SKK Migas Selesaikan Studi CCS di Proyek LNG Abadi Masela

Forum Kota32 Dilihat

SKK Migas dan INPEX Masela Ltd. telah menyelesaikan analisis teknisCarbon Capture and Storage(CCS) dalam proyek lapangan gas Abadi Blok Masela. Studi CCS ini bertujuan untuk memastikan kesiapan permukaan bawah (subsurface) sebelum teknologi tersebut diterapkan dalam proyek migas ini.

Wakil Eksploitasi SKK Migas Taufan Marhaendrajana mengatakan penyelesaian studi ini merupakan langkah krusial dalam merancang teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon yang sesuai dengan kondisi geologi wilayah Maluku. “Temuan dari studi ini menjadi dasar penting untuk tahap berikutnya proyek agar tetap sesuai dengan prinsip keberlanjutan dan perlindungan lingkungan,” ujarnya dalam pernyataan tertulis, Senin, 28 Oktober 2025.

Penelitian ini dilakukan oleh SKK Migas dan INPEX bekerja sama dengan Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri Institut Teknologi Bandung (LAPI ITB). Taufan menyebutkan bahwa studi CCS ini merupakan bagian dari komitmen Proyek Abadi dalam mendukung targetNet Zero Emissionsekaligus memperkuat kompetitif proyek pada tingkat internasional.

Ia menjelaskan bahwa teknologi CCS berfungsi untuk menangkap dan menyimpan emisi karbon dioksida (CO) dari proses produksi gas, sehingga operasi lapangan migas tetap ramah lingkungan dan dapat berkelanjutan. Setelah penyelesaian studi tersebut, INPEX kini siap melanjutkan proyek ke tahap berikutnya.Front End Engineering Design (FEED).

Kepala Proyek Eksekutif INPEX Masela Ltd., Jarrad Blinco, menyatakan bahwa studi ini mencerminkan komitmen perusahaan dalam mendukung transisi energi bersih. “Proyek LNG Abadi akan menjadi proyek pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi CCS, yang tidak hanya mengurangi emisi karbon tetapi juga menjamin pasokan energi bagi negara,” ujar Blinco.

Studi CCS yang dimulai pada tahun 2022 bertujuan untuk mengevaluasi kesiapan lapisan bawah permukaan dan memperkirakan kapasitas penyimpanan CO. Penelitian lanjutan pada periode 2024–2025 mencakup analisis laboratorium, pemodelan geomekanika 3D, serta simulasi 4D.coupled flow-geomechanics untuk memahami risiko dan perilaku penyimpanan karbon di bawah permukaan tanah.

Sebelumnya, pemerintah mengumumkan dimulainya tahap FEED untuk Proyek Lapangan Gas Abadi Blok Masela di Laut Arafura pada 28 Agustus 2025. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menyampaikan bahwa pemerintah sepenuhnya mendukung percepatan proyek ini dengan mempermudah regulasi dan proses perizinan agar semua tahapan selesai sesuai jadwal.

Blok Masela dioperasikan oleh INPEX Masela Ltd., yang menunjuk PT Adhi Karya (Persero) Tbk sebagai kontraktor utama tahap FEED bersama dua perusahaan EPC internasional, KBR dan Samsung Engineering & Construction.

Proyek strategis nasional ini direncanakan mampu memproduksi 9,5 juta ton LNG setiap tahun, 150 MMSCFD gas yang dialirkan melalui pipa, serta 35 ribu barel kondensat per hari. Fasilitas LNG darat juga akan dilengkapi dengan teknologi CCS untuk mengurangi emisi karbon, sekaligus mendukung tujuan pengurangan emisi nasional.

Menurut Yuliot, proyek ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan energi, mengurangi ketergantungan terhadap impor, serta memberikan manfaat langsung kepada masyarakat setempat. “Proyek Masela harus mampu menciptakan peluang kerja, meningkatkan kemampuan pelaku usaha lokal, dan memastikan warga sekitar benar-benar merasakan manfaatnya,” katanya.

Dilansir dari situs Kementerian ESDM, Blok Masela mencakup luas area sekitar 4.291,35 km² yang terletak di Laut Arafura, sekitar 800 km arah timur Kupang, Nusa Tenggara Timur atau sekitar 400 km utara kota Darwin, Australia, dengan kedalaman laut berkisar antara 300 hingga 1.000 meter.

Melalui proyek ini, Blok Masela berpotensi menghasilkan gas sebesar 1.600 juta kubik standar per hari (MMSCFD) atau setara dengan 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 juta kubik standar per hari gas yang dialirkan melalui pipa, serta sekitar 35 ribu barel kondensat per hari, dengan rencana operasional pada kuartal keempat tahun 2029.

LNG adalah gas alam yang telah diproses dengan cara didinginkan hingga mencapai suhu -162 derajat Celsius, sehingga berubah dari bentuk gas menjadi cair dan volumenya berkurang sekitar 600 kali lipat. Proses ini memungkinkan gas alam disimpan dan didistribusikan dengan lebih mudah.

LNG digunakan sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik dan bahan dasar dalam industri. Selain itu, penggunaan LNG mampu mengurangi emisi CO2 sekitar 25 persen, emisi NOX turun 90 persen, serta tidak menghasilkan emisi sulfur, debu, atau partikel lainnya.

Selain digunakan dalam pengembangan dan produksi gas bumi di Wilayah Blok Masela, pembangunan pelabuhan kilang gas alam cair juga bertujuan untuk menyediakan sarana dan prasarana, termasuk memudahkan pengiriman barang, suku cadang, peralatan, serta hasil olahan gas bumi.

Sementara itu, kontrak Blok Masela telah ditandatangani sejak 16 November 1998 dan seharusnya berakhir pada November 2028 atau selama 30 tahun. Namun, pihak kontraktor dari kontrak kerja sama Blok Masela telah memperoleh tambahan waktu tujuh tahun serta perpanjangan kontrak selama 20 tahun, sehingga kontrak akan berakhir pada 15 November 2055.