Batam, forumkota.co.id— Pagi belum sepenuhnya membuka mata ketika kabar itu menjalar seperti desir angin laut: Ratu Wangsa kembali melangkah menuju Inggris hari ini. Tidak ada terompet perpisahan, tak pula hiruk-pikuk upacara. Namun justru dalam kesunyian itulah, Batam terasa paling gaduh—oleh rindu yang menyesak dan doa yang melangit.
Bagi masyarakat Batam, nama Ratu Wangsa bukan sekadar sebutan. Ia adalah jejak. Ia adalah cerita. Ia adalah langkah-langkah sunyi yang selama ini bekerja dalam diam, namun gema pengaruhnya terasa hingga ke sudut-sudut paling sederhana kehidupan warga.
Hari ini, Batam seakan berhenti sejenak. Warung kopi menjadi ruang doa. Grup keluarga berubah menjadi altar harapan. Linimasa media sosial menjelma buku rindu yang ditulis bersama. Kalimatnya sederhana, tetapi sarat makna: “Selamat jalan, Ratu. Kami menunggu.”
Kepergian yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi
Keberangkatan Ratu Wangsa bukan kisah tentang meninggalkan, melainkan tentang menunaikan. Setiap langkahnya menjauh, justru terasa mendekat di hati masyarakat. Mereka tahu, perjalanan ini bukan pelarian, melainkan pengabdian yang memilih jalan jauh demi tujuan yang lebih besar.
“Kami tidak kehilangan siapa pun hari ini. Kami hanya sedang mengirim doa lebih banyak dari biasanya,” tutur seorang warga Baloi, menahan haru.
Doa-doa itu mengalir tanpa komando—dari pelabuhan ke pemukiman, dari masjid ke rumah-rumah sederhana, dari generasi tua hingga anak-anak yang mengenal Ratu Wangsa sebagai sosok yang menginspirasi tanpa banyak bicara.
Batam Menyimpan Rindu dengan Martabat
Tidak ada tangis berlebihan. Tidak ada ratapan. Batam memilih cara yang lebih anggun: menyimpan rindu dengan martabat. Sebab masyarakat percaya, setiap perjalanan Ratu Wangsa selalu kembali membawa cahaya—ilmu, jejaring, dan harapan baru untuk tanah yang dicintainya.
Ungkapan yang paling sering terdengar hari ini bukanlah perpisahan, melainkan janji:
“Kami tidak melepas. Kami menitipkan.”
Langit Memisahkan, Hati Tetap Bertaut
Hingga berita ini diturunkan, belum ada kepastian kapan Ratu Wangsa akan kembali. Namun Batam tak gelisah. Kota ini tahu caranya menunggu. Sebab rumah sejati tidak pernah beranjak ke mana-mana—ia tetap berdiri, menyala, dan setia.
Langit mungkin membentangkan jarak, samudra mungkin memisahkan waktu. Namun dari tanah Melayu, doa-doa terus naik tanpa henti. Mengiringi langkah Ratu Wangsa ke Inggris, sembari berbisik lirih pada semesta:
“Pulanglah kelak. Batam selalu ada“













