Xiaomi, yang selama ini dikenal sebagai perusahaan teknologi, kini serius terjun ke industri otomotif listrik. Perusahaan asal Tiongkok itu telah mengirimkan sebanyak 81.302 unit kendaraan pada kuartal II 2025 dan total mencapai 157.000 unit jika digabungkan dengan semester pertama tahun ini.
Sedan SU7 dan SUV YU7 yang menjadi model andalan menarik perhatian berkat kinerja dan popularitasnya. Saat ini, permintaan sangat tinggi hingga beberapa konsumen harus menunggu lebih dari setahun.
Dilaporkan melalui Antara News, menurut laporan Bloomberg, divisi manufaktur mobil Xiaomi mengalami kerugian sekitar 300 juta yuan (sekitar Rp 667 miliar) pada kuartal terakhir. Namun, terdapat optimisme karena divisi tersebut diprediksi akan meraih keuntungan pada paruh kedua 2025.
Selain itu, Xiaomi telah membuka lowongan untuk pusat riset dan pengembangan (R&D) baru di Eropa. Beberapa rekrutan penting antara lain adalah mantan insinyur BMW serta tim Formula 1 Williams dan Sauber seperti Rudolf Dittrich, Dusan Sarac, dan Jannis Hellwig.
Dengan kesiapan tersebut, Xiaomi diperkirakan akan meluncurkan model SU7 dan YU7 terlebih dahulu di Eropa. Tidak hanya itu, perusahaan juga sedang mengembangkan model ketiga bernama YU9 SUV besar berbahan bakar hybrid (EREV) dengan mesin 1,5 liter turbocharged ditambah dua motor listrik.
Xiaomi akan menghadapi persaingan ketat di Eropa, khususnya dari merek seperti BYD dan Tesla. Momentum positif di Tiongkok menjadi dasar yang kuat bagi Xiaomi untuk memperluas jangkauan mobilnya hingga ke Eropa pada 2027.
Dengan perangkat produk andalan SU7 dan YU7, didukung oleh pusat R&D di Eropa, Xiaomi siap menantang merek-merek besar di pasar mobil listrik global. Semua ini menunjukkan bahwa perusahaan sedang merancang strategi jangka panjang dengan sangat matang.(*)
