Kolom Jayanto Arus Adi : Metamorfosa (Pelajaran) dari Joko Widodo (1)

banner 636x380

Kamis lalu, Padepokan Kang Sosro didatangi banyak tamu. Tidak seperti biasanya, kali ini pakai tambah tratag. ‘’Kang Sosro mau punya gawe ‘gedhen’. Hajad apa ya, belum lama mantu gedhe-gedhean (gedhe banget),’’begitu gumanku grenengan sendiri dalam hati. ‘’Kalau pakai tratag segala, bakal ada tamu istimewa ini, ya ini mesti gedhen,’’ gumanku lagi mengunyah uneg-uneg

Kamis lalu itu, kebetulan sidang lanjutan pencemaran nama baik Joko Widodo. Agendanya mendengar keterangan sang mantan Presiden RI ke-7 atau menurut Bahlil Lahadalia dijuluki Raja Solo jadi saksi. Kang Sosro, mantan jurnalis yang giat berkhikmat di bidang sosial, civil society sangat takzim pada Joko Widodo. Dia meradang kadang langsung menghardik juga mereka yang bicara nglantur soal ayahanda Gibran Rakabuming Raka langsung dihardik.

banner 636x380

‘’Catat ya, catat Pak Joko Widodo itu ‘bapak’ kita. Panutan kita, pemimpin kita. Presiden RI ke-7. Beliau junjungannya wong cilik, seperti kita-kita ini. Bapak infrastruktur, yang membebaskan Papua dari keterbelakangan, ‘mengambil alih’ Freeport, ‘Bapak’ IKN. Mbok ya kita ini bisa mikul duwur mendhem jero,’’begitu beber Kang Sosro.

Meski tanpa ‘ulem-ulem’ atau undangan resmi, seluruh kerabat berkumpul di Padepokan Hargo Dumilah. Katanya ‘slenting-slenting’ ada undangan khusus. ‘’Rocky Gerung, Tanto Mendur, Prof Saratri, juga Butet Kerta Rajasa katanya juga diundang. Tapi tidak tahu, beliau-beliau sudah konfirmasi hadir atau tidak,’’jelas Gus Attok kerabat dalam Kang Sosro yang mengurusi tetak bengek kegiatan.

Kang Sosro melabeli Padepokannya dengan menyematkan nama Hargo Dumilah, tempat keramat di Puncak Lawu itu. Sejak sore kemarin, aktivitas di padepokan meningkat, sejumlah Linmas (petugas keamanan, dulu Hansip) dengan seragam kebesaran berjaga-jaga di sana. Meski di padepon sering ada acara, tetapi kali ini memang, kelihatan ‘gedhen’.

‘’Dulur semua, hari ini kita selamatan, doa bersama, sekaligus menyaksikan sidang ‘junjungan’ kita Pak Jokowi . Semoga setelah ini kondisi adhem. Semua jadi lerem, dan kan tahu juga paham sopo salah seleh, sopo nandur ngunduh. Kita doakan beliau (Pak Jokowi-red) diberi kelancaran, kemudahan, dan selamat,’’ujar Kang Sosro menyela waktu di tengah suasana ribet persiapan persamuan.

Sejak kemarin kegiatan ada saja, tidak pernah berhenti, diskusi berupa-rupa berlangsung sampai larut. Buat anggota Padepokan Hargo Dumilah sosok Jokwi begitu memateri. Itu yang membuat mereka rela gotong royong membantu persiapan di Padepon Hargo Dumilah. Tanpa formil-formilan pakai ropat-rapat langsung sat-set gerak cepat dengan tugas masing-masing. ‘’Jangan lupa ada yang sowan lurah Pujo untuk ngaturi rawuh, sekalian minta izin, juga doa restu,’’pesan Kang Sosro.

Letak padepokan dengan Ndalem Pak Lurah Pujo tidak terlalu jauh. Ndalem Pak Lurah ada pendoponya juga, Malah ‘mangku’ Kali Kidul jadi gemericik sungai. Di pendopo itu setiap Malam Jum,at Kliwon, atau setiap ‘selapanan’ ada kumpulan Desa.

Rumah saya selemparan pandangan mata di seberang sungai melewati jembatan kecil, jalan kaki karena mobil tidak bisa sampai halaman. Rumah biasa, sama sekali jauh dari kemewahan, tapi suasananya eksotik, samping belakang rumah ada rumpun bambu, kiri-kanan pohon duren, juga manggis. Persis rumah dalam kisah film ‘Little house on the Prairie’. yang diangkat dari seri buku karya Laura Ingalls Wilder.

