Net Penjualan Asing di Pasar Saham Menambah Tekanan terhadap Rupiah

Berita106 Dilihat

.CO.ID – JAKARTA. Tindakannet sellInvestor asing besar di pasar saham dianggap turut memberikan tekanan pada rupiah.

Pada perdagangan Selasa (9/9/2025), investor asing melakukan aksi jual besar-besaran dengan totalnet sellRp 4,55 triliun di seluruh pasar, terutama di saham perbankan sepertiBBRI,BMRI, danBBCA.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Tidak jelas),M Rizal Taufikurahman mengatakan, penjualan asing di saham melemahkan kepercayaan pasar. “Ditambah dengan pelemahan IHSG yang cukup dalam pada Selasa,” katanya kepada , Rabu (10/9/2025).

Rizal mengatakan, meskipun korelasi rupiah lebih kuat terhadap pasar Surat Berharga Negara (SBN), arus keluar sebesar ini tetap menambah tekanan terhadap rupiah. Meskipun demikian, ia menilai tekanan akan bersifat jangka pendek.

Karena ituoutflow“di saham sering diikuti penyesuaian posisi valas oleh investor asing,” jelas Rizal.

Menurut Rizal, dasar rupiah ke depan tercermin dari tingkat inflasi. Data BPS menunjukkan inflasi Agustus 2025 sebesar 2,35% YoY, yang masih berada dalam target 1,5%–3,5%.

Sementara itu, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus yang konsisten, yaitu sebesar 4,17 miliar dolar AS pada Juli 2025. Secara kumulatif, surplus pada paruh pertama tahun ini telah mencapai 19,5 miliar dolar AS.

Namun, Rizal memperingatkan adanya faktor risiko dari kebijakan moneter. Bank Indonesia (BI) telah mengurangi suku bunga acuan menjadi 5,00% dari sebelumnya 5,25% pada Agustus lalu. Dengan demikian, selisih suku bunga dengan Fed Funds Rate yang juga berada di 5,25% semakin sempit.

“Artinya, meskipun fundamental cukup kuat, tetapi daya tarik aset rupiah masih melemah,” kata Rizal.

Sementara itu, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede melihat, kekhawatiran fiskal domestik mulai mereda pada Rabu, (10/9/2025).

Oleh karena itu, menurutnya, rupiah berpotensi melanjutkan penguatannya di sisa pekan ini.

“Rupiah bisa terus menguat mengikuti potensi perlambatan inflasi harga produsen AS yang akan dirilis malam nanti,” katanya kepada , Rabu (10/9/2025).

Dalam jangka pendek, dengan asumsi inflasi AS sesuai ekspektasi dan Bank Indonesia (BI) tetap mengintervensi, Rizal memperkirakan rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp 16.420–Rp 16.550 per dolar AS.

Kasus terbaik, rupiah bisa menguat ke Rp 16.350, jikaaliran modal masukkembali masuk ke SBN,” tambah Rizal.

Namun, Rizal melihat bahwaoutflowdefisit yang berkelanjutan, misalnya di atas 3 triliun rupiah per hari, maka rupiah bisa menembus 16.600 rupiah.

Sementara itu, Josua melihat, rupiah pada Kamis (11/10/2025) bisa bergerak dalam kisaran Rp 16.400–16.500 per dolar AS.