H.O.S. Tjokroaminoto, Orang Tua yang Penuh Kasih, Mengasuh, dan Membimbing Soekarno

banner 468x60

Bayangkan Anda adalah seorang anak bangsa yang baru saja memasuki usia remaja di awal abad ke-20. Jika Anda ingin mencari sekolah politik paling murah pada zamannya, datanglah ke rumah H.O.S Tjokroaminoto di Peneleh Surabaya. Gratis, tanpa UKT, tanpa SPP bahkan tanpa skripsi. Meskipun demikian, lulusannya sukses menjadi tokoh besar, ada yang menjadi pemikir, ada yang menjadi proklamator, ada juga yang menjadi tokoh revolusi dunia. Rumah itu mirip warung kopi, tapi menunya bukan STMJ apalagi kopi susu, tapi ide kemerdekaan.

banner 525x280

Tjokroaminoto bukan hanya seorang guru, dia adalah pemimpin pikiran: merawat akal budi, memberi makan imajinasi, dan terkadang tertawa menghadapi kekurangan pemikiran para penjajah yang mengira bangsa pribumi bisa dibungkam selamanya. Dari gang sempit itu, gagasan-gagasan yang kelak menjadi jiwa Pancasila mulai menyebar, seperti aroma gerobak tukang sate yang setiap sore singgah di kampus B. Perlahan menusuk, tapi membuat semua orang memperhatikan.

Di ruang tamu yang karpetnya sudah akrab dengan debu jalanan Peneleh, Tjokroaminoto tidak pernah mengajar dengan wajah tegang seperti birokrat. Sebaliknya, ia membicarakan gagasan kebangsaan kepada murid-muridnya dengan bahasa rakyat. Tampaknya, ia lebih mirip dengan seorang kiai desa yang sedang ngalor ngidul sambil menyalakan obor di kepala santri-santrinya.

Terkadang ia berbicara tentang persatuan sambil memakan pisang rebus, terkadang menyindir kolonial dengan tawa yang riang yang membuat para murid menyadari: melawan tidak selalu dilakukan dengan marah-marah, terkadang cukup dengan ketenangan. Dari cara mengajarnya yang santai itu, lahir generasi pemimpin dengan visi yang beragam namun berakar pada satu cita-cita, yaitu Indonesia Merdeka. Ada yang membawa gagasan nasionalisme ke panggung politik, ada yang menjadikannya sebagai strategi perjuangan bersenjata, bahkan ada yang menyalurkannya ke panggung dunia. Semua berkat dari pelajaran sederhana di rumah Peneleh. Bahwa ide-ide yang diperhatikan dengan baik dapat melewati batas-batas zaman.

Tjokroaminoto memiliki modal utama yang jarang dimiliki oleh politisi zaman sekarang: kesabaran yang hampir menipu lawan. Ia bisa mendengarkan lawan bicaranya sampai mereka kehabisan kata, lalu menjawab dengan senyum tipis yang entah menghibur atau justru membuat lawan berkeringat. Sebagai guru politik, ia menerapkan demokrasi bukan melalui pidato, tetapi melalui teladan. Di hadapan murid-muridnya, ia tidak ragu untuk mencuci gelas sendiri atau mempersilakan tamu makan terlebih dahulu. Ini bukan soal rendah hati dalam teori, tapi kebiasaan yang sudah menjadi akar.

Ketangguhannya bukanlah ledakan kembang api yang ramai sesaat, melainkan bara kecil di tungku yang terus-menerus menghangatkan semangat. Ia bisa saja diam, tetapi ketika berbicara, katanya cukup untuk mengguncang kursi kekuasaan. Tjokro memimpin Serikat Islam hingga menjadi organisasi rakyat terbesar di Hindia Belanda, mengkritik kebijakan kolonial tanpa kehilangan sopan santun—membuktikan bahwa tajamnya pikiran tidak harus disertai dengan nada suara yang tinggi.

Ia juga seorang penganyam keragaman. Murid-muridnya berasal dari berbagai latar belakang: nasionalis, agamis, bahkan yang kelak menjadi tokoh komunis. Semua ia terima tanpa memaksa untuk sama, karena bagi beliau perbedaan hanyalah warna-warni kain yang akan menjadi bendera besar bernama Indonesia. Beliau adalah pribadi yang toleran, sabar, berani, rendah hati menjadi fondasi yang kelak menghidupi setiap sila dalam Pancasila.

Jika ingin menilai seseorang apakah Pancasilais atau tidak, jangan tanya seberapa sering dia mengikuti upacara bendera. Lihat bagaimana dia hidup. Tjokroaminoto, misalnya, tidak pernah memasang Pancasila di dinding ruang tamu, apalagi di feed Instagram-nya, tetapi menanamkannya di kepala murid-muridnya.

Yang pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, dihidupi Cokro tanpa kesombongan berlebihan. Ia mengajarkan agama bukan sebagai palu untuk memukul orang yang berbeda, melainkan sebagai lampu jalan yang membimbing dalam kegelapan. Yang kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, ia lakukan dengan cara memuliakan tamu, baik itu pedagang pasar atau pemuda yang kelak menjadi tokoh dunia.

Persatuan Indonesia? Itu jelas. Rumahnya adalah laboratorium keberagaman: ada yang cenderung nasionalis, ada yang sangat religius, ada juga yang condong kiri, semuanya ia biarkan duduk di satu tikar. Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, diterapkannya dengan metode sederhana: ngobrol hingga larut malam sambil makan camilan, lalu memutuskan sesuatu tanpa berteriak-teriak.

Dan sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, ia perjuangkan melalui Sarekat Islam, organisasi yang memberi ruang bagi pedagang kecil hingga petani untuk memiliki suara. Tjokro sangat memahami, keadilan bukan berarti memberi sama rata, tapi memberi sesuai kebutuhan. Jika lapar maka diberi nasi, bukan disuruh mengikuti rapat terlebih dahulu.

Memang benar, Tjokroaminoto tidak duduk di kursi BPUPKI ketika Pancasila resmi dirumuskan. Tapi jangan kira ia tidak hadir di ruang itu. Kehadirannya justru berlipat ganda lewat para muridnya yang memenuhi kursi-kursi tersebut. Soekarno, misalnya, pernah jadi anak kos di rumahnya. Semangat persatuan dan keberagaman yang ia hirup di Peneleh terbawa sampai pidato 1 Juni 1945 yang melahirkan Pancasila.

Tjokro juga menanamkan tradisi berpikir kritis dan berorganisasi melalui Sarekat Islam. Dari sana, banyak tokoh belajar bahwa politik bukan sekadar rebutan kursi, tetapi medan untuk mensejahterakan rakyat. Pemikiran ini menyebar ke dalam naskah-naskah awal dasar negara, meskipun tidak semua orang menyadari dari mana sumbernya.

Jika Pancasila dibandingkan dengan pohon, Tjokro bukanlah tukang cat yang mewarnai daunnya, melainkan petani yang menanam bijinya jauh sebelum musim kemerdekaan tiba. Ia menyiramnya dengan diskusi, memupuknya dengan keberanian, dan menjaga akarnya dengan nilai kemanusiaan. Maka wajar jika jejaknya tetap tercium di setiap sila, meskipun namanya jarang disebut dalam buku pelajaran.

Dari gang sempit Peneleh, Tjokroaminoto mengajarkan bahwa kemerdekaan tidak lahir dari orang yang memiliki pikiran sempit dan tidak mampu berpikir jernih, melainkan dari mereka yang sabar dalam merawat ide hingga matang. Ia bukan hanya seorang guru politik, tetapi tukang servis pikiran yang memperbaiki yang bengkok, meluruskan yang miring, bahkan menyalakan kembali pikiran yang sudah padam. Murid-muridnya boleh memiliki pandangan yang berbeda, tapi semuanya membawa oleh-oleh nilai kemanusiaan yang ia tanamkan.

Jika hari ini kita masih berselisih tentang siapa yang paling Pancasilais, mungkin kita perlu berkunjung ke rumah Peneleh itu, sekadar untuk mengingat bahwa Pancasila bukan hanya hafalan upacara, melainkan cara kita mengatur hidup bersama. Tjokro telah membuktikan, persatuan tidak membutuhkan palu godam, cukup meja kayu, obrolan panjang, dan keberanian untuk menerima perbedaan. Sayangnya, warisan ini bisa rusak jika kita menyerahkannya kepada anak-anak yang tidak memahami dan orang-orang yang kurang pendidikan yang lebih sibuk menyatakan sesat daripada merawat bangsa.

Maka, sebelum kita berteriak-teriak tentang Pancasila di dunia maya, lebih baik meniru perbuatan Tjokro: buka pintu rumah, siapkan kursi seadanya, dengarkan orang bicara hingga selesai, dan biarkan percakapan berlangsung tanpa saling memotong. Bangsa ini tidak akan runtuh hanya karena memiliki perbedaan pandangan, tetapi akan menjadi rapuh jika kita menutup telinga dan hati dengan rapat.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *