Kadis Pertanian SBT: Cetak Sawah 1.362 Hektare Mulai Berjalan, Dorong Swasembada Beras dan Kesejahteraan Petani

Forum Kota1 Dilihat
banner 468x60

 

 

banner 525x280

BULA, Seram Bagian Timur Provinsi Maluku – Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Seram Bagian Timur, Sofyan Waraia, menyatakan program cetak sawah seluas 1.362 hektare di Seram Bagian Timur (SBT) mulai berjalan dan menjadi langkah strategis dalam meningkatkan produksi beras serta kesejahteraan petani di daerah tersebut.

Saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Rabu (3/6/2026), Sofyan Waraia menjelaskan bahwa program cetak sawah yang dilaksanakan oleh TNI itu telah dimulai sekitar sepekan lalu dan saat ini telah mencapai progres awal sekitar 10 hektare.

Seram Bagian Timur mendapatkan alokasi cetak sawah seluas 1.362 hektare yang tersebar di sembilan titik kawasan transmigrasi. Hingga saat ini pekerjaan sudah berjalan dengan realisasi sekitar 10 hektare,” ujarnya.

Program tersebut tersebar di kawasan transmigrasi Kecamatan Bula Barat dan Kecamatan Werinama. Sejumlah lokasi yang telah mulai dikerjakan antara lain Desa Sumber Agung, Jakarta Baru, Waeketam Baru, Banggoi, Pancorang, dan Waekudal. Sementara Desa Aki Jaya, Waematakabo, Waesamet, dan Rukun Jaya masih dalam tahap mobilisasi alat berat.

Menurut Sofyan, seluruh titik pekerjaan ditargetkan mulai beroperasi dalam pekan ini sehingga progres cetak sawah dapat meningkat secara signifikan.

Hari ini masih dilakukan mobilisasi peralatan di beberapa lokasi. Kami optimistis dalam minggu ini seluruh titik sudah mulai dikerjakan,” katanya.

Sofyan menegaskan, program cetak sawah bertujuan memperluas lahan pertanian produktif guna meningkatkan produksi pangan, khususnya beras, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Saat ini kebutuhan beras masyarakat Seram Bagian Timur mencapai lebih dari 14.000 ton per tahun. Namun produksi daerah baru berkisar 2.000 hingga 3.000 ton per tahun atau sekitar 18,5 persen dari total kebutuhan.

Jika lahan baru dapat ditanami secara optimal, produksi beras akan meningkat dan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan serta kesejahteraan petani,” jelasnya.

Pemerintah berharap program cetak sawah dan optimalisasi lahan yang sedang dijalankan dapat secara bertahap meningkatkan kemampuan daerah dalam memenuhi kebutuhan beras masyarakat sendiri.

Pelaksanaan program melibatkan berbagai pihak, di antaranya Kementerian Pertanian, Kementerian Pekerjaan Umum melalui sektor irigasi, Pemerintah Provinsi Maluku, Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Timur, Dinas Transmigrasi, TNI, serta tim pengawasan dan pendamping teknis.

Selain itu, tim dari Universitas Pattimura turut mendukung melalui kegiatan survei, pendampingan teknis, dan penyelesaian berbagai persoalan di lapangan.

Kami bekerja secara terpadu agar program ini berjalan lancar dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ungkap Sofyan.

Dalam pelaksanaannya, sempat terjadi persoalan terkait klaim kepemilikan lahan di Desa Jakarta Baru. Namun masalah tersebut berhasil diselesaikan melalui musyawarah yang melibatkan seluruh pihak terkait.

Setelah dilakukan pengecekan dan penjelasan, hak kepemilikan lahan tetap milik yang bersangkutan. Pemilik lahan akhirnya mendukung program ini sehingga pekerjaan dapat dilanjutkan,” katanya.

Sofyan menambahkan, masyarakat pada umumnya menyambut baik program cetak sawah karena membantu petani membuka lahan tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk menyewa alat berat.

Pemerintah tidak hanya fokus pada pembukaan lahan baru, tetapi juga menyiapkan dukungan lanjutan berupa bantuan benih, alat dan mesin pertanian (alsintan), serta pembangunan dan perbaikan jaringan irigasi.

Selain program cetak sawah, pemerintah pusat juga akan melaksanakan program optimalisasi lahan lebih dari 1.000 hektare untuk mengaktifkan kembali lahan pertanian yang selama ini tidak produktif.

Kami optimistis dengan dukungan semua pihak, produksi beras Seram Bagian Timur akan terus meningkat. Target kami adalah memenuhi kebutuhan beras masyarakat daerah terlebih dahulu, sebelum nantinya berkontribusi lebih luas terhadap ketahanan pangan di Maluku,” tutup Sofyan Waraia. ***  M.  Lausepa.

banner 636x380

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *