Mahasiswa KKN Pelajari Rahasia Budidaya Jamur Tiram Berkualitas Bersama Pelaku UMKM Desa Wisata Bejalen

Bejalen, – Upaya menggali potensi lokal terus dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) melalui kunjungan dan wawancara bersama pelaku UMKM di Desa Wisata Bejalen, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Salah satu potensi yang menjadi perhatian adalah budidaya jamur tiram milik Bapak Hermawan dan Ibu Retno Ari Purwaningsih, yang telah ditekuni sejak tahun 2021.

Dari hasil wawancara tersebut, mahasiswa memperoleh pemahaman bahwa keberhasilan budidaya jamur tiram tidak hanya bergantung pada kualitas bibit, tetapi juga pada ketelitian dalam merawat setiap tahapan pertumbuhannya.
Bapak Wawan menjelaskan bahwa proses budidaya dimulai dari penggunaan baglog sebagai media tanam. Setiap baglog bernilai sekitar Rp2.500 per buah dan membutuhkan waktu kurang lebih 40 hari hingga mulai menghasilkan jamur yang siap dipanen. Selama masa pertumbuhan tersebut, kondisi kumbung harus dijaga agar memiliki tingkat kelembapan yang stabil.
“Jamur tiram sangat bergantung pada kondisi kumbung. Kalau terlalu kering, pertumbuhannya tidak maksimal dan jamur bisa cepat mengering. Sebaliknya, kalau terlalu lembap, jamur menjadi terlalu basah sehingga kualitasnya menurun,” jelas Bapak Hermawan.


Untuk menjaga kondisi tersebut, penyiraman dilakukan secara rutin setiap dua hingga tiga hari sekali. Selain air, Ibu Retno menambahkan eco enzyme ke dalam air penyiraman sebagai salah satu upaya mendukung pertumbuhan jamur agar tetap sehat dan produktif. Menurutnya, konsistensi dalam perawatan menjadi kunci utama menghasilkan panen yang berkualitas.
“Perawatan jamur membutuhkan ketelatenan. Kami menggunakan eco enzyme yang dicampurkan ke dalam air penyiraman agar pertumbuhan jamur lebih optimal. Yang terpenting adalah menjaga keseimbangan kelembapan kumbung karena itu sangat menentukan hasil panen,” tutur Ibu Retno Ari Purwaningsih.
Tidak hanya proses perawatan, waktu panen juga menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas jamur. Pemanenan dilakukan dua kali dalam sehari, yakni pada pukul 05.00 WIB dan 15.00 WIB. Jadwal tersebut diterapkan agar jamur dipanen pada kondisi terbaik, sehingga teksturnya tetap segar, tidak terlalu tua, dan memiliki nilai jual yang tinggi saat dipasarkan.
Di sisi lain, budidaya jamur tiram juga tidak lepas dari tantangan. Salah satu kendala yang sering dihadapi adalah serangan hama rengit, yang umumnya muncul akibat kondisi kumbung terlalu lembap atau sisa panen yang tidak segera dibersihkan. Hama tersebut dapat menyebabkan munculnya ulat pada jamur sehingga menurunkan kualitas hasil panen. Untuk mengatasinya, Bapak Wawan melakukan pengendalian menggunakan pestisida Decis sesuai kebutuhan serta menjaga kebersihan kumbung secara rutin.
Selain menghasilkan produk utama berupa jamur segar, usaha ini juga menerapkan prinsip pemanfaatan limbah. Baglog bekas dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk kompos, sedangkan jamur yang tidak memenuhi standar kualitas pasar dimanfaatkan sebagai pakan ikan tambak. Langkah tersebut menjadi salah satu bentuk pengelolaan budidaya yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Melalui kegiatan wawancara ini, mahasiswa KKN tidak hanya mempelajari teknik budidaya jamur tiram, tetapi juga memahami bahwa keberhasilan sebuah UMKM lahir dari perpaduan antara pengetahuan, ketelitian, dan konsistensi dalam setiap proses produksi. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi sekaligus referensi bagi mahasiswa maupun masyarakat yang ingin mengembangkan budidaya jamur tiram sebagai usaha berbasis potensi lokal di Desa Wisata Bejalen. **” Tim KKN