Makan Cepat vs Lambat, Mana yang Lebih Sehat?

Kesehatan133 Dilihat

SURAT KABAR – PEMIKIRAN RAKYAT –Dalam sebuah penelitian yang melibatkan lebih dari 4.000 orang Jepang paruh baya, terungkap bahwa mereka yang makan dengan cepat cenderung memiliki berat badan lebih tinggi, serta mengalami kenaikan berat badan paling signifikan sejak usia 20 tahun. Fenomena ini menyoroti perbedaan yang jelas antara orang yang makan lambat dan mereka yang memakan makanan dalam hitungan menit.

Jika Anda pernah duduk se meja dengan seseorang “pemakan pelan” (slow eater), mungkin Anda tahu rasanya: menunggu setiap suapan diangkat perlahan, dikunyah dengan penuh kesabaran, seperti kura-kura Galapagos tua yang sedang menikmati santapan terakhirnya. Bagi sebagian orang, pemandangan ini bisa terasa seperti menonton film yang alurnya tersendat. Sebaliknya, “pemakan cepat” (fast eater) bisa membuat Anda terkejut—piring mereka sudah kosong ketika Anda baru saja menyantap suapan kedua.

Kecepatan seseorang dalam makan ternyata bukan sekadar kebiasaan yang sepele. Menurut Dr. Jessica Beh, dokter keluarga di DTAP@Robertson, orang yang termasuk dalam kategori makan lambat biasanya menghabiskan waktu lebih dari 30 menit untuk menyelesaikan satu kali makan. Sementara itu, pemakan cepat bisa menyelesaikan porsi besar dalam waktu kurang dari 20 menit. Lamanya waktu makan, katanya, memang dipengaruhi oleh banyak faktor: kebiasaan, budaya, bahkan kondisi kesehatan.

Bagi sebagian orang yang makan perlahan, makan pelan adalah pilihan sadar untuk menikmati setiap rasa. Namun, ada juga yang makan lambat karena sering terganggu, seperti menonton televisi, bekerja, atau berbicara sambil makan. Masalah gigi, gigi palsu yang tidak pas, atau kondisi kesehatan tertentu juga dapat membuat proses mengunyah menjadi lebih lama.

Sementara itu, pengguna makan cepat sering kali dipengaruhi oleh gaya hidup yang sibuk. Mereka mungkin adalah pekerja dengan jadwal ketat, siswa yang terburu-buru, atau orang tua yang hanya memiliki sedikit waktu untuk makan. Dr. Beh menambahkan, kebiasaan ini bahkan bisa terbentuk sejak kecil, ketika anak-anak sering didorong untuk segera menyelesaikan makanan. Tekanan emosional seperti stres atau kecemasan juga dapat memicu seseorang makan lebih cepat, sebagai bentuk pelarian dari perasaan tidak nyaman.

Rasa lapar yang sudah memuncak juga berperan besar. “Ketika seseorang menunggu sampai benar-benar lapar baru makan, sinyal alami tubuh bisa terganggu. Akibatnya, mereka makan cepat untuk segera memuaskan rasa lapar,” kata Dr. Beh. Kebiasaan makan—baik cepat maupun lambat—lama-kelamaan akan melekat dan menjadi pola yang sulit diubah.

Dari segi kesehatan, penelitian menunjukkan bahwa orang yang makan terlalu cepat cenderung mengalami kenaikan berat badan yang lebih besar dibandingkan mereka yang makan lambat atau sedang. Studi yang mengikuti 529 pria selama delapan tahun menemukan bahwa kenaikan berat badan dari para pemakan cepat lebih dari dua kali lipat dibandingkan kelompok lainnya. Alasannya berkaitan dengan kerja hormon dalam tubuh. Setelah makan, usus akan mengurangi produksi ghrelin—hormon yang memicu rasa lapar—dan melepaskan hormon kenyang. Proses ini membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk memberi sinyal ke otak bahwa tubuh sudah cukup makan. Jika Anda menghabiskan makanan sebelum sinyal itu tiba, kemungkinan besar kalori yang dikonsumsi sudah berlebih.

Namun, makan terlalu lambat juga tidak tanpa masalah. Selain risiko dianggap sebagai “teman makan yang membosankan”, kebiasaan ini dapat menyebabkan asupan gizi tidak cukup atau pola makan menjadi tidak teratur. Mengunyah terlalu lama juga bisa menyebabkan Anda menelan lebih banyak udara, memicu kembung, dan membuat perut terasa tidak nyaman.

Makan terburu-buru juga memiliki konsekuensi lain. Ketika makanan tidak dikunyah cukup halus, lambung harus bekerja lebih keras untuk memecah potongan-potongan besar, sehingga pencernaan menjadi lebih berat. Pemakan cepat juga berisiko mengalami penyakit refluks gastroesofageal atau GERD, yaitu kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan dan menyebabkan sensasi panas di dada (heartburn). Menelan makanan dalam jumlah besar secara cepat dapat meningkatkan tekanan di perut, membuat asam lebih mudah naik.

Tidak hanya itu, risiko tersedak juga meningkat jika makanan tidak dikunyah dengan baik. Meskipun tidak ada aturan baku, Dr. Beh menyarankan untuk mengunyah setiap suapan sekitar 20–30 kali, atau hingga 40 kali untuk makanan yang lebih keras seperti kacang dan daging. Tujuannya adalah agar makanan lebih mudah dicerna dan tubuh memiliki waktu untuk mengenali rasa kenyang.

Keseimbangan

Mengubah kecepatan makan sebenarnya bukanlah hal yang mustahil. Bagi para pemakan cepat yang ingin melambat, coba nikmati rasa, tekstur, dan aroma makanan secara sadar. Potong makanan menjadi bagian kecil dan kunyah lebih lama. Menggunakan sumpit, minum air di antara suapan, atau terlibat dalam obrolan ringan saat makan bersama bisa membantu memperlambat ritme.

Sebaliknya, bagi mereka yang makan lambat dan ingin sedikit mempercepat, usahakan fokus saat makan tanpa gangguan ponsel atau televisi. Ambil porsi yang lebih besar dan gunakan sendok yang lebih besar. Menetapkan target waktu makan sekitar 30 menit dapat membantu melatih tubuh untuk beradaptasi. Pastikan makanan berada pada suhu yang nyaman agar tidak menghambat proses makan.

Pada akhirnya, baik makan cepat maupun lambat memiliki sisi positif dan risiko masing-masing. Kuncinya adalah keseimbangan—memberi tubuh cukup waktu untuk mengenali rasa kenyang, tanpa membuat makan menjadi maraton yang tak berujung atau sprint yang membahayakan pencernaan. Seperti banyak hal dalam hidup, makan pun membutuhkan ritme yang pas: tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat, tapi cukup untuk memberi ruang bagi tubuh dan pikiran menikmati setiap suapan.***

(Naomi – PKL Polban, Huminca/”PR”)