini justru berdiri mematung di pinggir. Ini bukan soal siapa lebih hebat — ini soal siapa yang lebih bertanggung jawab atas amanat yang diberikan warga Tanah Datar pada pemilu yang lalu.
Semoga kehadiran tamu yang jauh ini menjadi cermin yang jernih. Bahwa rakyat tidak butuh janji yang indah — rakyat butuh kehadiran yang nyata. Bahwa ketika urusan menyangkut perut warga, tuan rumah haruslah yang paling dulu berdiri di garis depan, bukan yang terakhir mengetahuinya.
