Taufik Semprot Keras Dugaan Pengerukan Asal-Asalan Irigasi Rumbia Barat: “Jangan Jadikan Proyek Hanya Formalitas Serap Anggaran”

Berita, Lampung7696 Dilihat
banner 468x60

Forumkota.id | Lampung Tengah — M Taufik Hidayat Seorang Kontrol Sosial Lampung melontarkan kritik tajam terhadap pekerjaan pengerukan sedimentasi Saluran Irigasi Rumbia Barat di titik BRB 5 hingga BRB 9, Kecamatan Seputih Banyak, Kabupaten Lampung Tengah.

Proyek normalisasi sepanjang kurang lebih 4 kilometer itu diduga dikerjakan asal-asalan dan terkesan hanya sekadar menjalankan kegiatan tanpa memikirkan kualitas pekerjaan.

banner 525x280

Pasalnya, di lapangan masih ditemukan sedimentasi lumpur mengendap tebal di dasar saluran irigasi dengan ketebalan diperkirakan mencapai 20 hingga 30 sentimeter.

Kondisi tersebut memicu tanda tanya besar di tengah masyarakat terkait kualitas pengerukan yang dilakukan menggunakan alat berat excavator.

“Kalau lumpurnya masih setebal itu, lalu apa yang sebenarnya dikerjakan? Jangan sampai alat berat hanya mondar-mandir demi menggugurkan pekerjaan, sementara hasilnya nol besar untuk masyarakat,” tegas Taufik dengan nada geram.

Ia menilai lemahnya pengawasan menjadi penyebab utama pekerjaan diduga tidak maksimal. Bahkan menurutnya, proyek yang seharusnya membantu kebutuhan petani justru berpotensi menjadi pekerjaan mubazir apabila sedimentasi masih tertinggal tebal di dasar saluran.

Lebih tajam lagi, Taufik mempertanyakan sikap pihak terkait yang dinilai seolah tutup mata terhadap kondisi di lapangan. Ia juga menyoroti mengapa pihak UPTD Pengairan Rumbia Barat tidak dilibatkan secara serius dalam pengawasan teknis pekerjaan tersebut.

“Ini yang aneh. UPTD pengairan yang paham kondisi lapangan malah seperti tidak dilibatkan. Ada apa sebenarnya? Jangan sampai pengawasan hanya jadi pajangan administrasi, sementara kualitas pekerjaan amburadul,” sindirnya.

Menurutnya, proyek normalisasi irigasi bukan sekadar kegiatan tahunan untuk menghabiskan anggaran, melainkan menyangkut kepentingan ribuan petani yang menggantungkan kebutuhan air dari saluran tersebut.

“Jangan sampai rakyat cuma disuguhi suara alat berat dan debu proyek, tapi hasilnya tidak ada. Kalau pekerjaan dibiarkan seperti ini, masyarakat bisa menilai sendiri bagaimana lemahnya pengawasan di lapangan,” pungkasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak pelaksana pekerjaan maupun instansi terkait belum memberikan penjelasan resmi terkait sorotan tajam atas dugaan pengerukan sedimentasi yang dinilai tidak maksimal tersebut. (Tim-Red)

banner 636x380

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *