BENDERA BERKIBAR, NAMUN RAKYAT MENJADI TUMBAL

Forum Kota, Opini954 Dilihat
banner 636x380

Oleh Roni Leriang

Forumkota.id

banner 636x380

 

SANGPENGUASA MENELAN Kemerdekaan.

Kemerdekaan bukan sekadar deretan upacara, bukan pula sekadar kain merah-putih yang berkibar tertiup angin dengan gagah. Kemerdekaan bukanlah sekadar tanggal yang dicetak tebal di kalender, lalu dirayakan dengan hiasan dan sorak-sorai sesaat. Kemerdekaan sejati itu hidup dalam kenyataan, terasa di setiap denyut kehidupan rakyat, bukan sekadar tampil megah di atas lembaran kertas dan panggung seremonial. Makna kemerdekaan tak terukur dari kemegahan perayaan, melainkan dari seberapa nyata kebebasan dan kesejahteraan dirasakan oleh setiap warga negeri ini.

 

Kemerdekaan yang sesungguhnya lahir ketika pemimpin benar-benar memikirkan nasib rakyat yang dipercayakan kepadanya. Bukan sibuk memperindah penampilan di hadapan kamera, melainkan sibuk menata keadilan di tengah masyarakat. Bukan sibuk mengumpulkan kekayaan pribadi, melainkan memastikan setiap warga mendapat hak yang sama. Di sinilah letak kemerdekaan yang sejati: saat pemimpin merasa perih ketika rakyatnya terluka, dan merasa lapar ketika rakyatnya belum makan. Kemerdekaan sejati tumbuh dari kepedulian tulus, bukan sekadar janji manis yang terucap di panggung perayaan.

 

Lalu, buat apa kita kibarkan bendera dengan penuh khidmat dan penghormatan, jika di balik tiang bendera itu korupsi merajalela tanpa rasa bersalah? Buat apa kita lantangkan lagu kebangsaan dengan penuh semangat, jika nyanyian itu belum mampu menggugah hati para penguasa yang justru merampas hak-hak rakyatnya sendiri? Kemerdekaan menjadi hampa, jika keadilan belum pernah benar-benar menjadi kenyataan. Merah putih berkibar megah, namun kehormatan negeri justru ternoda oleh ulah mereka yang memegang tampuk kekuasaan.

 

Buat apa merayakan kemerdekaan, jika rakyat kecil justru dijadikan tumbal bagi keserakahan para koruptor? Rakyat yang seharusnya menjadi pemilik negeri ini, justru menjadi korban atas kelicikan mereka yang memegang kekuasaan. Mereka yang seharusnya melindungi, justru menjadi perusak; mereka yang seharusnya menjadi pelayan, justru menjadikan rakyat sebagai alat demi keuntungan pribadi dan golongannya. Kemerdekaan yang seharusnya membebaskan, kini justru terasa menjadi belenggu bagi mereka yang tak bersuara.

 

Bendera memang masih berkibar, namun maknanya perlahan memudar tergerus keserakahan. Upacara tetap berjalan dengan tertib, namun jiwa kemerdekaan itu perlahan meninggalkan bumi pertiwi. Sebab kemerdekaan bukanlah tentang seberapa megah panggung perayaan, melainkan seberapa nyata keadilan dirasakan oleh rakyat kecil yang tak bersuara. Jika rakyat masih sengsara di hari kemerdekaan, maka perayaan itu tak lebih dari sekadar sandiwara yang penuh kepalsuan. Janganlah kita terbuai oleh kemegahan yang tampak, sementara kenyataan pahit masih dirasakan oleh rakyat yang sesungguhnya.

 

Kemerdekaan sejati belum lahir sepenuhnya, selama masih ada rakyat yang menangis karena kelaparan, selama masih ada rakyat yang tertindas karena ketidakadilan. Maka janganlah kita bangga hanya dengan kibar bendera dan lantang lagu. Banggalah ketika rakyat hidup sejahtera, ketika keadilan tegak lurus tanpa pandang bulu, dan ketika pemimpin benar-benar mengabdi — bukan berkuasa — atas nama rakyat. Saat itulah kemerdekaan kita benar-benar bermakna, saat itulah merah putih benar-benar berkibar di atas negeri yang adil dan makmur.***

banner 636x380