Investor Lokal Gandeng Modal Internasional, PT Permata Lintas Nusabangsa Bidik Hilirisasi Sagu SBT

Forum Kota0 Dilihat
banner 636x380

 

 

banner 636x380

BULA, SERAM BAGIAN TIMUR – Potensi sagu di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, mulai dilirik serius oleh investor. PT Permata Lintas Nusabangsa menyatakan kesiapannya menanamkan investasi untuk mengembangkan sekaligus mendorong hilirisasi sagu di SBT dengan menggandeng sumber permodalan internasional.

Komitmen tersebut disampaikan Direktur Utama PT Permata Lintas Nusabangsa, Dr. Eddy Limantoro, setelah melakukan peninjauan langsung terhadap potensi tanaman sagu di sejumlah wilayah SBT, Jumat (4/9/2026).

Kunjungan tim investor tersebut didampingi langsung Pemerintah Kabupaten SBT melalui Dinas Pertanian, di bawah pengawalan Kepala Dinas Pertanian SBT, Sofyan Waraiya, S.P., bersama sejumlah staf. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua KADIM Kabupaten SBT.

Dalam kunjungan lapangan, Eddy Limantoro didampingi Sago Man Abo, Direktur Regional Purwoko, Direktur Keuangan Jonhi Hendri, serta Direktur sekaligus Manajer Regional Maluku dan Maluku Utara, Tanjur Ulath.

Tim investor meninjau kawasan sagu di Kecamatan Teluk Waru, masing-masing Desa Dawang, Desa Belis dan Desa Karai. Peninjauan kemudian dilanjutkan ke Kecamatan Tutuk Tolu, khususnya Desa Gaa.

Eddy mengatakan, peninjauan lapangan merupakan bagian dari tahapan awal persiapan investasi setelah pihaknya melihat besarnya potensi sagu yang dimiliki SBT.

Kami merencanakan untuk melakukan investasi di Kabupaten Seram Bagian Timur terkait sagu yang menjadi salah satu program pemerintah daerah. Kami melihat potensinya sangat luar biasa,” kata Eddy.

Menurutnya, keunggulan SBT bukan hanya terletak pada banyaknya tanaman sagu, tetapi juga pada lokasi sebagian kawasan sagu yang relatif dekat dengan permukiman dan akses jalan.

Kondisi tersebut dinilai memberikan keuntungan bagi pengembangan industri karena dapat mempermudah mobilisasi bahan baku sekaligus membuka ruang keterlibatan masyarakat dalam rantai ekonomi sagu.

Ini berbeda dengan daerah lain. Kadang kita harus masuk jauh ke hutan belantara baru menemukan tanaman sagu. Di SBT, kita melihat sendiri pohon-pohon sagu sangat melimpah dan sebagian berada dekat dengan permukiman serta jalan,” ujarnya.

Hasil peninjauan langsung juga menemukan adanya perbedaan antara data potensi sagu yang sebelumnya diterima investor dengan kondisi faktual di lapangan.

Eddy menyebut, potensi yang ditemukan di lapangan ternyata jauh lebih besar dibandingkan data yang sebelumnya disampaikan kepada pihaknya.

Data yang diberikan kepada kami ternyata sangat berbeda dengan fakta lapangan. Fakta di lapangan menunjukkan masih banyak potensi sagu yang belum atau tidak sempat didata,” katanya.

Temuan tersebut justru menjadi sinyal positif bagi investor. Besarnya potensi yang belum terdata dinilai dapat membuka peluang pengembangan industri sagu dalam skala yang lebih besar.

Karena itu, pendataan potensi sagu secara akurat menjadi salah satu aspek penting untuk memastikan ketersediaan bahan baku dan menentukan kapasitas industri yang akan dibangun.

PT Permata Lintas Nusabangsa menegaskan bahwa investasi tidak diarahkan sekadar mengambil atau menjual bahan mentah sagu.

Perusahaan berencana menghadirkan teknologi dan fasilitas pengolahan untuk menghasilkan berbagai produk turunan sehingga sagu memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi.

Tidak ada barang sisa dari sagu. Semuanya harus memiliki makna dan nilai jual. Kami akan membawa teknologi yang nantinya menjadi fasilitas untuk memberikan nilai tambah pada pabrik sagu dan memproses berbagai produk turunannya,” jelas Eddy.

Konsep tersebut menempatkan hilirisasi sebagai inti investasi, dengan tujuan agar manfaat ekonomi tidak berhenti pada bahan baku, tetapi berkembang menjadi industri pengolahan dan produk bernilai tambah.

Eddy juga menilai sagu perlu dikembangkan sebagai salah satu alternatif pangan untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras.
Menurutnya, Indonesia memiliki sumber pangan lokal yang sangat besar dan perlu dimanfaatkan secara lebih serius.

Selain membangun industri pengolahan, investasi tersebut diharapkan memberikan dampak langsung bagi masyarakat SBT.

Pengembangan industri sagu dinilai berpotensi membuka lapangan kerja, meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat serta menciptakan sumber pendapatan baru bagi warga di sekitar kawasan produksi.

Kami ingin kehadiran kami juga membantu ekonomi dan kesejahteraan masyarakat SBT. Sagu ini sangat berpotensi mensejahterakan masyarakat. Karena itu kami ingin menggunakan sagu sebagai salah satu solusi untuk ketahanan pangan nasional,” kata Eddy.

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi diharapkan dapat terlibat dalam ekosistem industri sagu yang dibangun.

Eddy juga mengungkapkan bahwa PT Permata Lintas Nusabangsa telah melakukan kesepakatan atau MoU dengan BUMD Kabupaten SBT.

Menurutnya, kesepakatan tersebut telah ditandatangani oleh Bupati SBT Fahri Husni Alkatiri.

Meski demikian, perusahaan saat ini masih berada dalam tahapan persiapan teknis. Sejumlah aspek harus diselesaikan sebelum investasi masuk pada tahap pelaksanaan, termasuk desain kapasitas industri, kajian lingkungan, serta pemenuhan berbagai persyaratan dan perizinan.

Kami sekarang melakukan desain kapasitas dan memenuhi semua persyaratan, seperti AMDAL dan ketentuan lainnya yang berlaku,” ujarnya.

Eddy menegaskan, PT Permata Lintas Nusabangsa merupakan perusahaan yang berbasis di Indonesia. Namun, untuk memperkuat pembiayaan investasi, perusahaan membuka kolaborasi dengan investor internasional.

Kami ini perusahaan lokal, tetapi kami mengumpulkan modal dari internasional. Perusahaan tetap di Indonesia dan kami berkolaborasi dengan investor internasional,” tegasnya.

Menurut Eddy, sejumlah investor internasional juga menunjukkan ketertarikan terhadap peluang investasi di SBT. Bahkan, peluang kerja sama tersebut disebut tidak hanya terbatas pada sektor sagu.

Hal ini membuka kemungkinan SBT menjadi salah satu daerah tujuan investasi baru apabila potensi lokal mampu dipersiapkan dengan data, regulasi dan infrastruktur yang memadai.

Untuk memperkuat promosi sagu sebagai komoditas strategis, PT Permata Lintas Nusabangsa juga menyiapkan rencana Forum Sagu Internasional pada November 2026.

Forum tersebut diharapkan mempertemukan pemerintah, akademisi, investor dan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas masa depan pengembangan sagu.

Eddy mengatakan, forum tersebut sebelumnya direncanakan berlangsung di Ambon. Namun, karena belum adanya kesediaan Universitas Pattimura sebagai lokasi penyelenggaraan, pihaknya mempertimbangkan Jakarta atau Bogor sebagai lokasi alternatif.

Kami mencoba membangkitkan kembali forum itu. Rencananya pada November akan ada forum internasional dan kami ingin mempertemukan berbagai pihak untuk mendorong pengembangan sagu,” katanya.

Kunjungan investor tersebut memberikan gambaran bahwa sagu SBT mulai dipandang bukan sekadar tanaman pangan tradisional, melainkan komoditas yang memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi industri bernilai tambah.

Ketersediaan bahan baku, sejumlah kawasan sagu yang relatif dekat dengan permukiman dan akses jalan, dukungan pemerintah daerah, serta peluang masuknya modal internasional menjadi faktor yang dapat memperkuat posisi SBT dalam pengembangan industri sagu.

Namun, peluang tersebut harus diikuti dengan langkah konkret. Pendataan potensi sagu harus diperbarui, kepastian bahan baku harus dihitung secara matang, kajian lingkungan wajib dipenuhi, kapasitas industri harus disesuaikan dengan potensi riil, dan seluruh perizinan harus berjalan sesuai ketentuan hukum.

Jika seluruh tahapan tersebut dapat diselesaikan secara transparan dan terukur, hilirisasi sagu berpotensi menjadi salah satu penggerak ekonomi baru SBT.

Bagi masyarakat, harapannya sederhana tetapi besar: sagu yang selama ini tumbuh melimpah di tanah SBT tidak lagi berhenti sebagai potensi. Sagu harus diolah menjadi produk bernilai tinggi, membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, memperkuat ketahanan pangan, dan memberikan manfaat nyata bagi  daerah.*** M. Lausepa.

banner 636x380