Saat Asap Menghapus Sekolah, Festival Tetap Berdendang: DI MANA PRIORITAS KITA?

banner 636x380

Oleh: Roni Leriang

 

banner 636x380

LANGIT Kabupaten TD kini tak lagi jernih. Kabut asap menyelimuti, membakar paru-paru, membatasi pandangan. Keputusan diambil: kegiatan belajar mengajar diliburkan sementara. Alasan jelas _ udara tak lagi sehat untuk anak-anak. Namun di saat yang sama, festival tetap digelar, tetap diramaikan, tetap dihadiri banyak orang. Rakyat bertanya: jika udara berbahaya bagi murid, mengapa aman untuk pesta?

Logika sederhana yang tak dijawab. Jika kabut asap cukup berbahaya sehingga anak-anak tak boleh bernapas di lingkungan sekolah — bagaimana mungkin aman bagi ratusan warga yang berkumpul di lapangan terbuka? Apakah asap membedakan seragam dan pakaian bebas? Apakah racun di udara menyingkir saat musik mulai berbunyi? Pertanyaan ini bukan curiga — ini akal sehat yang menuntut jawaban.

Rencana memang sudah disusun sejak 2025. Itu fakta yang tak bisa disangkal. Tapi bencana alam tak pernah melihat kalender. Kebijakan yang bijak tahu kapan menepati jadwal, dan kapan menunda demi keselamatan. Mempertahankan acara semata karena sudah direncanakan — itu kaku, bukan teguh. Itu mengutamakan kemeriahan di atas kesehatan warga.

Masa depan daerah ini ada di ruang kelas, bukan di panggung hiburan. Anak-anak yang diliburkan adalah generasi yang akan menjaga TD kelak. Jika mereka dilindungi dari asap — langkah itu benar. Tapi perlindungan itu tak boleh berhenti di pagar sekolah. Jika warga berkumpul di udara yang sama tanpa peringatan, maka perlindungan itu tidak adil dan tidak konsisten.

Keselamatan tidak boleh ada dua kelas. Tidak boleh ada satu aturan untuk pelajar, dan aturan lain untuk acara yang meramaikan nama daerah. Udara yang sama dihirup semua orang. Jika berbahaya bagi satu, berbahaya bagi semua. Membedakan perlakuan di tengah bahaya yang sama — menimbulkan keraguan tentang apa yang sebenarnya diutamakan.

Kebijakan yang jujur tak takut mengatakan: “Kita tunda, karena nyawa lebih berharga dari kemeriahan.” Itu bukan kegagalan — itu tanda kepemimpinan yang bertanggung jawab. Memaksakan acara berjalan di tengah kabut asap bukan keteguhan — itu mempertaruhkan kesehatan warga demi nama yang terlihat bagus di laporan.

Pada akhirnya, sejarah tak akan mencatat siapa yang menggelar festival tepat waktu. Tapi akan diingat siapa yang melindungi rakyat saat bahaya datang. Kabut asap akan berlalu, tapi keraguan tentang prioritas ini akan tertinggal. Jadwal bisa diubah, acara bisa diulang — tapi kesehatan yang rusak tak bisa dikembalikan dengan hiburan apa pun.

“Jika udara tak layak untuk anak-anak belajar — ia juga tak layak untuk siapa pun berpesta. Keselamatan tak boleh punya pengecualian.”

banner 636x380