Kepsek SMA Negeri 1 Losarang Angkat Bicara Soal Video Bullying: Fokus pada Pembinaan, Bukan Hukuman

Forum Kota0 Dilihat
banner 468x60

– Dunia digital kembali digemparkan oleh beredarnya video selama 47 detik yang memperlihatkan tindakan kekerasan terhadap seorang siswa di lingkungan SMA Negeri 1 Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Video yang pertama kali muncul di berbagai platform media sosial pada hari Rabu, 19 November 2025 malam itu segera mendapat kritikan dari pengguna internet.

banner 525x280

Di dalam rekaman yang diambil menggunakan ponsel, terlihat seorang siswa laki-laki berpakaian seragam olahraga putih-biru sedang duduk di lantai dengan tangan dan kakinya diikat menggunakan tali raffia.

Beberapa siswa lain yang memakai seragam yang sama tampak mengelilingi korban sambil melakukan tindakan yang diduga merupakan kekerasan fisik dan verbal.

Korban terlihat tidak melakukan perlawanan yang nyata, sementara pelaku terdengar tertawa dan sesekali mendorong atau menarik tubuh korban.

Sampai berita ini dirilis, video tersebut telah dibagikan ribuan kali dan memicu tagar StopBullyingLosarang di media sosial.

Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Losarang, Ade Sumantri, memberikan pernyataan mengenai video yang viral saat diwawancarai oleh wartawan di ruang kerjanya, Kamis 20 November 2025 siang. Menurutnya, kejadian tersebut dimulai dari candaan antar teman yang terlalu berlebihan.

“Sebenarnya anak-anak sedang bermain-main dengan temannya. Karena permainannya terlalu berlebihan, ada yang merasa sakit hati. Oleh karena itu hari ini kami langsung mengumpulkan semua pihak yang terlibat,” kata Ade Sumantri dengan nada tenang.

Ia menekankan bahwa pihak sekolah tidak langsung menganggap anak-anak tersebut sebagai pelaku kejahatan. “Namanya juga anak-anak, masih dalam masa pembinaan. Perilaku remaja yang seperti ini memang sering terjadi, tetapi kita harus membimbing mereka,” tambahnya.

Ade Sumantri juga menjelaskan latar belakang seorang siswa yang menjadi korban dalam video tersebut. “Anak ini orang tuanya telah bercerai, ibunya bekerja di luar negeri, sedangkan ayahnya sudah tidak tinggal bersama. Jadi memang terjadi sedikit kurangnya pengawasan dari keluarga,” katanya tanpa menyebutkan identitas siswa tersebut.

Pihak sekolah, lanjut Ade, berkomitmen menjaga dan mengembangkan seluruh siswa agar kejadian serupa tidak terjadi lagi. “Kami perlu melindungi mereka, perlu membimbing mereka agar menjadi lebih baik ke depannya,” tegasnya.

“Kita terus mengajarkan mereka agar menjadi siswa terbaik di sekolah ini. Semoga kejadian ini bisa menjadi pelajaran berharga dan membawa perubahan positif dalam pendidikan di SMA Negeri 1 Losarang,” tutup Ade Sumantri.

Sampai saat ini, pihak sekolah mengklaim masalah ini telah selesai dengan memanggil orang tua atau wali dari semua siswa yang terlibat, baik sebagai pelaku maupun korban, untuk dilakukan mediasi dan pembinaan lanjutan.

Masih menjadi topik pembicaraan hangat di kalangan masyarakat Indramayu serta mendapat perhatian khusus dari Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) setempat.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *