Forumkota.id_Lamongan yang akan digelar besok adalah Sarasehan Budaya dengan tajuk inti “Pangan Lokal sebagai Ekosistem Kehidupan” – sebuah acara diskusi yang mengadopsi format “sarasehan” khas budaya Jawa, di mana keakraban, kebersamaan, dan pertukaran gagasan dari hati ke hati menjadi prioritas utama. Bukan sekadar seminar biasa, acara ini dirancang sebagai wadah untuk menyelami makna mendalam pangan lokal yang seringkali terpinggirkan oleh gaya hidup modern. Sarasehan ini juga merupakan bagian penting dari Pameran Seni Rupa EKOLOGIS yang telah dimulai sejak 21 Januari, yang menyajikan karya seni yang mengkritik isu-isu lingkungan dan menjadi pijakan sempurna untuk membahas hubungan antara seni, budaya, dan pangan.
Acara ini menghadirkan narasumber beragam latar belakang disiplin yang menjanjikan percikan pemikiran kaya dan komprehensif. Di antaranya adalah Hartono, pelukis senior dari Semarang, yang akan membagikan pandangannya tentang bagaimana alam dan pangan terekam dalam kanvas serta imajinasi seniman. Kemudian ada M Nur Salim, Wakil Ketua PCNU Lamongan, yang akan menawarkan perspektif agama dan kearifan lokal NU dalam memandang kelestarian pangan. Supriyo, seorang aktivis kebudayaan, diharapkan menyampaikan kisah perjuangan komunitas dalam mempertahankan benih lokal dan kedaulatan pangan. Adang Moelyono, sebagai akademisi, akan memberikan analisis struktural tentang tantangan dan peluang yang dihadapi pangan lokal di masa kini. Yang tak kalah seru, kehadiran kelompok On The Spot akan dilakukan seniman Ochez & Prabu. Sedang diskusi akan dimoderatori oleh yak Rokhim atau Jogo Wengi.
Acara terbuka untuk semua kalangan: masyarakat umum, pelajar, akademisi, praktisi pertanian, pegiat budaya, dan siapa pun yang tergerak hatinya untuk berpartisipasi.
Sarasehan Budaya ini akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 24 Januari 2026, mulai pukul 13.00 WIB. Acara ini diadakan tepat di tengah berlangsungnya Pameran Seni Rupa EKOLOGIS yang berjalan dari tanggal 21 Januari, sehingga peserta dapat sekaligus menikmati karya seni sebelum atau sesudah diskusi.
Tempat pelaksanaan acara terletak di Gedung KORPRI Lamongan, yang berada di Jl. Kusuma Bangsa, Kelurahan Beringin, Kecamatan Temenggungan, Kabupaten Lamongan. Lokasi ini dipilih karena mudah dijangkau dan memiliki ruang yang cukup untuk menampung peserta yang ingin berpartisipasi. Selain menjadi tempat yang sesuai untuk acara yang menggabungkan elemen budaya, seni, dan keilmuan.
Di tengah gempuran gaya hidup modern dan dominasi pangan instan, acara ini memiliki makna penting yang jauh melampaui sekadar diskusi. Tujuannya adalah untuk membongkar narasi yang selama ini menjadikan pangan lokal hanya sebagai sekadar komoditas, dan mengangkatnya sebagai suatu sistem kehidupan yang utuh, penuh makna, dan berkelanjutan – yang menjadi jantung dari ekosistem kehidupan manusia.
Di era di mana perubahan iklim dan krisis pangan global semakin memanas, menggali kembali kekuatan dan nilai-nilai pangan lokal bukanlah sekadar nostalgia, melainkan sebuah keharusan strategis. Sarasehan ini diharapkan dapat mengembalikan pangan pada konteksnya yang luas: sebagai bagian dari budaya, identitas, ekologi, dan spiritualitas. Selain itu, acara ini juga bertujuan menjembatani antara ilmu pengetahuan, seni, agama, dan aktivisme dalam satu percakapan yang terpadu, serta menjadi pemantik gerakan kolektif di Lamongan dan sekitarnya untuk melestarikan dan mengembangkan sistem pangan yang berbasis pada kekayaan lokal.
Acara akan berjalan dengan nuansa yang inklusif dan rendah hati, yang tercermin dari bahasa undangan yang beredar luas di media sosial dan grup komunitas: “Anda datang, kami senang. Sebab kehadiranmu, memberi kesempatan kami mengenalmu, sehingga kami semakin belajar mengenal diri kami.” Kalimat ini mencerminkan spirit acara yang berbasis pada relasi manusiawi, bukan sekadar memenuhi kursi pendengar. Format sarasehan akan membuat diskusi lebih santai dan terbuka, sehingga setiap peserta merasa bebas untuk berbagi pendapat. Acara terbuka untuk umum, tidak dipungut biaya apapun, dan tidak memerlukan pendaftaran terlebih dahulu – sehingga siapa pun yang ingin hadir dapat langsung datang. Pameran Seni Rupa EKOLOGIS yang berlangsung di lokasi yang sama akan menjadi latar yang memperkuat pesan acara, dengan menghubungkan refleksi estetis dalam galeri dengan praktik konkrit kehidupan di luar gedung.
Dengan demikian, acara ini diharapkan dapat menjadi momen di mana semua pihak berkumpul untuk berbagi, belajar, dan bersama-sama merajut kembali pemahaman bahwa menjaga pangan lokal sama dengan menjaga kehidupan itu sendiri.
