Lombok Timur, Forumkota.id
Sejumlah Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Universitas Hamzanwadi menggelar aksi mimbar bebas di lorong kampus sebagai bentuk penyadaran dan pendidikan kritis kepada mahasiswa terhadap berbagai persoalan yang tengah terjadi, baik di tingkat nasional maupun daerah.
Kegiatan ini menjadi ruang terbuka bagi mahasiswa untuk menyampaikan keresahan, membangun kesadaran kolektif, sekaligus menghidupkan kembali tradisi intelektual dan gerakan mahasiswa dalam merespons berbagai persoalan publik.
Dalam mimbar bebas tersebut, sejumlah isu strategis menjadi fokus perhatian mahasiswa. Pada tingkat nasional, mahasiswa menyoroti persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus menjadi ancaman terhadap keberlanjutan lingkungan, ekosistem, serta kehidupan masyarakat. Selain itu, persoalan pendidikan, khususnya menyangkut transparansi RRU, turut menjadi sorotan sebagai bentuk dorongan terhadap keterbukaan dan akuntabilitas dalam setiap kebijakan pendidikan.
Sementara di tingkat daerah, mahasiswa mengangkat persoalan pengembangan geotermal di kawasan Sembalun serta aktivitas pertambangan galian C di Korleko. Kedua persoalan tersebut dinilai perlu mendapatkan perhatian serius, terutama menyangkut keberlanjutan lingkungan, potensi dampak terhadap ruang hidup masyarakat, transparansi kebijakan, serta sejauh mana kepentingan masyarakat dilibatkan dalam setiap proses pengambilan keputusan.
Presiden Mahasiswa BEM Universitas Hamzanwadi Ahmad Hasbirrosyid menegaskan bahwa mimbar bebas tersebut bukan sekadar agenda penyampaian aspirasi, melainkan bagian dari upaya membangun kesadaran mahasiswa agar tidak apatis terhadap berbagai persoalan yang terjadi di sekitarnya.
“Mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton atas berbagai persoalan bangsa. Kita memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk membaca, memahami, sekaligus mengambil sikap terhadap realitas sosial yang terjadi. Persoalan lingkungan, pendidikan, hingga ancaman terhadap ruang hidup masyarakat bukan sesuatu yang bisa kita diamkan begitu saja,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa mimbar bebas ini merupakan bagian dari tahapan konsolidasi sebelum mahasiswa melangkah pada aksi demonstrasi dengan membawa tuntutan yang lebih terarah.
“Kami tidak ingin gerakan mahasiswa hanya lahir karena momentum atau sekadar mengikuti arus. Gerakan harus dibangun di atas kesadaran, kajian, dan keberpihakan yang jelas. Sebelum turun ke jalan, mahasiswa harus memahami apa yang diperjuangkan, mengapa harus diperjuangkan, dan untuk siapa perjuangan itu dilakukan,” lanjut Ahmad.
Menurutnya, kampus seharusnya tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan di dalam kelas, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya kesadaran kritis, keberanian berpikir, serta kepedulian terhadap berbagai persoalan sosial dan lingkungan.
Melalui mimbar bebas ini, Ormawa Hamzanwadi ingin mengajak seluruh elemen mahasiswa untuk tidak membatasi diri pada aktivitas akademik semata, melainkan turut mengambil peran dalam mengawal kebijakan publik dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Sebab, gerakan mahasiswa sejatinya bukan hanya tentang seberapa keras suara yang disampaikan di jalanan, tetapi juga tentang seberapa kuat kesadaran, argumentasi, dan keberpihakan yang dibangun dalam setiap perjuangan.
Mimbar bebas di lorong kampus ini menjadi titik awal konsolidasi. Dari ruang-ruang diskusi, suara mahasiswa akan dirumuskan menjadi tuntutan dan gerakan nyata sebagai bentuk tanggung jawab mahasiswa terhadap bangsa dan daerah.