Kembali soal rumah Kang Pujo, ketika Mbah Sastro, ayah Kang Pujo masih sugeng (hidup) setiap Malam Jum,at Kliwon selalu ada ‘Ndolalak’. Mbah Sastro itu tokoh ‘dug deng, ibaratnya ‘demit ra ndulit, setan ra doyan’. Dia ‘wong pinter’, dukun Ndolakak, tabib juga, banyak warga minta tolong ‘disuwuk’ kalau sakit. Semua penyakit bisa ditangani, kecuali ‘kanker’ alias kantong kering. ‘’Loro kere ora ana tambane, tambane yo kerjo, gemi, ora royal, ora Malima (Main, madon, madat, minum dan maling),’’salah satu sesanti Mbah Sastro ketika masih sugeng (hidup).

Ndolalak Budi Santoso yang terkenal, cikal bakalnya dipahat di sini (Rumah Mbah Sastro). Baru setelah beliau meninggal diteruskan Pak Rebino. Pak Rebino maestro Ndolalak Kota Pensiunan di Tlatah Pegunungan Menoreh bagian selatan. Pak Rebino saking ahlinya dilabeli Profesor Ndolalak.

***

Tahu ada ramai-ramai Cak Rizal ikut bergabung dan nimbung pembicaraan. Sejak jadi pengurus partai Cak Rizal kelihatan tambah sibuk. Jadi kalau ada kumpul-kumpul di Padepok jarang datang. Selain tambah sibuk Rizal tambah kaya, makmur. Pakaiannya perlente, pakai kacamata bulet, tak ketinggalan klepas-klepus isap cerutu. ‘’Ayo ini rokok sehat, coba’o coba’o sambil merajuk temen-temanya untuk bersulang nyigar (cerutu),’’ujarnya hangat.

Hebatnya Cak Rizal, setiap kali datang diskusi tambah gayeng. Sebenarnya untuk kegiatan kali ini di Padepokan Hargo Dumilah, Cak Rizal sengaja tidak dikabari. Kang Sosrto sudah wanti-wanti jangan info ke Cak Rizal karena dia sangat anti Jokowi.

‘’Jarno ae, wis jarno ae, ben rasakno, dadi Presiden ugal-ugalan. Mosok anak didadekno Wakil Presiden, mantune didadekno Gubernur. Ngono iku kok belani,’’begitu kata Rizal kala itu.

Akhir-akhir ini Rizal banyak berubah, rupanya sejak masuk jadi pentholan Parpol di pusat sikapnya tambah bijak. ‘’Apa dia sudah insyaf ya, atau mungkin dapat pencerahan dari Rochy Gerung. Tapi bener lhoo Cak Rizal sekarang lebih smart,’’begitu seloroh Kang Pujo ketika disowani untuk memberi undangan ke Gus Attok.

Yang mengejutkan Cak Rizal punya penilaian tersendiri terhadap Roy Suryo. ‘’Aku ini temen, temen cidek sama Roy Suryo, tapi saya nggak setuju, dan nggak paham lagi dengan sikap dan langkah yang Roy pilih ,’’kata Rizal mencoba masuk dalam tema diskusi. Rizal tidak percaya, curiga pol-polan aksi dan manuver Roy Suryo ada yang ‘mbandari’, jadi ada dalangnya. ‘’Nah, kita lihat nanti apa penilaian hakim atas keterangan Pak Jokowi. Itu yang kita harus tunggu,’’ cetus Rizal penuh semangat. (bersambung)

Jayanto Arus Adi- Wartawan Seniior, Ahli Pers Dewan Pers. Assesor UKW PWI Pusat, Selain aktif menjadi Ahli Pers dipercaya menjadi Ketua SMSI Jawa Tengah juga Wakil Ketua SMSI Pusat. Iniisiator MOJO (Mobil Journalis Indonesia) dan menjadi Ketua Umum. Selain itu ikut berkontribusi di Satu Pena, organisasi penulis yang diketuai Denny JA. Alumni FIB Undip dan sedang menempuh program doktoral di Unsoed Purwokerjo, konsentrasi Komunikasi Agribisnis. ***

banner 636x380