Gelar Adat untuk Wakil Wali Kota Metro, Kerajaan Sekala Brak: Ini Amanah Besar

Berita, Lampung7262 Dilihat

FORUM KOTA | METRO – Di tengah kesibukannya mengemban amanah sebagai Wakil Wali Kota Metro, Dr. M. Rafieq Adi Pradana akan menorehkan satu babak penting dalam perjalanan hidupnya. Bukan berupa jabatan politik ataupun penghargaan pemerintahan, melainkan sebuah kehormatan adat yang sarat makna dari Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong, Lampung.

Pada Kamis (9/7/2026), Rafieq bersama sang istri dijadwalkan menjalani prosesi penabalan gelar adat di Gedung Dalom Kepaksian Pernong, Kabupaten Lampung Barat. Prosesi tersebut akan menjadi momentum sakral yang mempertemukan nilai kepemimpinan modern dengan warisan budaya yang telah diwariskan turun-temurun selama berabad-abad.

Kerabat Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong Lampung, Agustinus Sobel Tanianto bergelar Radin Garis Penata Mega, menjelaskan bahwa penabalan akan dipimpin langsung oleh Sai Batin Raja Adat Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong Lampung, SPDB Pangeran Edward Syah Pernong, Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke-23.

Menurutnya, prosesi tersebut merupakan kewenangan Sultan sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam tatanan adat Kepaksian Pernong. Gelar adat diberikan melalui pertimbangan yang matang, bukan sekadar penghormatan seremonial, melainkan amanah yang mengikat penerimanya untuk menjaga marwah adat dan masyarakat.

“Sebagai Pemilik, Pemegang, Penguasa Tertinggi di dalam adat, keturunan lurus tidak terputus dari garis ratu yang saat ini bertahta sebagai Sultan Yang Dipertuan pada Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong Lampung, beliau akan menabalkan gelar adat kepada Dr. M. Rafieq Adi Pradana beserta istrinya,” ujar Agustinus, Rabu (8/7/2026).

Agustinus mengungkapkan, penganugerahan gelar tersebut juga didasarkan pada silsilah keluarga Rafieq yang merupakan keturunan ulama besar KH. Arief Mahya, serta memiliki hubungan kekerabatan Angkonan Muakhi dengan Pangeran Haji Suhaimi bergelar Sultan Lela Muda.

Namun, menurutnya, garis keturunan bukanlah satu-satunya alasan. Kerajaan Adat juga menilai Rafieq telah menunjukkan kesetiaan, pengabdian, kejujuran, kedisiplinan, kecakapan, dan istiqamah dalam menjaga hubungan baik dengan masyarakat adat serta menjunjung tinggi kehormatan Gedung Dalom Kepaksian Pernong.

“Di dalam falsafah masyarakat Lampung, gelar adat bukanlah simbol kemewahan ataupun kebanggaan pribadi. Gelar adalah amanah yang menuntut pemiliknya untuk menjadi teladan, menjaga ucapan, perilaku, serta selalu mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi,” ucapnya.

Karena itulah, setiap gelar adat selalu disertai harapan besar agar penerimanya mampu menjadi penghubung antara nilai-nilai tradisi dengan tantangan zaman. Kehadiran tokoh-tokoh muda dalam lingkungan adat diyakini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan budaya Lampung di masa depan.

Menanggapi rencana penabalan tersebut, Wakil Wali Kota Metro, Dr. M. Rafieq Adi Pradana, mengaku bersyukur atas kehormatan yang diberikan kepadanya. Menurutnya, gelar adat bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.

“Ini adalah kehormatan yang besar dalam hidup saya. Semoga saya dapat mengembannya dengan baik dan bisa menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi masyarakat dan budaya Lampung,” ungkap Rafieq.

Ia menegaskan akan menjadikan gelar adat tersebut sebagai pengingat untuk terus mengabdi dengan rendah hati, menjaga nilai-nilai budaya, serta mempererat hubungan antara pemerintah dan masyarakat adat. Baginya, kemajuan daerah tidak boleh membuat masyarakat melupakan akar sejarah dan identitas budayanya.

Prosesi penabalan yang akan berlangsung di Gedung Dalom Kepaksian Pernong bukan hanya menjadi momen bersejarah bagi Rafieq dan keluarganya, tetapi juga menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus modernisasi, adat istiadat tetap hidup sebagai sumber kebijaksanaan, jati diri, dan perekat persaudaraan. Dari sanalah lahir harapan agar setiap pemimpin tidak hanya dikenang karena kebijakan yang dibuat, tetapi juga karena kemampuannya menjaga warisan leluhur untuk generasi yang akan datang. (Red)