FORUMKOTA.ID | Tegal – Di tengah kerusakan lingkungan yang diperkirakan telah mencapai hampir 50 persen, Aliansi dan masyarakat adat Desa Guci, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, mengambil langkah konkret yang justru belum sepenuhnya diikuti oleh pemerintah. Melalui aksi penanaman seribu pohon kaliandra, warga secara terbuka menyuarakan kritik terhadap lemahnya keterlibatan pemerintah daerah dalam menjaga kelestarian hutan di kawasan Guci dan lereng Gunung Slamet.
Sesepuh masyarakat adat Desa Guci, Mbah Birin, menegaskan bahwa kerusakan hutan yang terjadi saat ini bukan lagi sekadar ancaman, melainkan sudah berada pada tahap mengkhawatirkan. Menurutnya, jika tidak ada langkah serius dari pemerintah, bencana ekologis hanya tinggal menunggu waktu.
“Aksi ini adalah bukti bahwa masyarakat dan aliansi tidak tinggal diam. Namun upaya pelestarian hutan tidak akan cukup jika hanya dibebankan kepada warga. Pemerintah harus hadir dan menjadi penggerak utama,” tegasnya saat aksi penanaman, Rabu (14/1/2024).
Mbah Birin menilai, selama ini perhatian pemerintah terhadap pelestarian kawasan hutan di Guci masih sebatas wacana dan belum diwujudkan dalam kebijakan maupun tindakan konkret di lapangan. Padahal, hutan di kawasan ini memiliki fungsi vital sebagai penyangga ekosistem, sumber air, sekaligus pelindung masyarakat dari ancaman bencana.
Aksi penghijauan yang melibatkan warga Desa Guci dan Desa Pekandangan ini juga menjadi pengingat keras akan trauma banjir bandang yang pernah melanda kawasan tersebut. Tokoh sesepuh adat, Raden Tumenggung Romo Basuki Rahmat, menyebut bencana itu sebagai bukti nyata dampak kelalaian dalam menjaga keseimbangan alam.
“Banjir bandang itu bukan peristiwa alam biasa. Itu adalah peringatan keras akibat rusaknya hutan. Jika tidak ada evaluasi dan perubahan kebijakan, bencana serupa sangat mungkin terulang,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa gerakan penanaman pohon tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial semata. Menurutnya, tanpa pengawasan ketat, penegakan aturan, dan keberpihakan anggaran dari pemerintah, upaya pemulihan hutan akan berjalan setengah hati.
Dampak kerusakan lingkungan juga dirasakan langsung oleh sektor pariwisata. Pemilik wisata Guciku, H. Pambudi, mengungkapkan bahwa pascabanjir bandang, jumlah wisatawan menurun drastis, memukul perekonomian warga yang menggantungkan hidup dari sektor tersebut.
“Kerusakan alam ini bukan hanya soal hutan, tetapi juga soal penghidupan masyarakat. Jika kawasan Guci terus rusak, pariwisata akan mati dan warga yang menanggung akibatnya,” ujarnya.
Ia berharap momentum aksi penanaman pohon ini menjadi titik balik, sekaligus tekanan moral bagi pemerintah agar tidak lagi abai terhadap kelestarian lingkungan.
“Sudah saatnya semua pihak, terutama pemerintah, berhenti menonton. Kawasan Guci harus dijaga bersama. Jika tidak, kerusakan akan semakin parah dan masyarakat kembali menjadi korban,” pungkasnya.***













