MIRIS, Balita Suci Ditolak RSUD Prof. Dr. M Ali Hanafiah: Pulang Tanpa Obat, Tanpa Pengantar

banner 636x380

TANAH DATAR, FORUMKOTA.ID – RSUD Ali Hanafiah Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, kembali tersorot publik karena minimnya pelayanan serta ketersediaan alat kesehatan yang memprihatinkan. Hal ini terbukti dari kisah pilu yang dialami keluarga Alnur, warga Nagari Atar, Kecamatan Padang Ganting, kabupaten Tanah Datar, Senin (27/07), saat membawa putri tercinta Suci Fawzia Milandi berusia 2,5 tahun berobat ke rumah sakit tersebut. Sang anak menderita benjolan kelenjar cukup besar di lengan yang teraba panas dan membutuhkan penanganan medis segera demi keselamatannya.

 

banner 636x380

Sesampainya di lokasi, orang tua sudah mengeluarkan biaya pendaftaran sebesar Rp40.000. Meski kedua orang tua memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS), namun kepesertaan tersebut belum mencakup Suci, sehingga sang buah hati belum memiliki jaminan kesehatan apapun. Setelah urusan administrasi selesai, petugas mengarahkan mereka menuju Poli Bedah untuk pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter spesialis.

 

Hasil pemeriksaan dokter menyatakan dengan tegas bahwa benjolan tersebut harus segera ditangani melalui tindakan penyedotan atau pembedahan. Namun harapan keluarga runtuh seketika. Dokter menjelaskan bahwa obat-obatan serta peralatan medis yang dibutuhkan sama sekali tidak tersedia di rumah sakit daerah ini, sehingga tindakan medis yang diperlukan tidak bisa dilaksanakan saat itu juga.

 

Paling menyakitkan, pihak rumah sakit hanya menyarankan agar keluarga membawa anak berobat ke rumah sakit lain di Kota Padang. Namun, tidak ada surat rekomendasi, surat pengantar, maupun arahan resmi yang diberikan. Mereka seolah dilepas begitu saja tanpa solusi, tanpa bantuan, dan tanpa kepedulian lebih lanjut dari petugas, seolah beban kesembuhan anak tersebut bukan tanggung jawab fasilitas ini.

 

Akhirnya, dengan hati hancur dan kebingungan, Suci dan orang tuanya terpaksa pulang kembali ke rumah dengan tangan kosong. Tidak ada obat pereda nyeri yang diberikan, tidak ada penanganan sementara, dan tidak ada jalan keluar lain yang ditawarkan. Padahal mereka datang dengan doa dan harapan besar agar sang anak bisa segera tertangani dan sembuh dari keluhannya.

 

Upaya awak media untuk mengonfirmasi peristiwa ini kepada Direktur RSUD Ali Hanafiah, dr. Nurman Eka Putra, berujung sia-sia. Berkali-kali panggilan dilakukan, namun sambungan telepon tidak berdering sebagaimana mestinya dan tidak ada jawaban sama sekali hingga berita ini tayang. Kasus ini kembali menimbulkan tanda tanya besar di masyarakat: untuk siapa sebenarnya fasilitas kesehatan ini dibangun, jika rakyat yang membutuhkan justru ditolak dan dibiarkan menderita tanpa tanggung jawab pimpinan?.***

banner 636x380

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *