Kisah Pedagang Sayur yang Nikmati Manfaat Ekonomi dari Program MBG

Forum Kota0 Dilihat
banner 468x60

Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) adalah inisiatif yang diinisiasi langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dibuat dengan tujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan pemenuhan gizi bagi masyarakat.

Dirilis pada 6 Januari 2025, MBG ditujukan kepada berbagai kelompok penerima manfaat, mulai dari peserta didik PAUD hingga SMA, balita, ibu hamil, hingga ibu yang sedang menyusui. Tujuan utamanya adalah memastikan generasi muda Indonesia tumbuh dengan sehat, kuat, cerdas, dan terhindar dari stunting.

banner 336x280

Namun seiring berjalannya waktu, program ini terbukti memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar meningkatkan gizi. MBG menghasilkanmultiplier effect yang penting, khususnya bagi perekonomian masyarakat di bidang pangan. Di berbagai wilayah, kerja sama yang terjalin melalui MBG menciptakan kesempatan usaha baru dan membantu para pedagang lokal meraih penghasilan yang lebih tetap.

Salah satu yang dirasakan oleh Tri Susanto, pedagang sayur di Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Sebelum bergabung dalam program ini, ia hanya mengandalkan pembeli harian di pasar. Kini, ia menjadi salah satu pemasok utama kebutuhan pangan harian untuk dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalikajar 1 Purbalingga.

Setiap pagi, Tri beserta rekan kerjanya sudah siap berada di lapak sayurannya. Berbagai bahan makanan segar seperti bayam, wortel, sawi, hingga selada dikirim langsung ke dapur MBG. Ia juga menjalin kemitraan dengan petani lokal agar pasokan tetap lancar dan kualitas sayuran tetap terjaga.

“Yang merasakan dampaknya tidak hanya saya, tetapi juga para petani setempat karena saya menggunakan bahan dari mereka. Dulu harga sayuran sering turun. Setelah ada MBG, permintaan meningkat, harga menjadi lebih stabil. Bahkan, saya mampu memberdayakan ibu-ibu di sekitar untuk membantu membersihkan sayuran. Semua mendapatkan manfaat secara ekonomi,” kata Tri.

Sejak dapur MBG di Purbalingga mulai beroperasi pada Juli 2025, permintaan akan sayuran meningkat hingga dua kali lipat. Agar bisa memenuhi kebutuhan ribuan porsi yang harus disiapkan setiap hari, Tri bahkan menambah armada pengiriman.

Dampak yang sama dirasakan oleh Novianti Puji, seorang pedagang sayur di Purworejo, Jawa Tengah. Sebelum bergabung dalam program ini, ia hanya mengandalkan pembeli harian yang tidak stabil, sehingga pendapatannya sering kali tidak tetap. Ketika cuaca buruk atau harga sayur menurun, penghasilannya semakin berkurang.

Perubahan terjadi ketika ia diangkat sebagai pemasok tetap untuk Sentra Penyediaan Pangan Gizi (SPPG) di daerahnya. Melalui sistem pemesanan yang terpadu dan berkelanjutan, Novianti kini menerima penghasilan tetap setiap minggu. Pesanan harian yang pasti membuat usahanya lebih terstruktur, baik dalam pengadaan barang, logistik, maupun pengelolaan persediaan.

“Semoga program ini terus berjalan dengan baik, mampu meningkatkan kualitas gizi bagi penerima, serta tentu saja memberikan keuntungan kepada para pedagang sayur kecil seperti saya,” ujarnya.

Kisah Tri Susanto dan Novianti Puji membuktikan bahwa MBG bukan hanya sekadar program kesehatan, tetapi juga menjadi pendorong perekonomian lokal. Program yang awalnya bertujuan meningkatkan kesehatan SDM di Indonesia kini memberikan manfaat ganda bagi masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil di bidang pangan. MBG menunjukkan bahwa kebijakan publik yang disusun dengan baik mampu menghasilkan dampak positif yang luas, mulai dari hulu hingga hilir.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *