Lesbumi NUJU Rilis ‘Manifesto Kehikmatan’ Jelang Muktamar Kebudayaan Dijombang, Dorong Pancasila Jadi Mercusuar Dunia

banner 468x60

Forumkota.id _ Lamongan, 10 Juni 2026 – Menyambut gelaran Muktamar Kebudayaan yang diinisiasi oleh Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU di UNWAHA Tambak Beras Jombang, Lesbumi NUJU secara resmi merilis naskah penting bertajuk “Manifesto Kehikmatan (Anak-Anak Peradaban)”, Rabu (10/6).

Manifesto ini lahir sebagai saripati perenungan mendalam atas situasi kebangsaan saat ini, sekaligus menawarkan peta jalan spiritual dan kultural berbasis Pancasila yang akan dibawa ke forum muktamar pada 12-14 Juni 2026 mendatang.

banner 525x280

Perwakilan dari Lesbumi NUJU, Jogo Wengi, menegaskan bahwa manifesto ini bukan sekadar naskah pelengkap di atas kertas, melainkan sebuah panggilan kesadaran bagi seluruh elemen bangsa.

“Manifesto Kehikmatan ini adalah alarm spiritual yang ditiupkan dari sunyinya malam, setelah kami menyaksikan dinamika dan persoalan yang menimpa bangsa ini. Kami bergerak bersama memanggil seluruh ‘Anak Peradaban’ untuk setia pada blok Kehikmatan demi menjaga jati diri bangsa,” ujar Jogo Wengi saat memberikan keterangan kepada media.

Enam Poin Utama Manifesto Kehikmatan
Secara garis besar, Manifesto Kehikmatan ini merumuskan enam poin tuntutan dan rekomendasi kebudayaan yang strategis, antara lain:

1. Penegakan Kedaulatan Ekonomi dan Sumber Daya: Memberikan rekomendasi kepada Presiden RI, DPR RI, MPR, DPD, MA, dan unsur lembaga negara lainnya agar persoalan Tanah Air benar-benar dikelola berdasarkan amanat Pasal 33 ayat 1 dan 2 UUD 1945.

2. Konsolidasi Kebudayaan dan Kebangkitan Spiritual: Mengamanatkan kepada seluruh peserta muktamar untuk melakukan konsolidasi kebudayaan dengan unsur lainnya, guna mendorong Sumpah Budaya (Pancasila) dan melahirkan Hari Kebudayaan Nusantara sebagai titik tengara kebangkitan spiritual menuju bangsa Mercusuar Dunia.

3. Pancasila sebagai Tolok Ukur Peradaban: Menegaskan Pancasila sebagai jati diri bangsa yang harus menjadi tolok ukur utama dalam membangun peradaban di segala sektor, terutama pada sektor politik, ekonomi, dan kebudayaan Indonesia.

4. Pembangunan Ruang Karakter Bangsa (Gedung Garuda Pancasila): Meminta Presiden dan DPR RI untuk membuat Sarang/Gedung Garuda Pancasila (Kebudayaan) di setiap Kabupaten/Kotamadya di seluruh Indonesia sebagai sarana penguatan pembangunan jiwa (character building / Olah Pikir dan Rasa) sekaligus penyeimbang pembangunan olah raga.

5. Revitalisasi Simbol dan Nilai Tradisi: Memperkuat kembali nilai pelambang, pasemon (sindiran bijak), dan panembang di berbagai lini pembangunan sebagai sarana edukasi visual di sekolah, perkantoran, batas wilayah, desa, dan tempat publik lainnya.

6. Transformasi Edukasi Berbasis Seni dan Rasa: Mendorong Menteri Kebudayaan dan Pendidikan agar memberi ruang luas kepada bahasa Gerak, Warna, dan Nada dalam pembentukan karakter di sekolah dan perguruan tinggi, agar penyampaian makna tidak melulu didominasi bahasa kata (verbal).

Mengembalikan Pancasila Melalui Pendekatan Rasa
Menanggapi poin-poin di atas, Kiyai Muklis, yang juga menjadi salah satu tokoh sentral dalam perumusan manifesto ini, menyoroti pentingnya reposisi Pancasila agar tidak sekadar menjadi jargon politik, melainkan hidup dalam ekspresi seni dan karakter.

“Pancasila itu jati diri. Untuk membangun peradaban yang kokoh, sektor politik dan ekonomi kita harus punya tolok ukur budaya,” ungkap Kiyai Muklis.

Beliau juga menggarisbawahi pentingnya poin keempat dan keenam terkait dunia pendidikan. “Pendidikan karakter tidak bisa didominasi oleh bahasa kata atau hafalan saja. Rasa itu harus disentuh lewat seni, lewat bahasa gerak, warna, dan nada. Itulah mengapa kami juga mendesak pemerintah membangun ‘Sarang Garuda Pancasila’ di tiap daerah sebagai penyeimbang olah raga, agar olah pikir dan olah rasa anak bangsa ini seimbang,” tambah Kiyai Muklis.

Melalui perilisan manifesto ini, Lesbumi NUJU berharap gagasan mengenai Sumpah Budaya dan penetapan Hari Kebudayaan Nusantara dapat dikawal bersama oleh seluruh peserta muktamar. Langkah ini diyakini akan menjadi titik awal kebangkitan spiritual baru yang membawa Indonesia tegak berdiri sebagai Mercusuar Dunia, tanpa meninggalkan utang tanggung jawab moral bagi generasi masa depan.

Tim – sunariyanto

banner 636x380

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *