Kendal, – Dalam rangka mewujudkan percepatan digitalisasi ekonomi di tingkat desa, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT UIN Walisongo Semarang Posko 162 dari Divisi Ekonomi Kreatif melaksanakan program kerja pemetaan lokasi (Google Maps) dan pembuatan QRIS bagi para pelaku UMKM di Desa Kebonsari, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal. Langkah progresif ini selaras dengan tema KKN yang diusung pada tahun 2026, yakni “Pemberdayaan Masyarakat melalui Ekonomi Kreatif, Literasi Kesehatan, dan Inovasi Sosial Berbasis Desa”.
Tahapan survei lapangan telah digencarkan sejak awal masa KKN, tepatnya pada Rabu (22/07/2026). Tim mahasiswa menyasar berbagai sektor UMKM potensial, mulai dari toko kelontong, warung Madura, produsen makanan ringan, perajin telur asin, hingga pom mini. Kehadiran mahasiswa KKN ini disambut dengan hangat oleh warga setempat.
Tujuan utama program kerja ini tidak sekadar merealisasikan tema KKN, melainkan sebuah dorongan nyata untuk memajukan perekonomian desa. Di era disrupsi teknologi saat ini, tren transaksi masyarakat kian bergeser dari uang tunai (cash) menuju pembayaran digital yang dinilai lebih praktis. Sayangnya, pemanfaatan transaksi digital di Desa Kebonsari masih sangat terbatas. Selain itu, banyak UMKM potensial yang belum terdaftar di Google Maps, sehingga jangkauan pasarnya sulit untuk berkembang.
Pelaksanaan program inovatif ini tentu tidak lepas dari sejumlah dinamika lapangan. Koordinator Divisi Ekonomi Kreatif Posko 162, Hikmah, mengungkapkan berbagai tantangan yang dihadapi timnya saat mendampingi para pelaku UMKM.
“Dari belasan UMKM yang kami kunjungi, nyatanya tidak semua bersedia kami bantu. Kendala yang sering muncul antara lain faktor usia pelaku usaha yang sudah sepuh sehingga kurang familier dengan gadget, hingga anggapan bahwa usaha tersebut hanya sebatas kerja sampingan,” ungkap Hikmah.
Lebih lanjut, Hikmah menjelaskan adanya kekhawatiran masyarakat terhadap sistem perbankan. “Banyak yang terkendala tidak memiliki rekening bank. Mereka juga khawatir uang yang masuk akan terpotong biaya admin. Ditambah lagi, ada mindset bahwa warga desa jarang membayar menggunakan QRIS untuk nominal kecil. Meskipun menemui tantangan tersebut, alhamdulillah masih ada UMKM yang antusias dan bersedia kami bantu dalam pemetaan lokasi di Google Maps maupun pembuatan QRIS,” jelasnya.
Sebagai wujud apresiasi, tim mahasiswa KKN UIN Walisongo Posko 162 memberikan kenang-kenangan khusus kepada para pelaku UMKM yang telah berpartisipasi dan bersedia beradaptasi dengan teknologi digital. Melalui langkah inisiasi ini, diharapkan UMKM di Desa Kebonsari semakin ‘melek’ teknologi, mudah ditemukan oleh konsumen, dan siap bersaing di era ekonomi modern.
Penulis: Tim Mahasiswa KKN-MIT UIN Walisongo Posko 162
