Forumkota.id _ Lamongan – Semangat gotong royong kembali menjadi wajah nyata kepedulian masyarakat di Dusun Babatan, Desa Sekarbagus, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan. Warga RT 01 bersama pemuda Karang Taruna Pelangi dan para donatur bergotong royong membangun rumah layak huni untuk Mbah Reban, seorang lansia yang hidup sebatang kara dengan kondisi rumah yang sebelumnya nyaris roboh.
Pembangunan dimulai pada Jumat (3/7/2026) setelah melalui musyawarah warga dan penggalangan bantuan yang dilakukan secara swadaya. Selain mendapat dukungan masyarakat setempat, bantuan juga datang dari para dermawan dan sedulur perantauan asal Babatan yang kini menetap di Provinsi Riau.
Ketua RT 01 Dusun Babatan, Ustadz Ibnu Sutowo, mengatakan pembangunan rumah tersebut merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap sesama warga yang membutuhkan.
“Ini bukan hanya rumahnya Mbah Reban. Ini rumah kita bersama, bukti bahwa warga Babatan masih memiliki rasa kepedulian dan semangat gotong royong,” ujarnya di sela kegiatan pembangunan.
Rumah Tak Lagi Layak Dihuni
Sebelum dibangun, kondisi rumah Mbah Reban sangat memprihatinkan. Dinding kayu telah lapuk dan berlubang sehingga angin dengan mudah masuk ke dalam rumah.
Atap yang bocor membuat air hujan menggenangi bagian dalam rumah. Setiap hujan turun, Mbah Reban harus memindahkan tikarnya agar tidak terkena tetesan air.
Lantai rumah yang masih berupa tanah juga menjadi licin dan becek ketika musim penghujan, sehingga membahayakan keselamatan lansia yang tinggal seorang diri tersebut.
Melihat kondisi tersebut, warga RT 01 sepakat melakukan aksi nyata. Bagi mereka, rumah bukan sekadar tempat berteduh, tetapi juga menjadi simbol martabat yang harus dijaga bersama.
Berawal dari Doa dan Rutinan Yasin-Tahlil
Inisiatif pembangunan rumah berawal dari keprihatinan warga yang sering dibahas dalam kegiatan rutin Yasin dan Tahlil.
Dari forum tersebut muncul kesepakatan untuk menggalang dana secara sukarela. Ajakan itu mendapat sambutan luas dari masyarakat.
Tidak hanya warga Babatan, para perantau asal desa tersebut yang berada di berbagai daerah, khususnya di Riau, turut mengirimkan bantuan agar pembangunan rumah dapat segera diwujudkan.
Hari Pertama Fokus Pondasi dan Tiang Utama
Pada hari pertama pembangunan, warga langsung bergerak tanpa seremoni.
Pekerjaan diawali dengan menguruk lahan menggunakan material pedel atau batu pecah untuk memperkuat dasar bangunan.
Setelah itu, warga menyusun pondasi menggunakan batu kumbung yang dikenal kuat dan sesuai dengan karakter tanah di wilayah Lamongan.
Sementara sebagian warga menyelesaikan pondasi, kelompok lainnya mempersiapkan empat tiang utama dari kayu bantuan donatur yang nantinya menjadi kerangka utama bangunan.
Suasana gotong royong begitu terasa sejak pagi.
Para bapak bergantian mengangkat batu, mencampur semen dan memasang pondasi. Pemuda Karang Taruna membantu memindahkan material bangunan, sedangkan ibu-ibu menyiapkan kopi, makanan ringan hingga makan siang bagi seluruh relawan.
Seluruh pekerjaan dilakukan secara sukarela tanpa menerima upah.
Kolaborasi Warga dan Donatur
Keberhasilan memulai pembangunan rumah Mbah Reban tidak lepas dari sinergi berbagai pihak.
Selain seluruh warga RT 01, pembangunan juga melibatkan Karang Taruna Pelangi, sejumlah tukang berpengalaman, tokoh masyarakat, dan para donatur.
Bantuan yang diterima berupa uang tunai maupun material bangunan seperti semen, batu kumbung, pasir, pedel, kayu, paku serta berbagai kebutuhan konstruksi lainnya.
Panitia juga menerapkan pengelolaan dana secara terbuka agar seluruh proses pembangunan berjalan transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ditargetkan Rampung Sebelum 17 Agustus
Warga menargetkan pembangunan rumah selesai sebelum peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Tahapan pekerjaan meliputi penyelesaian pondasi, pemasangan tiang utama, pembangunan dinding, pemasangan rangka atap dan genteng, kemudian dilanjutkan pekerjaan plester, lantai, pintu, jendela hingga pengecatan.
Harapannya, Mbah Reban dapat merayakan Hari Kemerdekaan tahun ini di rumah yang aman, sehat dan layak huni.
Mbah Reban Tak Kuasa Menahan Haru
Melihat rumahnya mulai dibangun, Mbah Reban mengaku terharu atas kepedulian warga.
Dengan mata berkaca-kaca, ia menyampaikan doa kepada seluruh masyarakat yang telah membantu.
“Alhamdulillah, saya tidak menyangka masih ada orang baik. Mugi-mugi sing nyumbang, sing bantu, rezekine tambah lancar,” ucapnya lirih.
Doa tersebut menjadi ungkapan rasa syukur seorang lansia yang akhirnya kembali memiliki harapan menjalani masa tua dengan lebih tenang.
Bantuan Masih Dibuka
Meski pembangunan telah dimulai, panitia menyebut kebutuhan material dan biaya pembangunan masih cukup besar hingga rumah selesai seluruhnya.
Karena itu, masyarakat yang ingin berpartisipasi masih dipersilakan memberikan bantuan, baik berupa dana, material bangunan maupun tenaga.
Gerakan sosial ini menjadi bukti bahwa budaya gotong royong masih hidup di tengah masyarakat Babatan. Dari rumah yang nyaris roboh, kini harapan baru mulai dibangun bata demi bata demi menghadirkan kehidupan yang lebih layak bagi Mbah Reban.
Jurnalis – sunariyanto
Editor – Redaksi
