PIKUN TERHADAP SEJARAH DAN INHIRAFUL MANHAJ: MEMBACA KRISIS KADERISASI DAN KEPEMIMPINAN HIMMAH NWDI DALAM PERSPEKTIF PERADABAN

banner 636x380

*PIKUN TERHADAP SEJARAH DAN INHIRAFUL MANHAJ: MEMBACA KRISIS KADERISASI DAN KEPEMIMPINAN HIMMAH NWDI DALAM PERSPEKTIF PERADABAN*

Ditulis Oleh: M. Rizki Farabi

banner 636x380

Pendahuluan

Tidak ada organisasi besar yang runtuh karena kekurangan anggota. Tidak ada organisasi besar yang hancur semata-mata karena kekurangan dana. Sejarah menunjukkan bahwa kemunduran organisasi sering kali dimulai ketika ia kehilangan arah perjuangan, melupakan identitasnya, dan gagal melahirkan generasi penerus yang memahami cita-cita para pendirinya.
Fenomena tersebut tampaknya relevan untuk membaca kondisi HIMMAH NWDI hari ini. Organisasi yang lahir dari rahim perjuangan Nahdlatul Wathan ini sesungguhnya memiliki modal historis yang sangat besar. Ia lahir bukan sekadar sebagai organisasi mahasiswa, melainkan sebagai instrumen kaderisasi yang dirancang untuk melahirkan generasi intelektual, pemimpin umat, dan penerus perjuangan Nahdlatul Wathan.
Namun pertanyaan yang perlu diajukan secara jujur adalah: apakah HIMMAH hari ini masih bergerak sesuai dengan cita-cita pendirinya?
Pertanyaan ini penting diajukan mengingat semakin terlihat adanya gejala stagnasi kaderisasi, melemahnya tradisi intelektual, rendahnya daya saing organisasi, serta semakin kuatnya kecenderungan pragmatisme politik yang menggeser orientasi perjuangan kader.
Dalam konteks inilah ungkapan yang sering disampaikan oleh Tuan Guru Bajang menjadi relevan untuk dijadikan pisau analisis, yaitu mengenai bahaya “pikun terhadap sejarah”.
Pikun sejarah bukan berarti lupa tanggal atau peristiwa masa lalu. Pikun sejarah adalah keadaan ketika sebuah generasi masih menikmati warisan perjuangan para pendahulunya tetapi tidak lagi memahami nilai-nilai yang melahirkan perjuangan tersebut.
Akibatnya organisasi kehilangan orientasi. Ia tetap hidup secara administratif, tetapi mati secara intelektual. Ia tetap memiliki struktur, tetapi kehilangan ruh perjuangan.

Sejarah Sebagai Fondasi Perjuangan

Maulana Syaikh Hamzanwadi pernah berwasiat:
“Jangan pesimis dalam berjuang, kenangkan sejarah gilang gemilang, datok moyangmu bulannya terang, mengambil tuah pada yang menang.”
Wasiat ini mengandung pesan filosofis yang mendalam. Hamzanwadi tidak meminta kader hanya mengenang sejarah sebagai romantisme masa lalu. Beliau mengajarkan bahwa sejarah adalah sumber energi perjuangan.
Organisasi yang mengenal sejarahnya akan memiliki kepercayaan diri untuk menghadapi masa depan. Sebaliknya, organisasi yang melupakan sejarahnya akan kehilangan arah dan mudah terombang-ambing oleh kepentingan sesaat.
Di sinilah persoalan mendasar HIMMAH hari ini. Banyak kader mengenal atribut organisasi, tetapi tidak mengenal sejarah organisasinya. Banyak pengurus memahami struktur organisasi, tetapi tidak memahami cita-cita besar yang melahirkan organisasi tersebut.
Akibatnya, perjuangan tidak lagi dipandu oleh nilai, melainkan oleh momentum.

Pikun Sejarah dalam Perspektif Para Pemikir

Fenomena ini sebenarnya telah dijelaskan oleh banyak pemikir besar dunia seperti :

Ibnu Khaldun tentang Hilangnya Ashabiyah

Menurut Ibnu Khaldun, kemunduran suatu kelompok dimulai ketika solidaritas perjuangan (ashabiyah) melemah. Generasi penerus menikmati hasil perjuangan generasi sebelumnya tanpa lagi memahami nilai yang melahirkan perjuangan tersebut.
Kondisi ini tampak ketika kader lebih mengenal jabatan daripada pengabdian, lebih mengenal posisi daripada tanggung jawab, dan lebih mengenal simbol daripada substansi perjuangan.

