ROHIL,forumkoata.id, Laporan Tim AWI Rohil — Kepenghuluan Manggala Jonson, Kecamatan Batu Hampar kini terputus dari dunia luar. Jembatan penghubung urat nadi kehidupan warga rubuh total, menyisakan keprihatinan yang sudah berbulan-bulan ditanggung masyarakat.
Janji manis ternyata hanya tinggal kata-kata. Kondisi memprihatinkan terjadi di Kepenghuluan Manggala Jonson, Kecamatan Batu Hampar, Kabupaten Rokan Hilir. Jembatan vital yang selama ini menjadi penopang aktivitas ekonomi dan pendidikan warga kini rubuh total dan sama sekali tidak bisa dilalui. Akses yang dulu memudahkan langkah, kini berubah menjadi jurang yang memisahkan warga dari harapan.
Ambruknya jembatan ini bukan sekadar cerita tentang beton dan kayu yang runtuh. Ini adalah terputusnya urat nadi kehidupan masyarakat di pelosok Rohil. Petani tidak bisa lagi mengangkut hasil panen ke pasar, terpaksa menahan barang yang justru makin lama makin menurun nilainya. Anak-anak sekolah harus menempuh perjalanan jauh berputar memutar, mengorbankan waktu istirahat dan biaya yang tak sedikit. Sementara itu, akses darurat kesehatan menjadi lumpuh — saat sakit datang, warga tak bisa segera mendapat pertolongan.
Yang paling menyakitkan: ini bukan keluhan baru. Warga sudah berulang kali menyuarakan keresahan, sudah berulang kali datang permohonan perbaikan. Janji telah diucapkan, perhatian dikatakan akan datang. Namun hingga jembatan itu akhirnya rubuh total ke tanah, tidak ada satu pun tindakan nyata yang terlihat di lapangan. Penderitaan warga dibiarkan menumpuk di balik laporan-laporan yang menyebut keadaan baik-baik saja.
Menyikapi kondisi yang semakin mendesak, Wakil Ketua Aliansi Wartawan Indonesia (AWI) Kabupaten Rokan Hilir angkat bicara tegas. Ia mendesak Bupati Rokan Hilir untuk berhenti menerima laporan manis dari bawah dan turun sendiri melihat realitas di lapangan. “Kami minta Bupati Rohil turun langsung, lihat sendiri penderitaan warga Manggala Jonson. Jembatan ini sudah rubuh total, ini keadaan darurat!” tegasnya dengan nada tak ingin berkompromi.
AWI Rohil menegaskan, Pemkab tidak boleh lagi berlindung di balik alasan klasik soal anggaran dan perencanaan yang berlarut-larut. Saat nyawa dan kehidupan masyarakat terancam, yang dibutuhkan adalah gerakan cepat, bukan kajian bertele-tele. “Jangan sampai warga menilai pemerintah abai terhadap pelosok. Manggala Jonson juga bagian dari Rokan Hilir, rakyatnya juga membayar pajak. Mereka butuh jembatan, bukan janji,” tambahnya. AWI mendesak Dinas PUPR segera melakukan audit teknis dan menetapkan status tanggap darurat, serta meminta Inspektorat menelusuri kemungkinan kelalaian pemeliharaan selama ini.
Hingga berita ini ditayangkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Dinas PUPR maupun Bupati Rokan Hilir terkait kapan jembatan tersebut akan dibangun kembali. Sementara itu, warga Manggala Jonson terus menunggu, bukan menunggu kata-kata manis, melainkan tindakan nyata yang menyatukan mereka kembali dengan dunia luar.












