Forumkota.id _ Lamongan — Deru mesin bus antar-kota dan pekatnya asap knalpot di sepanjang jalur Raya Lamongan adalah ruang kerja sehari-hari bagi Naslikah. Di tangan perempuan paruh baya ini, sebuah alat karaoke portabel digendong erat, menjadi senjatanya untuk menjemput rezeki dari rute Ndapur hingga Sukodadi.
Namun, di balik peluh dan suara yang beralih dari satu bus ke bus lain, Naslikah sedang menulis sebuah epos tentang ketulusan yang menembus batas kemiskinan.
Ibu dari empat anak ini membuktikan bahwa tangan di atas tidak selalu milik mereka yang bergelimang harta. Dari setiap lembar rupiah yang ia kumpulkan dari kebaikan hati para penumpang, sopir, dan kondektur, Naslikah selalu menyisihkan Rp10.000 hingga Rp20.000 setiap harinya.
Uang tersebut bukan disimpan untuk kesenangan pribadi. Setiap Jumat pagi, celengan kecil hasil mengamen itu menjelma menjadi puluhan bungkus nasi siap santap. Naslikah turun ke jalanan Pertigaan (Telon) Sukodadi bukan untuk meminta, melainkan membagikan makanan kepada mereka yang ia sebut “kurang beruntung”: tukang ojek, pemulung, pedagang asongan, hingga tuna wisma.
“Saya sangat berterima kasih kepada kru bus dan para penumpang. Dari kebaikan mereka, saya bisa menyalurkan kembali rezeki ini berupa nasi bungkus setiap hari Jumat untuk saudara-saudara kita,” ujar Naslikah dengan mata berbinar penuh syukur.
Perempuan Tangguh di Balik Kemudi Tronton
Bagi Naslikah, hidup adalah ruang perjuangan yang tidak memberi tempat untuk menyerah. Sebagai orang tua tunggal sejak suaminya wafat, ia memikul beban berat: memastikan keempat anaknya mendapatkan pendidikan terbaik hingga bangku kuliah.
Ketika mengamen dirasa belum cukup untuk menutup biaya pendidikan yang kian mencekik, Naslikah memutar otak. Di sela-sela waktu mengamennya, ia memproduksi es rumahan untuk dititipkan ke warung-warung kelontong.
Namun, kejutan terbesar dari sosok Naslikah terletak pada masa lalunya yang tangguh. Siapa sangka, perempuan yang hari ini menyusuri koridor bus dengan mikrofon tersebut adalah seorang mantan sopir truk tronton. Di masa lalu, ia terbiasa mengendalikan armada raksasa membelah jalanan lintas provinsi. Profesi ekstrem yang terpaksa ia tinggalkan demi fokus merawat anak-anaknya setelah sang suami tiada.
Mengetuk Pintu Dinas Sosial: Beri Kami Kail, Bukan Ikan
Meski memiliki mentalitas sekeras baja, Naslikah sadar bahwa jalanan bukanlah masa depan. Ia menyimpan asa besar agar anak-anaknya memiliki garis nasib yang lebih baik dari dirinya.
Melalui kisahnya, ia menitipkan pesan mendalam yang mewakili jeritan hati para pekerja jalanan di Lamongan. Naslikah berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) melalui Dinas Sosial tidak memandang mereka sebagai beban sosial, melainkan potensi yang perlu dirangkul.
“Harapan saya, pemerintah daerah bisa memberikan perhatian berupa pembinaan dan pembekalan keterampilan (skill). Kami sangat membutuhkan modal keahlian agar ke depannya kami bisa beralih ke profesi yang lebih layak demi masa depan keluarga,” ungkapnya menutup pembicaraan.
Kisah Naslikah adalah tamparan sekaligus refleksi. Ia meruntuhkan stigma dan mengajarkan satu hal mutlak: berbagi tidak perlu menunggu kaya, dan keluar dari kerasnya jalanan adalah mimpi semua orang, asalkan pintu kesempatan itu dibuka lebar oleh mereka yang memiliki kuasa.
Sunariyanto – Tim
Editor – Redaksi











