Lebaran Bukan Waktunya Bermaafan, Mari Kita Lakukan Ini…

banner 468x60

Forum Kota | Memaafkan seharusnya dilakukan setiap saat tanpa perlu menunggu momen Idul Fitri. Demkian halnya dengan menjelang Ramadhan, tidak ada syariat ataupun dalil khusus yang memerintahkannya, tujuan bermaaf-maafan jelang Ramadhan adalah untuk menghilangkan segala penyakit hati, khususnya selama melaksanakan shaum atau puasa.

Memaafkan adalah Ibadah Sepanjang Waktu, Memaafkan kesalahan orang lain adalah perbuatan mulia yang diperintahkan kapan saja, tidak terbatas hanya pada hari raya. Menunda maaf hingga Lebaran justru dikhawatirkan memupuk penyakit hati (dendam) terlalu lama.

banner 525x280

Hakikat Lebaran (Kembali Fitri) : Esensi Lebaran atau Idul Fitri adalah merayakan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa, meningkatkan ketaatan, dan menjadi pribadi yang lebih bersih (kembali fitri). Namun janganlah kita kemudian terjebak dalam euforia kemenangan. Bermegah-megahan yang cenderung dapat dipandang Sombong ataupun Flexing, sebab Yang Berhak Sombong Adalah Allah, dan Dosa Pertama yang dilakukan oleh Makhluk Allah adalah Kesombongan, yaitu Iblis sebagai pelakunya…

Selama kita berpuasa di bulan Ramadhan, kita sudah tau bagaimana rasanya lapar seharian, kehausan seharian, padahal kita bisa membeli dan menikmatinya, namun harus menunggu hingga waktu Maghrib datang. Lalu bagaimana dengan mereka yang sehari-harinya, pada bulan apapun kelaparan, meskipun hingga malam hari masih kesulitan dapat makan…?

Maka, marilah kita tengok kanan dan kiri, sepanjang jalan, para tetangga kita, sebelum kita berpesta, adakah di antara mereka yang kelaparan ?  Jangan menunggu datangnya bulan Ramadhan ataupun Lebaran untuk berbagi, jangan menunggu menjadi kaya ataupun banyak uang untuk bershadaqah, just do it, lakukan saja, kapan saja, pada siapa saja, di mana saja…

Tradisi vs Kewajiban : Tradisi maaf-maafan saat Lebaran (seperti halalbihalal) sangat kental di Indonesia dan dianggap sebagai momen yang baik untuk silaturahmi. Secara agama, memaafkan adalah anjuran utama, tetapi menjadikan Lebaran sebagai satu-satunya waktu untuk bermaafan tidak memiliki dasar kewajiban khusus.

Esensi Memaafkan: Yang terpenting bukanlah seremonial meminta maaf saat Lebaran, melainkan keikhlasan hati untuk memaafkan dan memperbaiki hubungan sesama manusia kapan saja.

Kesimpulan :

Lebaran tidak melarang bermaafan, justru menyempurnakan kegembiraan dengan hati yang bersih. Namun, Lebaran bukan satu-satunya waktu untuk saling memaafkan ; setiap hari adalah momen yang tepat untuk saling memberi maaf dan bersilaturahmi.

Berbagi dan Bershadaqah tidak perlu menunggu moment dan event-event tertentu, sebab bershadaqah tidak akan menjadikan kita miskin.

Taqabbalallahu minna wa minkum.  Semoga Allah Menerima Ibadahku dan Ibadamu. Aamiin…

Semarang, Tablod Fordep April 2010,

Bagus Budi Santoso

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *