Forumkota.id | NTB — Rektor Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor, Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi, MA, menekankan pentingnya persatuan umat, penguatan akhlak Islam, serta pemaknaan ilmu pengetahuan sebagai fondasi peradaban dalam sebuah seminar ilmiah yang digelar di Dawood Conference Room, Attarkiah Islamiah Institute, Thailand, Senin (19/1/2026).
Dalam forum akademik tersebut, TGB menyampaikan bahwa hubungan antar manusia tidak ditentukan oleh jarak geografis, melainkan oleh keselarasan hati, pemikiran, dan visi yang sama.
“Pengalaman saya bersama Dr. Faisal dan beberapa tokoh lain menunjukkan bahwa meskipun baru bertemu, ikatan batin dapat terbangun kuat. Ini sejalan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW tentang persatuan hati di antara manusia,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa persatuan umat Islam lintas negara harus terus dirawat, mengingat kesamaan iman dan tujuan jauh lebih besar dibandingkan perbedaan budaya dan wilayah.
“Orang-orang beriman adalah saling bersaudara dan saling menguatkan, baik di Indonesia, Thailand, maupun di belahan dunia lainnya,” katanya.
Dalam pemaparannya, TGB juga menyoroti nilai *ta’awun* atau saling menolong sebagai salah satu pilar kejayaan peradaban Islam. Menurutnya, kemajuan umat Islam pada masa lalu tidak terlepas dari semangat kolaborasi, pelayanan, dan saling melengkapi dalam ilmu serta amal.
“Nilai ta’awun sebagai fondasi peradaban Islam masih sangat relevan untuk terus dihidupkan dalam konteks masyarakat modern,” ujarnya.
Selain itu, ia menggarisbawahi pentingnya etika Islam yang diwujudkan melalui tindakan nyata. Salah satu contohnya, menurut dia, tercermin dari pemutaran lagu kebangsaan Indonesia sebelum lagu kebangsaan Thailand dalam kegiatan tersebut.
“Ini adalah perwujudan ajaran Islam yang menempatkan adab dan perbuatan nyata di atas sekadar retorika. Kebaikan yang diwujudkan melalui tindakan dapat diterima secara universal, melampaui sekat agama dan budaya,” katanya.
TGB juga mengulas metode dakwah Nabi Muhammad SAW yang lebih banyak ditunjukkan melalui keteladanan akhlak dibandingkan ceramah verbal.
“Sebagian besar kehidupan Nabi diisi dengan praktik akhlak mulia yang konsisten, sementara penyampaian lisan dilakukan secara bijak agar pesan benar-benar membekas,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dakwah Rasulullah di Madinah berlangsung secara sederhana namun efektif, antara lain melalui pembiasaan salam, berbagi makanan dengan tetangga, menjaga silaturahmi, serta menghidupkan ibadah malam.
Dalam konteks keilmuan, TGB menjelaskan bahwa ilmu dalam Islam tidak berhenti pada penguasaan teori. Ia memaparkan tiga tahapan ilmu, yakni *ad-dhilawatu* (membaca dan mencari pengetahuan), *ad-tazkiyatu* (penyucian dan penghayatan diri), serta *ad-takliyatu* (pengamalan ilmu).
“Ilmu yang tidak diamalkan dan tidak membentuk akhlak hanya akan menjadi pengetahuan yang kosong,” tegasnya.
Mengakhiri pemaparannya, ia mengutip ayat Al-Qur’an *“Innama yakhsyallaha min ‘ibadihil ‘ulama”* dan menegaskan bahwa ukuran keilmuan sejati tercermin pada perilaku dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
“Ukuran ilmu bukanlah gelar akademik, melainkan bagaimana ilmu itu melahirkan khashyah dan tercermin dalam akhlak,” pungkasnya.













