Laba Terkikis, Medco (MEDC) Menunggu Operasi Smelter Bersama Amman Mineral (AMMN)

Berita112 Dilihat

.CO.ID – JAKARTA.PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) masih menunggu tahap produksi dari smelter tembaga hasil usaha patungan (JV) dengan Amman Mineral International (AMMN).

Untuk diketahui, MEDC memiliki saham atas anak usaha AMMN, PT Amman Mineral Industri (AMIN), yang saat ini sedang membangun smelter tembaga dan pemurnian logam mulia di Benete, Sumbawa Barat, NTB.

Smelter ini berfungsi untuk memproses konsentrat tembaga dari tambang Batu Hijau dan proyek Elang milik Amman Mineral

Direktur dan Chief Administrative OfficerMedco Energi Internasional, Amri Siahaan mengatakan kerugian AMMN pada periode semester I-2025 berdampak signifikan pada penurunan laba perusahaan.

“Memang laba bersih kami tercatat sebesar 37 juta dolar AS, turun dari 201 juta dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh Amman Mineral International, yang mencatatkan kerugian bersih sebesar 31 juta dolar AS,” jelas Amri dalam acara Public Expose Live, Rabu (10/9/2025).

Meskipun demikian, kerugian Amman yang diungkap oleh Amri telah mengalami penurunan pada periode semester I-2025, jika dibandingkan dengan semester I-2024.

“Hal ini turun secara signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yaitu sebesar 99 juta dolar AS, atau padasetengah pertama2024,” kata Amri.

Kerugian ini disebabkan oleh keterlambatanpemakaiansmelter baru dan fasilitas pemurnian logam mulia, serta dimulainya fase ke-8 yang masih dalam tahap awal.

Fase 8 yang dimaksud adalah tahap transisi strategis yang dimulai pada 2025 untuk memperpanjang usia tambang hingga 2030 dengan cadangan sekitar 460 juta ton mineral, ditandai oleh pengupasan batuan penutup dan penambangan awal di area pit dengan kadar logam lebih rendah, serta akan berlanjut ke bagian tengah dan dalam untuk mencapai bijih dengan kadar lebih tinggi.

“Jadi di Amman itu dimulainya fase ke-8. Karena fase ke-8 baru mulai, tentunya kami belum bisa masuk ke dalam produksi,” jelas dia.

Selain keterlambatan produksi smelter, penurunan kinerja juga disebabkan oleh pengeluaran dana sekitar 8,9 juta dolar AS atau setara dengan 146,5 miliar rupiah (asumsi kurs 1 dolar AS = 16.460 rupiah) untuk melakukan eksplorasi lanjutan di Sumur Barramundi, di blok Beluga, Natuna Barat.

Amri menyebut pembiayaan ini masuk dalam biayalubang keringatau eksplorasi yang tidak menghasilkan minyak atau gas.

Perseroan juga mencatat biayalubang keringsebesar US$8,9 juta dari penggalian eksplorasi sumur Barramundi, di Beluga, Natuna,” katanya.

Medco pada periode ini juga menghadapi tren penurunan harga minyak global. Pada periode semester I-2025, perusahaan mencatatkan pendapatan kontrak penjualan migas sebesar 1,03 miliar dolar AS.

Dengan 61% atau sebesar US$637 juta atau 61,6% berasal dari penjualan ekspor, sedangkan sisanya sebesar US$396,19 juta diperoleh dari penjualan domestik.

“Ada juga penurunan realisasi harga minyak, turun 14 persen dari sekitar US$ 81 per barel di periode sebelumnya menjadi US$ 70 per barel, itu yang utama,” kata Amri.

Meskipun demikian, ekspansi sektor bisnis migas Medco akan terus didorong tahun ini, terlihat dari Capital Expenditure (Capex) atau belanja modal untuk migas sebesar 400 juta dolar AS.

Capex ini diperuntukkan untuk proyek gas di Blok D Natuna dan Koridor, serta kegiatan pengeboran di Oman Blok 60, dan juga beberapa kegiatanpengembangandi Bualuang (Thailand),” jelas Amri.

Di sektor ketenagalistrikan, capex sebesar 30 juta dolar AS akan digunakan untuk menyelesaikan proyek ekspansi listrik Batam.

Sementara itu, sepanjang semester pertama tahun ini, Medco mencatat laba yang ditujukan kepada pemilik entitas induk sebesar 37 juta dolar AS atau sekitar 608,88 miliar rupiah (asumsi kurs 16.456 rupiah). Nilai ini turun 81,5% menjadi 37 juta dolar AS jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 201 juta dolar AS.

Dari sisi pendapatan, MEDC juga mencatatkan penurunan 2,31% menjadi 1,13 miliar dolar AS setara 18,29 triliun rupiah dari 1,16 miliar dolar AS pada semester I-2024. Kemudian dari jumlah tersebut, pendapatan kontrak dengan pelanggan menyumbang 1,11 miliar dolar AS, turun dibandingkan 1,14 miliar dolar AS pada tahun sebelumnya. Pendapatan keuangan juga sedikit turun menjadi 23,63 juta dolar AS dari 24,30 juta dolar AS.