Malik bin Nabi: Kemiskinan Ide

Malik bin Nabi menjelaskan bahwa kemunduran peradaban tidak diawali oleh kemiskinan ekonomi, melainkan kemiskinan ide.
Organisasi yang kehilangan tradisi berpikir akan kehilangan masa depannya. Ketika forum-forum kaderisasi tidak lagi melahirkan gagasan baru, organisasi akan berubah menjadi tempat reproduksi rutinitas tanpa inovasi.

Paulo Freire: Matinya Kesadaran Kritis

Paulo Freire menegaskan bahwa pendidikan harus membangun kesadaran kritis.
Kaderisasi yang hanya menghasilkan kader yang patuh tetapi tidak kritis akan melahirkan generasi yang takut berpikir dan takut melakukan pembaruan.
Padahal organisasi besar selalu dibangun oleh kader yang mampu berpikir melampaui zamannya.

Antonio Gramsci: Krisis Intelektual Organik

Gramsci menjelaskan bahwa setiap gerakan membutuhkan intelektual organik yang mampu menerjemahkan cita-cita organisasi menjadi gerakan sosial.
Ketika organisasi gagal melahirkan intelektual organik, organisasi akan kehilangan kemampuan memengaruhi masyarakat dan hanya menjadi penonton perubahan.

Robert Michels: Oligarki Organisasi

Robert Michels menjelaskan bahwa organisasi sering kali mengalami kecenderungan oligarki, yaitu ketika elite organisasi lebih sibuk mempertahankan pengaruh daripada mengembangkan kader.
Ketika kaderisasi menjadi nomor dua sementara perebutan posisi menjadi prioritas utama, organisasi sedang bergerak menuju kemunduran.

Hamka: Hilangnya Cita-Cita Besar

Hamka mengingatkan bahwa kemunduran generasi muda dimulai ketika mereka kehilangan cita-cita besar.
Sementara HIMMAH sendiri dibangun di atas filosofi:
“Himmatur Rijal Tahdumul Jibal.”
Cita-cita besar para pemuda mampu merobohkan gunung yang menjulang tinggi.
Pertanyaannya, apakah cita-cita besar itu masih hidup hari ini?

*Politik Musiman dan Matinya Profesional Moralis*

Kritik pertama yang harus disampaikan secara terbuka adalah munculnya budaya politik musiman dalam tubuh organisasi.
Fenomena yang terlihat hari ini menunjukkan bahwa ketika proses kaderisasi intelektual berlangsung, perhatian dari sebagian elit organisasi sering kali minim. Penguatan kapasitas kader, pengembangan tradisi intelektual, dan pembinaan ideologis seolah bukan prioritas utama.
Namun ketika momentum politik datang, HIMMAH mendadak menjadi penting.
Kader dicari.
Jaringan organisasi dibutuhkan.
Struktur organisasi diperhatikan.
Kedekatan dengan kader dianggap strategis.
Ironisnya, kepedulian tersebut sering dibungkus dengan narasi perjuangan dan kesejahteraan organisasi.
Padahal kondisi demikian justru bertentangan dengan identitas HIMMAH sebagai organisasi “Profesional Moralis”.
Profesionalitas menuntut pembangunan kapasitas intelektual.
Moralitas menuntut keberpihakan pada nilai perjuangan.
Ketika organisasi lebih sering dijadikan alat mobilisasi politik daripada pusat kaderisasi intelektual, maka jargon Profesional Moralis kehilangan makna substansialnya.
Akibatnya HIMMAH tidak menjadi penentu arah politik.
HIMMAH hanya menjadi pengekor politik.
Tidak menjadi subjek.
Tetapi menjadi objek.
Inhiraf al-Manhaj:

*Penyimpangan Metodologi Kaderisasi*

Kritik kedua adalah terjadinya Inhiraf al-Manhaj atau penyimpangan metodologi kaderisasi.
Ketidakpedulian terhadap pengembangan kader di tingkat tertinggi organisasi melahirkan efek domino hingga ke tingkat cabang dan komisariat.
Pimpinan tidak memiliki visi kaderisasi yang jelas.
Cabang kehilangan orientasi.
Komisariat kehilangan daya hidup.
Kader kehilangan motivasi.
Akibatnya proses kaderisasi lebih banyak berjalan secara administratif daripada substantif.
Forum ada.
Struktur ada.
Kegiatan ada.
Tetapi transformasi intelektual tidak terjadi.
Padahal tujuan kaderisasi adalah melahirkan pemimpin masa depan, bukan sekadar peserta kegiatan.
Dalam perspektif Ibnu Khaldun, kondisi ini merupakan bentuk penyimpangan metode dari tujuan awal organisasi.
Metode yang salah tidak akan pernah menghasilkan tujuan yang benar.
Karena itu tidak mengherankan jika banyak mahasiswa mulai berpikir berkali-kali untuk bergabung dengan HIMMAH. Organisasi gagal menghadirkan daya tarik intelektual yang mampu menjawab kebutuhan generasi muda hari ini.

*Organisasi Lokal yang Sulit Bertumbuh*

Kritik ketiga adalah kegagalan organisasi keluar dari jebakan lokalitas.
Pikun terhadap sejarah dan penyimpangan metodologi kaderisasi pada akhirnya melahirkan stagnasi organisasi.
HIMMAH yang memiliki sejarah besar justru tampak kesulitan membangun pengaruh yang lebih luas.
Padahal dalam lagu perjuangan HIMMAH terdapat cita-cita besar:
“HIMMAH berkiprah di Nusantara, membela agama, nusa dan bangsa.”
Kalimat ini bukan sekadar syair.
Ia adalah visi peradaban.
Namun visi tersebut akan tetap menjadi utopia apabila organisasi gagal membangun kader unggul yang mampu bersaing di tingkat regional, nasional, maupun global.
Sejarah besar tidak akan pernah cukup untuk memenangkan masa depan.
Sejarah hanya menjadi modal awal.
Kemajuan hanya lahir dari kerja keras, inovasi, dan kaderisasi yang berkualitas.

*Tiga Agenda Pembaruan HIMMAH*
Pertama: Reorientasi Sejarah sebagai Fondasi Kaderisasi
Seluruh jenjang kaderisasi harus kembali menjadikan sejarah perjuangan Nahdlatul Wathan, Hamzanwadi, dan HIMMAH sebagai fondasi ideologis.
Kader harus memahami mengapa organisasi ini lahir sebelum diajarkan bagaimana menjalankannya.
Kedua: Independensi dari Politik Musiman
HIMMAH harus membangun posisi sebagai organisasi kader yang independen.
Politik harus dipengaruhi oleh kualitas kader HIMMAH, bukan HIMMAH yang larut dalam kepentingan politik sesaat.
Dengan demikian HIMMAH dapat menjadi penentu arah, bukan sekadar pengikut arah.
Ketiga: Reformasi Total Sistem Kaderisasi
Diperlukan kurikulum kaderisasi berbasis literasi, riset, kepemimpinan, publikasi ilmiah, dan pengembangan intelektual.
Ukuran keberhasilan kaderisasi tidak boleh lagi sekadar jumlah peserta kegiatan, tetapi jumlah kader yang mampu melahirkan gagasan, karya, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

*Penutup*

Pada akhirnya, persoalan terbesar HIMMAH hari ini bukanlah kurangnya kader, kurangnya dana, atau kurangnya struktur organisasi.
Persoalan terbesarnya adalah hilangnya orientasi perjuangan yang ditandai oleh pikun terhadap sejarah dan penyimpangan metodologi kaderisasi.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka HIMMAH akan tetap hidup sebagai organisasi administratif, tetapi kehilangan daya hidup sebagai gerakan intelektual.
Namun apabila HIMMAH berani kembali kepada sejarahnya, memperbaiki metodologinya, dan membangun tradisi intelektual yang kuat, maka cita-cita Hamzanwadi akan kembali menemukan jalannya.
Karena sejarah tidak pernah menghormati organisasi yang hanya bangga pada masa lalunya. Sejarah hanya menghormati mereka yang mampu mewarisi semangat masa lalu untuk menciptakan masa depan.

banner 636x380

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *