Sebenarnya saya malas menulis artikel ini, tapi terkadang ‘sampah’ di dalam pikiran sudah terlalu penuh dan saya tidak tahu harus berkata kepada siapa untuk mengeluarkan keluh kesah. Kondisi ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja yang menyebabkan kebanyakan orang berjerih lelah berusaha membeli ‘sebongkah berlian’ untuk keluarga tercinta. Mendengar permasalahan orang lain? Masalah keluarga sendiri aja sudah banyak, masa ngurusin masalah orang lain! Mungkin begitu pemikiran kebanyakan warga.
Menulis segala kejengkelan sedikit banyak bisa melepaskan kepenatan hidup dan membuka cakrawala berpikir. Untuk itulah, saya menulis artikel ini, meskipun masalah-masalah saya yang lain juga menumpuk di benak saya.
Doni (bukan nama asli), tetangga yang berprofesi sebagai penjual nasi kuning seperti tidak pernah habisnya membuat masalah dengan kami, yaitu saya dan Andrew (nama samaran), kakak laki-laki saya.
Jika dulu, Doni pernah menggunakan halaman rumah kami sebagai tempat menjemur, dan saat kami kembali menempati rumah kami, dia masih tidak tahu diri dan bertanya, “Tidak apa-apa kalau jemuran kami di sini,” yang tentu saja kami langsung menyatakan keberatan terhadap keberadaan celana dalam, pakaian dalam, dan segala pernak-pernik milik keluarga Doni yang terpampang jelas di depan kami!
Kali ini, perbuatan Doni adalah mengadakan resepsi pernikahan putrinya di jalan umum, tepatnya dengan menutup jalan di blok kami dari rumahnya ke lima rumah berikutnya di sisi kiri dan kanan. Rumah kami berada di tengah tenda pernikahan, tepatnya di sebelah posisi tengah tenda pernikahan.
Resepsi pernikahan akan diadakan pada hari Minggu, 20 Juli 2025. Dan pada hari Kamis, 17 Juli 2025, tampaknya sudah ada tanda-tanda pemasangan tenda pernikahan yang segera akan terwujud.
Mengapa di jalan?
Ya, asumsi bahwa segala sesuatu selalu berkelindan dalam hati, terlebih mengenai sesuatu yang dirasa merugikan. Pertanyaan “Mengapa mengadakan resepsi pernikahan di jalan umum?” muncul, dan saya hanya bisa menebak-nebak.
Asumsi pertama, Keterbatasan dana untuk menyewa gedung atau ruang untuk resepsi.
Bukan bermaksud meremehkan atau melecehkan, tapi Doni sudah bertahun-tahun menyewa rumah di sebelah rumah kami (sebelumnya Doni pernah menyewa rumah kami) dan profesinya hanya sebagai penjual nasi kuning yang awalnya keliling kompleks perumahan dengan sepeda motor dan sekarang, berjualan di depan sebuah toko di kompleks, karena sudah tidak kuat berkeliling dengan sepeda motor. “Lelah. Ada penyakit. Lebih baik berjualan di satu tempat,” kata Doni singkat saat ditanya mengenai hal tersebut.
Tentu saja, hanya untuk membayar uang sewa rumah sudah berat, apalagi menyewa gedung atau ruangan untuk acara pernikahan yang hanya berlangsung sehari saja. Mungkin di pikiran Doni, lebih baik uang digunakan untuk membayar uang sewa rumah.
Asumsi kedua, faktor tidak repot berpindah dari lokasi akad nikah ke gedung resepsi. Dengan mengadakan di satu lokasi, maka memudahkan untuk berpindah dari akad nikah di tenda pernikahan ke kursi pelaminan juga di tenda pernikahan.
Apalagi dengan adanya aturan yang dapat menutup jalan umum untuk acara pribadi dengan ketentuan-ketentuan yang harus diikuti. Mungkin itulah sebabnya Doni mengambil langkah ini, menyelenggarakan resepsi pernikahan putri kesayangannya di jalan umum di depan rumah.
Ketidaknyamanan dan kesulitan dalam akses keluar masuk
Drama dimulai. Pemasangan tenda pernikahan pada hari Kamis, 17 Juli 2025 pukul lima sore sangat tidak terduga. Saat itu saya pulang ke rumah untuk mandi dan makan sebelum kembali pergi mengajar di bimbingan belajar. Melihat besi-besi yang berserakan tidak beraturan di jalan dan menumpuk di depan rumah saya, terutama di depan tangga menuju pagar rumah, tentu saja membuat saya tidak senang.
Saya sempat berpikir sejenak. Menghentikan sepeda motor sambil berpikir, mempertimbangkan apakah akan memasukkan sepeda motor ke halaman rumah atau tetap meletakkan sepeda motor di luar pagar.
“Mau masuk ya, Pak?” tanya seorang pria yang mendekati saya.
“Iya,” jawab saya singkat.
Ada seorang pria lagi yang datang dengan malas, menggeser batang-batang logam tenda pernikahan dengan setengah hati, lalu berkata, “Di sini bisa lewat,” tangannya menunjuk ke arah pinggir naikkan sebelah kiri yang tidak terlalu lebar menuju pagar rumah saya.
“Saya parkir motornya di sini saja. Saya ingin pergi lagi,” Saya segera turun dari sepeda motor, karena waktu sangat sempit dan orang-orang ini sama sekali tidak membantu.
Bersihkan diri secepatnya dan makan secukupnya. Dua hal yang saya butuhkan saat itu. Setelah menyelesaikan dua kebutuhan tersebut, saya segera keluar rumah dan menuju ke sepeda motor andalan saya. Seperti yang saya duga. Ada seseorang yang memindahkan posisi sepeda motor saya, meskipun saya sudah mengunci setang sepeda motor.
Kesabaran saya mulai memudar. Untuk masuk ke halaman rumah saya sendiri, saya harus meminta bantuan orang lain yang menempatkan batang-batang besi untuk sedikit menggeser posisi batang-batang tersebut, yang pada akhirnya tidak terjadi, karena orang-orang lain tersebut enggan melakukannya.
Pikiran saya terganggu oleh tiang-tiang tenda pernikahan dan hal-hal yang akan datang kemudian, seperti kursi-kursi untuk tamu undangan dan stan makanan untuk resepsi pernikahan. Kecemasan sulitnya masuk ke halaman rumah sendiri menjadi kegalauan dalam hati.
Syukur kepada Tuhan, saat pulang pada pukul 21.00 WITA, belum ada kursi-kursi. Gerai-gerai makanan sudah berjejer dengan rapi.
Jumat dan Sabtu sudah mulai ramai dengan pernak-pernik hiasan di tenda pernikahan, khususnya yang berkaitan dengan menghias kursi pelaminan dan hiasan kecil di bawah tenda pernikahan. Untungnya, saya masih bisa melewati segala kesibukan tersebut.
Dan hari Minggu, 20 Juli 2025 tiba. Malam sebelumnya, di hari Sabtu, 19 Juli 2025, saya pergi tidur lebih awal dari biasanya. Pukul 21.00 WITA, saya sudah berada di dunia kasur dengan tujuan agar bisa bangun cepat pada pukul 04.00 WITA keesokan harinya, Minggu, 20 Juli 2025. Dan syukur kepada Tuhan, saya bangun sesuai waktu, segera mandi, berpakaian rapi untuk segera keluar rumah dengan tujuan beribadah di gereja pada pukul enam.
Dan “ancaman-ancaman” penghalang sudah terpampang di depan mata saat keluar rumah.
Untungnya (lagi-lagi), ada tujuan yang membantu saya menuju ke sasaran. Ibadah pukul enam membantu saya bangun pagi dan tidak bingung harus pergi ke mana. Jika perpustakaan buka 24 jam setiap hari dan taman kota juga terbuka untuk umum selama 24 jam nonstop, mungkin tujuanku akan berbeda (kapan perpustakaan dan taman kota 24 jam benar-benar terwujud? Atau hanya khayalan?).
Jika terlambat keluar rumah, saya tidak akan bisa keluar rumah sehari-hari, karena sepeda motor masih berada dalam ‘kandang’.
Ibadah di gereja berlangsung selama sekitar dua jam. Setelah itu? Ada beberapa hal yang harus saya lakukan, dan setelah itu, saya mengikuti ibadah lagi sebanyak tiga kali dengan jarak waktu yang cukup jauh. Dengan demikian, di antara ibadah-ibadah tersebut, saya dapat melakukan aktivitas-aktivitas lain yang juga penting, seperti makan siang dan menulis.
Saya sibuk sepanjang hari di luar rumah untuk menghindari ‘keributan’ yang ada di depan rumah, melalui speaker-speaker sebesar gaban yang pasti memiliki efek ‘kece badai’ bagi sepasang mempelai yang bahagia beserta keluarga besar dan tamu undangan, tetapi sangat menyiksa gendang telinga yang berdampak pada kerusakan pendengaran. Apalagi arah speaker-speaker tersebut menuju rumah kami! Jendela dan segala sesuatu di dalam rumah akan bergetar karena suara musik yang sangat keras.
Setelah beraktivitas seharian di luar rumah dan mengikuti empat kali ibadah, akhirnya saya pulang ke rumah saat hari sudah gelap pada pukul 20.00 WITA. Dan pastinya, resepsi pernikahan sudah berakhir jauh sebelum itu.
Saya sudah makan malam di luar, tetapi saya berharap Doni memberikan sisa makanan dari resepsi pernikahan. Saya mengangkat penutup meja makan, dan hasilnya: kosong! Tidak ada makanan atau minuman yang datang ke rumah kami melalui Andrew, padahal kami adalah tetangganya langsung yang tinggal di sebelah rumahnya. Dengan memberikan makanan dan minuman dari resepsi pernikahan putri Doni, setidaknya itu merupakan tanda permintaan maaf Doni dan keluarganya karena telah menimbulkan ketidaknyamanan akibat gangguan suara; serta kesulitan yang mereka timbulkan terhadap kami karena menutup akses jalan masuk dan keluar kendaraan bermotor dari dan ke rumah kami.
Harapan saya
Setiap orang memiliki harapan tersendiri mengenai masa depan. Kenyamanan dalam tinggal di rumah dan ketenangan di lingkungan sekitar adalah dua hal yang diperlukan agar dapat tinggal di rumah dengan damai dan sejahtera.
Semoga Doni sebagai “tetangga sebelah langsung” bisa menyadari bahwa hajatan yang dia lakukan sudah mengganggu kenyamanan tetangga dan menyulitkan akses jalan keluar masuk kendaraan bermotor dari dan ke rumah kami.
Semoga suatu hari nanti dia mengadakan resepsi pernikahan di gedung, ballroom hotel, atau tempat-tempat yang memang ditujukan untuk itu.
Jalan umum harusnya untuk umum. Jangan mengorbankan kebutuhan pengguna jalan yang lain, apalagi merugikan warga yang tinggal di lingkungan tersebut bahkan menyulitkan mereka untuk masuk ke rumah mereka sendiri. Apakah harapan tersebut bisa terwujud di negara +62? Ya, hanya bisa berharap.
