Kepala Dinas Warda Rumadan: Ayah Wajib Hadir, DPPKB Seram Bagian Timur Perkuat Peran Ayah dan Percepat Pencegahan Stunting

Forum Kota0 Dilihat

 

BULA .SERAM BAGIAN TIMUR PROVINSI MALUKU – Momentum Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-32 yang jatuh pada 29 Juni 2026 dimanfaatkan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Seram Bagian Timur untuk memperkuat peran ayah dalam pengasuhan anak sekaligus mempercepat upaya pencegahan stunting melalui berbagai program yang menyentuh langsung keluarga.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Seram Bagian Timur, Warda Rumadan, S.Hi., saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (30/6/2026).

Menurut Warda Rumadan, tema nasional Harganas tahun ini, “Ayah Wajib Hadir”, bukan sekadar slogan seremonial, melainkan sebuah gerakan nasional yang bertujuan membangun kesadaran bahwa ayah memiliki peran yang sangat penting dalam tumbuh kembang anak.

Selama ini peran ayah sering dipandang hanya sebagai pencari nafkah. Padahal ayah juga merupakan figur utama dalam pendidikan karakter, pendamping emosional, sekaligus pelindung anak di dalam keluarga. Kehadiran ayah secara fisik maupun emosional sangat menentukan masa depan anak,” ujar Warda.

Ia menjelaskan, berbagai penelitian menunjukkan bahwa waktu interaksi ayah dengan anak masih relatif rendah. Padahal, keterlibatan ayah sejak dini mampu meningkatkan rasa percaya diri anak, memperkuat kesehatan mental, meningkatkan prestasi belajar, hingga membentuk karakter yang lebih baik.

Karena itu, lanjutnya, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN meluncurkan sejumlah gerakan nasional sebagai implementasi tema Harganas tahun ini, di antaranya Gerakan Ayah Mengantar Anak pada Hari Pertama Sekolah dan Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak.

Di Kabupaten Seram Bagian Timur, DPPKB telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan untuk meneruskan surat edaran kepada seluruh satuan pendidikan agar program tersebut dapat dilaksanakan secara serentak.

Selain itu, sosialisasi juga dilakukan melalui Duta Generasi Berencana (Genre) tingkat SMP dan SMA yang didampingi para Penyuluh Keluarga Berencana di berbagai sekolah.

Dari beberapa sekolah yang kami kunjungi, responsnya sangat positif. Bahkan ada anak yang mengaku baru pertama kali diantar ayahnya ke sekolah. Bagi anak, pengalaman sederhana seperti itu menjadi momen yang sangat membahagiakan dan mempererat hubungan emosional dengan ayah,” katanya.

Menurut Warda, selama ini kehadiran orang tua dalam berbagai kegiatan sekolah masih didominasi oleh ibu. Melalui gerakan tersebut diharapkan ayah semakin aktif mengambil bagian dalam pendidikan anak sehingga proses pengasuhan berjalan secara seimbang.

Anak membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika ayah hadir dalam proses pendidikan, anak akan merasa lebih dihargai, lebih percaya diri, dan memiliki kedekatan emosional yang lebih kuat,” jelasnya.

Tidak hanya memperkuat ketahanan keluarga, DPPKB Seram Bagian Timur juga menjadikan momentum Harganas sebagai bagian dari percepatan penurunan angka stunting.

Dalam rangkaian kegiatan Harganas, DPPKB menggelar senam bersama yang melibatkan pegawai dan seluruh Penyuluh Keluarga Berencana, sekaligus menyalurkan bantuan nutrisi kepada keluarga yang memiliki risiko stunting di Kecamatan Bula dan Kecamatan Tutuk Tolu.

Bantuan tersebut berupa makanan siap konsumsi maupun bahan pangan bergizi yang dapat diolah oleh keluarga penerima manfaat sebagai bagian dari intervensi pemenuhan kebutuhan gizi.

Kami ingin memastikan keluarga yang memiliki risiko stunting mendapatkan dukungan nutrisi yang cukup agar kondisi gizi anak maupun ibu hamil dapat terus ditingkatkan,” ujarnya.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Timur juga terus menjalankan Program Orang Tua Asuh Anak Berisiko Stunting (OTA BAAS) sebagai salah satu strategi percepatan penurunan stunting.

Hingga saat ini sekitar 22 keluarga berisiko stunting telah mendapatkan pendampingan melalui para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan aparatur pemerintah yang secara sukarela menjadi orang tua asuh.

Menurut Warda, bantuan yang diberikan saat ini masih difokuskan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi keluarga.

Sementara intervensi non-nutrisi seperti perbaikan sanitasi, penyediaan air bersih, hingga rumah layak huni terus dikoordinasikan dengan perangkat daerah teknis sesuai kewenangan masing-masing.

Bantuan nutrisi menjadi prioritas kami saat ini. Sedangkan persoalan sanitasi, air bersih, dan rumah layak huni telah kami koordinasikan dengan OPD terkait agar penanganannya dilakukan secara terpadu,” katanya.

Lebih lanjut ia menegaskan bahwa upaya pencegahan stunting tidak dimulai ketika anak telah lahir, melainkan sejak masa kehamilan.

Menurutnya, ibu hamil yang teridentifikasi memiliki risiko, seperti pertumbuhan janin yang tidak sesuai usia kehamilan, harus segera memperoleh pendampingan dan intervensi gizi agar bayi dapat lahir dalam kondisi sehat.

Kami ingin mencegah stunting sejak dalam kandungan. Jika ibu hamil memperoleh asupan gizi yang baik, peluang melahirkan bayi sehat akan semakin besar sehingga risiko stunting dapat ditekan sejak dini,” tegasnya.

Warda berharap gerakan percepatan penurunan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Ia mengajak aparatur pemerintah, instansi vertikal, BUMN, BUMD, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan hingga masyarakat luas untuk berpartisipasi menjadi Orang Tua Asuh bagi keluarga yang berisiko stunting.

Penanganan stunting membutuhkan kolaborasi semua pihak. Semakin banyak yang terlibat menjadi Orang Tua Asuh, maka semakin besar pula peluang kita menciptakan generasi Seram Bagian Timur yang sehat, cerdas, berkualitas, dan bebas stunting,” pungkasnya.

Program tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga,
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2024 tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak pada Fase Seribu Hari Pertama Kehidupan, serta Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting, yang menegaskan pentingnya sinergi keluarga, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan dalam mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, unggul, dan bebas stunting. *** M. Lausepa.