– Seorang pemuda bernama Imam yang berasal dari Medan, Sumatera Utara bekerja sebagai karyawan di pabrik sabun dekat tempat tinggalnya demi membiayai biaya kuliahnya.
Imam bersedia menjadi tukang setelah diterima di Universitas Indonesia (UI), tetapi ia tidak memiliki cukup biaya untuk pergi dari Medan ke Depok, Jawa Barat.
Dia yang berasal dari keluarga sederhana itu sempat bingung mencari biaya transportasi.
Imam diterima di Program Studi Teknik Perkapalan, Fakultas Teknik.
Selama berada di UI, Imam akan mengikuti studi dan praktik yang berkaitan dengan desain, pembuatan, serta perawatan kapal.
Namun, Imam tidak menyerah, sehingga menghabiskan harinya dengan bekerja keras, didampingi doa dari ibunya.
Penerimaan Imam di UI awalnya membuat ibunya merasa pesimis karena kendala biaya.
Di dalam hatinya yang paling dalam, ia sangat bangga dan bersyukur karena anaknya berhasil masuk ke UI.
Namun, kini kekhawatiran Imam telah terjawab karena akhirnya putranya mendapatkan beasiswa.
“Saya tidak terlalu yakin dengan kondisi saya, tetapi saya bersyukur anak saya bisa diterima di UI dan mendapatkan beasiswa berkat usaha belajarnya,” kata Ibu Imam mengutip dari Tribun Jabar, Jumat (25/7/2025).
Selain hambatan biaya perjalanan dari Medan ke Depok, ternyata Imam juga mengalami kesulitan karena tidak memiliki laptop.
Ia berkata, “Bagaimana ini, laptop tidak ada,” “baiklah nak kita tabung dulu,” kata Ibu Imam.
Karena keadaan tersebut, sehari setelah mengetahui dirinya diterima di UI, Imam langsung mencari biaya dengan bekerja.
Imam segera mendaftar untuk bekerja di pabrik sabun yang dekat dengan tempat tinggalnya.
Imam menceritakan di pabrik sabun, ia bekerja sebagai buruh angkut dan diberi upah harian.
Dikisahkan oleh Imam, ia bekerja dari malam hingga pagi.
Jam kerja di pabrik sabun itu juga tidak biasa, Imam mengatakan ia bekerja mulai pukul 12 malam hingga pukul 8 pagi.
“Diambilnya upah harian, ternyata begini caranya saya ambil malam, dari pukul 12 malam hingga pukul 8 pagi,” jelas Imam.
“Apakah kamu sedang mengumpulkan biaya?” tanya Imam Santoso, dosen ITB tersebut.
“Iya,” jawab Imam.
“Badan terasa sakit sekali, pekerjaannya hanya mengangkat sabun, memasukkan sabun ke dalam kemasan,” tambahnya.
Namun, nyatanya meskipun Imam bekerja hingga tubuhnya lelah, uang yang terkumpul masih kurang untuk membeli laptop.
Sambil bekerja keras, Imam hanya berharap usahanya tersebut mampu mengumpulkan dana untuk melanjutkan studi di UI.
Akhirnya, doa ibunya dan usaha Imam tercapai.
Ia tiba-tiba memperoleh rezeki tak terduga setelah kedatangan dosen ITB sekaligus influencer ternama, Imam Santoso.
Imam Santoso mengunjungi langsung rumah sederhana Imam di Medan, seperti dikutip dari Insta Storynya, Selasa (22/7/2025).
Dosen dari ITB tiba bersama perwakilan Bank Syariah Indonesia (BSI).
Kedatangan Imam Santoso bersama rombongannya ke rumah sederhana miliknya tidak tanpa alasan.
Mereka ingin memberikan beasiswa kepada pemuda yang bersedia menjadi tukang angkut demi biaya kuliahnya.
Kedatangan mereka direspon dengan hangat oleh Imam dan ibunya hingga membuatnya terharu.
“Tidak menyangka Pak Imam bisa datang ke sini,” kata ibunda Imam sambil menangis.
Ibu dari Imam menyampaikan rasa terima kasihnya karena putranya berhasil diterima di kampus ternama Universitas Indonesia (UI).
Kini, melalui beasiswa dari BSI, kekhawatiran Imam mengenai biaya termasuk laptop telah teratasi.
Imam Santoso mengungkapkan bahwa pihak BSI tidak hanya memberikan beasiswa kepada Imam, tetapi juga menanggung biaya kehidupan remaja tersebut, termasuk pembelian laptop.
“InsyAllah nanti Imam kuliah di UI secara gratis, biayanya ditanggung,” jelas Imam Santoso.
“Selain itu, biaya hidup juga ditanggung, jadi tugasmu hanya fokus pada belajar. Laptop juga diberikan,” kata Imam Santoso.
Mendengar berita baik itu, air mata Imam dan ibunya tiba-tiba mengalir.
Imam segera memeluk ibunya dengan erat.
Ibu tidak lupa mengucapkan terima kasih dan berjanji bahwa nanti anaknya akan kuliah dengan rajin dan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu.
“Terima kasih ya Allah, dia tekun Pak, dia tekun,” kata ibu Imam.
Setelah mengemas barang, Imam kemudian berangkat ke Depok bersama Imam Santoso dan pihak BSI.
Kedua orangtuanya menangis tersedu, melepaskan pergi anak kesayangannya.
“Saya akan mengantarkan Bapak sampai depan,” kata ibunya.
Di akhir rekaman, Imam Santoso kemudian menyampaikan bahwa ekonomi bukanlah hambatan bagi seseorang dalam mencapai pendidikan tinggi.
Karena saat ini banyak perusahaan yang bersedia memberikan bantuan pendidikan kepada anak-anak berprestasi dari kalangan kurang mampu.
Artikel ini sebelumnya telah diterbitkan di TribunSumsel.com dengan judulImam Rela Menjadi Kuli Angkut Untuk Biaya Kuliah Setelah Diterima di UI, Air Mata Pecah Saat Mendapat Rezeki
Informasi terlengkap dan menarik lainnya di Googlenews













