Aroma sabun mandi bercampur dengan sedikit aroma cat tembok dari bangunan baru tercium di lorong asrama.
Suara sandal jepit yang beradu dengan lantai terdengar berlarian menuju kamar masing-masing.
Di sudut musala, seorang anak mengatur sajadah sambil sesekali melirik ke luar, menunggu azan Magrib.
Di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 6 Jakarta, menjelang pukul 17.00 selalu menjadi momen sibuk namun penuh keteraturan; waktu bersiap untuk salat berjemaah.
SRMP 6 di kawasan Bambu Apus Jakarta Timur adalah salah satu dari 100 sekolah rakyat yang diresmikan pemerintah sebulan lalu.
Program inisiatif Presiden Prabowo menyebar ke berbagai daerah dengan lebih dari 9.000 siswa dari berbagai latar belakang.
Misi mereka jelas, memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan yang merata, sambil membentuk karakter generasi muda agar mandiri dan berdaya.
Dan perjalanan ini masih berlanjut, berdasarkan data Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, pada bulan September mendatang akan dibuka kembali 59 sekolah rakyat tambahan di sejumlah wilayah.
Di SRMP 6 Jakarta, 75 siswa kini menyebut asrama ini sebagai rumah. Ada Galih Yahdan Atlantik dari Bambu Apus, Kamila dari Klender, dan Glen dari Kalibaru. Pagi hingga siang mereka isi dengan belajar di kelas.
Sore hingga malam, waktu berlalu antara bermain, membaca, mengaji, atau sekadar duduk bercengkrama.
Kamila sering memanfaatkan jeda mengaji untuk menatap foto bersama ibunya, cara sederhana melepas rindu yang datang diam-diam.
Berbeda dengan sekolah biasa, tidak ada tugas rumah yang dibawa pulang.
Semua pembelajaran dan pembinaan dilakukan di sini, di bawah pengawasan 16 tenaga pengajar, wali asuh, dan wali asrama.
Saat waktu makan tiba, mereka duduk di meja panjang sambil berbagi cerita.
Saat jadwal piket kebersihan tiba, semua ikut terlibat, mulai dari menyapu halaman, teras asrama hingga merapikan kamar masing-masing.

Kehadiran ini menjadi latihan kemandirian yang perlahan berakar.
Awalnya, jadwal kunjungan keluarga ditetapkan seminggu sekali. Namun setelah evaluasi, pengurus memutuskan menjadi sebulan sekali.
Alasannya bukan hanya untuk menghemat biaya perjalanan orang tua, tetapi juga untuk melatih mental anak-anak agar lebih mandiri.
Rindu memang terasa lebih panjang, tapi di sela-sela jarak itu, mereka belajar mengandalkan diri sendiri dan saling menjaga satu sama lain.
Di tengah keramaian Jakarta, SRMP 6 menjadi oasis pendidikan; tempat tawa, doa, dan mimpi anak-anak bersatu. Dari ruang-ruang ini, mereka melangkah menuju jalan baru yang diharapkan akan membawa masa depan yang lebih cerah.













