Forum kota.id//Lamongan, 24 Januari 2026 — Gedung Graha Bhineka Karya Korpri Kabupaten Lamongan menjadi pusat konsolidasi gerakan seni, budaya, dan lingkungan dalam rangkaian kegiatan bertajuk Ekologis Lamongan Megilan. Acara ini menghadirkan seniman, budayawan, aktivis lingkungan, tokoh masyarakat, akademisi, pejabat daerah, serta organisasi kemasyarakatan untuk menyuarakan krisis ekologis dan merumuskan langkah konkret pemulihan lingkungan, khususnya terhadap banjir berkepanjangan di kawasan Bengawan Jero.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pameran seni rupa bertema ekologis “Ekologis Lamongan Megilan: Ketika Kanvas Menjadi Doa untuk Alam Raya” yang digelar sejak 21 Januari 2026. Puluhan karya pelukis lokal ditampilkan, menggambarkan relasi manusia dengan alam, dinamika ekosistem, serta dampak kerusakan lingkungan yang dirasakan masyarakat. Seni rupa tidak hanya dihadirkan sebagai ekspresi estetika, tetapi juga sebagai medium kritik sosial dan seruan kesadaran ekologis.
Seiring dengan pameran, digelar sarasehan budaya bertajuk “Pangan Lokal sebagai Jantung Ekosistem Kehidupan” di Aula Gedung Korpri Lamongan. Forum ini menjadi ruang dialog lintas sektor antara seniman, budayawan, pegiat lingkungan, akademisi, dan tokoh agama dalam membahas keterkaitan budaya lokal, pangan, dan keberlanjutan lingkungan. Diskusi juga menyinggung relevansi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 dan Perda Nomor 7 Tahun 2021 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang menempatkan pelestarian budaya sebagai bagian dari perlindungan alam dan pembangunan berkelanjutan.
Ketua pelaksana kegiatan, Husni Tamrin, menyampaikan bahwa rangkaian pameran dan sarasehan ini lahir dari kegelisahan kolektif para pelukis se-Kabupaten Lamongan terhadap kondisi lingkungan yang semakin memburuk. Ia menyoroti banjir yang hampir dua bulan terakhir merendam enam kecamatan dan berdampak pada 146 desa sebagai tanda perlunya langkah nyata dan kolaboratif.
“Melalui seni, kami ingin membuka ruang dialog publik agar persoalan banjir dan kerusakan lingkungan tidak lagi dianggap rutinitas tahunan, tetapi menjadi agenda bersama untuk dicari solusi berkelanjutan,” ujar Husni.
Puncak kegiatan ditandai dengan Dialog Lintas Sektor dan Peluncuran Gerakan Pemulihan Lingkungan Lamongan, yang diprakarsai Komunitas Pelukis Lamongan (Kospela) bersama Douglas Club, dengan dukungan berbagai komunitas seni, organisasi masyarakat, perwakilan OPD, akademisi, serta tokoh publik. Forum ini menegaskan sinergi seni, budaya, dan lingkungan sebagai grand desain pemulihan Lamongan.
Wakil Ketua II DPRD Lamongan, Husen (F-PDIP), dalam forum tersebut menekankan urgensi penguatan kebijakan daerah dalam penanganan banjir, khususnya di kawasan Bengawan Jero. Ia menyoroti perlunya optimalisasi Peraturan Daerah tentang Tata Kelola Sungai, penguatan pengelolaan daerah aliran sungai, serta koordinasi lintas kewenangan antara pemerintah kabupaten, provinsi, dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
“Persoalan lingkungan tidak bisa diselesaikan secara sektoral. Diperlukan sinergi lintas lembaga dan dukungan masyarakat agar upaya pemulihan berjalan berkelanjutan,” ujar Husen.
Dukungan moral dan spiritual juga datang dari PCNU Lamongan. Melalui Muhammad Nursalim, PCNU menegaskan bahwa menjaga lingkungan merupakan amanah keagamaan yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Sementara itu, tokoh masyarakat Cak Pandi menekankan pentingnya pelibatan lintas generasi agar semangat merawat lingkungan dapat terus diwariskan.
Dalam sarasehan dan dialog, para narasumber mengaitkan banjir Bengawan Jero dengan degradasi daerah resapan air, sedimentasi sungai, alih fungsi lahan, serta lemahnya koordinasi lintas sektor. Karena itu, forum menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, legislatif, komunitas, akademisi, dan masyarakat dalam menghadirkan solusi jangka panjang berbasis keberlanjutan.
Selain diskusi, kegiatan juga diwarnai aksi melukis langsung oleh sejumlah seniman. Abu Sufyan memvisualisasikan suasana acara di atas kanvas, Sugeng Lanang menghadirkan simbolisasi air dan kehidupan dalam bentuk abstrak, sementara Ochez Sumantri memadukan unsur fauna dan arah mata angin sebagai representasi hubungan manusia dengan alam. Aksi ini menegaskan bahwa seni dapat menjadi medium komunikasi publik yang efektif dalam menyampaikan pesan sosial dan ekologis.
Sebagai tindak lanjut, para penggagas gerakan merancang program konkret berupa gerakan tanam pohon massal lintas komunitas, pengembangan agroforestri, penguatan ekowisata berbasis lingkungan, serta kampanye kesadaran merawat “ibu bumi”.
Program-program ini diharapkan tidak hanya memulihkan ekosistem, tetapi juga mendorong ketahanan ekonomi masyarakat melalui pengelolaan ruang hijau produktif berbasis kearifan lokal.
Peserta forum juga sepakat menyusun grand desain gerakan lingkungan Lamongan sebagai peta jalan kolaboratif yang melibatkan lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, dunia usaha, serta dinas-dinas terkait. Desain ini dirancang untuk memastikan gerakan lingkungan tidak berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan bertransformasi menjadi gerakan sosial berkelanjutan.
Melalui sinergi seni, budaya, kebijakan publik, dan gerakan masyarakat, Lamongan kini menapaki langkah baru menuju ketahanan ekologis dan ekonomi yang lebih kuat. Seni tidak lagi sekadar ekspresi estetika, tetapi menjadi suara bagi alam yang terluka dan masyarakat yang terdampak, sekaligus jembatan menuju kesadaran kolektif untuk menjaga bumi dan kehidupan bersama.













