Hari Ibu Nasional 22 Desember 2025: Air Mata, Doa, dan Kebangkitan Perempuan Indonesia

Forum Kota2 Dilihat
banner 468x60

FORUMKOTA.ID | Tegal – Setiap tanggal 22 Desember, bangsa Indonesia berhenti sejenak. Bukan sekadar untuk mengucap “Selamat Hari Ibu”, tetapi untuk menundukkan kepala, mengenang sejarah panjang perjuangan perempuan Indonesia perjuangan yang lahir dari air mata, doa, dan keberanian melampaui zamannya.

Hari Ibu di Indonesia bukanlah perayaan yang lahir dari budaya luar, bukan pula sekadar ungkapan kasih sayang dalam ruang domestik. Hari Ibu adalah jejak sejarah, penanda kebangkitan perempuan Indonesia yang berani bermimpi tentang bangsa yang merdeka, adil, dan beradab.

banner 525x280

Dua bulan setelah Sumpah Pemuda menggema, pada 22 Desember 1928, perempuan-perempuan Indonesia berkumpul di Yogyakarta. Mereka datang dari berbagai daerah, latar belakang, dan organisasi. Dengan kebaya sederhana dan tekad yang luar biasa, mereka menghadiri Kongres Perempuan Indonesia I.

Di tengah keterbatasan zaman kolonial, para perempuan itu berbicara tentang pendidikan bagi anak perempuan, menentang perkawinan dini, memperjuangkan kesehatan ibu dan anak, serta menegaskan bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian utuh dari perjuangan kemerdekaan.

Mereka mungkin tidak mengangkat senjata, tetapi mereka mengangkat kesadaran. Dari ruang kongres yang sederhana itu, lahir keyakinan bahwa kemerdekaan bangsa tak akan sempurna tanpa kemerdekaan perempuan.

Sepuluh tahun kemudian, dalam Kongres Perempuan Indonesia III di Bandung tahun 1938, para perempuan Indonesia sepakat menetapkan 22 Desember sebagai Hari Ibu. Tanggal itu dipilih bukan karena romantisme, tetapi karena sejarah hari pertama perempuan Indonesia menyatakan diri untuk bersatu dan bergerak.

Hari Ibu adalah pengingat bahwa di balik setiap kemajuan bangsa, ada perempuan-perempuan yang bekerja dalam diam, berjuang dalam sunyi, dan bertahan tanpa pamrih.

Pada tahun 1953, peringatan Hari Ibu dirayakan di puluhan kota dari Sabang sampai Merauke. Enam tahun kemudian, Presiden Soekarno secara resmi menetapkan 22 Desember sebagai Hari Ibu Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316 Tahun 1959.

Pengakuan negara ini menegaskan satu hal penting: perjuangan perempuan adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah bangsa Indonesia.

Ibu … Perjuangan yang Tak Pernah Usai

Hari Ibu bukan hanya tentang perempuan di ruang publik, tetapi juga tentang ibu di rumah-rumah sederhana yang bangun lebih pagi dan tidur paling akhir, yang menyimpan lelahnya sendiri demi senyum anak-anaknya.

Ibu adalah sekolah pertama, pelukan pertama, dan doa pertama bagi setiap anak bangsa. Dari rahim dan didikan ibu, lahir generasi yang kelak menentukan arah negeri ini.

Namun, Hari Ibu juga mengingatkan bahwa perjuangan perempuan belum selesai. Masih ada tantangan ketidakadilan, kekerasan, dan keterbatasan akses yang harus dihadapi perempuan Indonesia hingga hari ini.

Hari Ibu Nasional adalah cermin bagi bangsa: sejauh mana kita menghargai perempuan, sejauh mana kita memberi ruang yang adil, dan sejauh mana kita melindungi mereka yang selama ini menjadi tiang penyangga kehidupan.

Hari ini, 22 Desember 2025, mari kita ucapkan terima kasih bukan hanya dengan bunga dan ucapan, tetapi dengan sikap, kebijakan, dan tindakan nyata.

Karena sejatinya, ketika perempuan dihormati dan diberdayakan, di situlah Indonesia berdiri lebih kuat.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *