Forumkota.id _ Lamongan – Gagasan besar kerap lahir dari obrolan santai di tempat yang nyaman. Itulah yang terjadi saat JAMAL menggelar diskusi publik bertajuk “Konsep Transportasi Barang Lamongan, Wilayah Pantura” di Toko Kopi Lawas Reborn, Minggu (21/6) sore.
Suasana kedai yang sejuk dan ramah menjadi magnet tersendiri, membuat puluhan peserta—sekitar 20 orang dari berbagai kalangan—betah berdiskusi hingga sore berganti senja. Dipandu oleh moderator Naili Fauziah yang lincah membawa jalannya acara, diskusi berlangsung interaktif dan penuh energi positif.
Menghadirkan Pakar, Membahas Masa Depan Logistik
Hadir sebagai narasumber utama, Muhammad Sholikin (Mantan Konsultan Logistik), yang dengan lugas memaparkan konsep besar: mengintegrasikan Depo Peti Kemas, Stasiun Kereta Api, dan Pelabuhan dalam satu ekosistem logistik terpadu. Dengan integrasi ini, arus barang dari kapal ke darat dan sebaliknya tidak lagi tersendat oleh ego sektoral.
“Sistem selama ini masih parsial. Padahal, kalau tiga simpul ini disatukan dalam satu manajemen, efisiensi biaya logistik bisa kita tekan drastis,” ujar Sholikin di hadapan para peserta yang menyimak dengan antusias.
Dorongan BUMD dan Catatan Kritis untuk Penguasa Lokal
Dari diskusi yang hangat ini, mengemuka usulan kuat agar Pemerintah Kabupaten Lamongan memiliki BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) sendiri yang khusus mengelola sektor logistik terpadu. Dengan BUMD, daerah tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pemain utama dalam menggerakkan roda ekonomi.
Namun, jalan masih terjal. Khoirul Huda, selaku Kepala Koordinator JAMAL, menyoroti bahwa kendala birokrasi dan sikap penguasa lokal yang dinilai masih abai menjadi penghalang terbesar. “Masih ada sekat-sekat kepentingan yang membuat potensi besar ini kerap tidak tersentuh. Kami dari JAMAL akan terus mendorong agar Lamongan lebih maju lagi,” tegas Khoirul.
Senada dengan itu, O’ong Oktorianto, Koordinator Lantang, turut mengkritisi minimnya perhatian para pemangku kepentingan terhadap sektor logistik. “Padahal ini ujung tombak ekonomi. Kalau birokrasi bisa dipermudah, investor dan pelaku usaha pasti akan berbondong-bondong,” tambah O’ong di sela-sela diskusi.
Nilai Fantastis Rp 5,1 Triliun Siap Dongkrak PAD
Yang menjadi perbincangan hangat peserta, termasuk para pelaku usaha dan akademisi yang hadir, adalah hitungan potensi ekonomi dari sistem logistik terpadu ini. Angkanya fantastis: sekitar Rp 5,1 triliun.
Jika terealisasi, nilai ini bakal melambungkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Lamongan secara signifikan. Tidak hanya dari pajak dan retribusi, tetapi juga dari potensi bagi hasil operasional yang dikelola oleh BUMD nantinya.
JAMAL: Aroma Kopi Sore Ini Adalah Awal Perubahan
Di penghujung acara, suasana hangat Toko Kopi Lawas Reborn semakin terasa dengan semangat baru. Moderator Naili Fauziah menutup diskusi dengan kesimpulan bahwa kolaborasi adalah kunci. “Perubahan tidak harus dimulai dari gedung pemerintahan, tapi bisa dari meja kopi seperti ini. Asal ada niat dan keberanian, Lamongan pasti bisa,” pungkas Naili.
JAMAL menegaskan komitmennya untuk tidak berhenti di diskusi. Melalui kanal suaranasional.com, suaralantang.com, dan JAMAL TV, mereka berjanji akan terus menyuarakan gagasan ini hingga terdengar hingga ke ruang-ruang pengambilan keputusan.
Satu hal yang pasti, secangkir kopi di tempat ini bukan sekadar teman diskusi, melainkan simbol awal dari perubahan besar bagii Lamongan. Selamat untuk JAMAL, tim Lantang, dan seluruh peserta yang telah menyumbangkan pikiran untuk kemajuan daerah!
(Red-Sunariyanto)













