Tariske dan Barongan Jepaplok: Nafas Budaya dari Kaki Bukit Wonosalam Jombang

Humaniora163 Views

Poin Penting:

  • Pengrajin Barongan Jepaplok asal Jombang tidak hanya membuat topeng, tetapi juga menjaga cerita dan filosofi yang hidup di baliknya.
  • Barong ibarat raja dengan sifat jahat. Ia mengenakan jamang atau mahkota yang digambar dengan naga liman gabungan paksi, naga, dan gajah.
  • Pembuatan satu unit barongan bisa memakan waktu satu bulan, tergantung tingkat kerumitannya.

Laporan Wartawan, Anggit Puji Widodo

, JOMBANG– Di sudut tenang di lereng Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, terdengar ketukan saling bersahutan dari gesekan amplas.

Di tengah tumpukan serpihan kayu waru krisik, di sana duduk seorang pemuda dengan pandangan penuh fokus dan konsentrasi penuh.

Dilihat dari segala sudut pandang, tangan pemuda itu sangat gesit dalam mengukir detail ukuran pada sepotong kayu yang perlahan membentuk wajah khas barongan.

Mata yang besar menyala, mulut menyeringai serta mahkota yang dihiasi gambar naga liman.

Tariske Valentine, seorang pemuda berusia 23 tahun, warga Dusun Sanggar, Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam, Jombang, adalah orangnya.

Usianya masih muda, namun ia telah menjadi salah satu pengrajin Barongan Jepaplok yang gigih dalam menjawab warisan budaya Jawa.

“Saya tidak hanya membuat topeng, tetapi juga menjaga cerita dan filosofi yang hidup di baliknya,” katanya, Kamis (24/7/2025).

Ketertarikan Tariske terhadap barongan muncul sejak duduk di bangku SMP.

Ia sering menonton pertunjukan kesenian rakyat.

Dari sering menonton, ia pun tertarik pada karakter topeng yang dimainkan para penari.

Saat teman sebayanya sibuk dengan gadget, Tariske justru memilih belajar mengukir.

“Saya belajar mandiri. Awalnya dari coba-coba. Lama-lama, saya semakin memahami bentuk, makna, hingga teknik pewarnaannya,” katanya melanjutkan.

Kini, hampir satu dekade ia menekuni kerajinan Barongan Jepaplok.

Bukan sekadar produk seni, setiap karyanya penuh dengan filosofi. Baginya, barong bukan tokoh sembarangan.

“Barong ibarat raja dengan sifat jahat. Ia mengenakan jamang atau mahkota yang berpola naga liman gabungan paksi, naga, dan gajah. Semua itu adalah simbol kekuatan besar, tapi belum tentu digunakan secara bijaksana,” katanya.

Dalam prosesnya, pembuatan satu unit barongan bisa memakan waktu satu bulan, tergantung tingkat kerumitan.

Bagian yang paling sulit, menurut Tariske, adalah membuat kepala barong.

“Presisi adalah kunci. Kanan dan kiri harus simetris. Jika tidak seimbang, karakternya bisa berubah,” katanya.

Bahan yang dia gunakan pun tidak sembarangan.

Kayu waru krisik dipilih karena ringan dan mudah dibentuk.

Setelah ukiran selesai, proses pengecatan dilakukan dengan kombinasi warna-warna mencolok agar tampil mencuri perhatian saat dipentaskan.

Harga satu barongan buatannya berkisar antara Rp 4 juta hingga Rp 7,5 juta. Itu belum termasuk kostum, yang biasanya dipesan terpisah.

Meskipun harganya tidak bisa disebut murah, peminatnya justru datang dari berbagai daerah, mulai dari Jombang, Kediri, Mojokerto, hingga Kalimantan dan Sumatera.

Puncak pesanan biasanya terjadi menjelang bulan Agustus, bertepatan dengan musim pertunjukan seni rakyat dalam rangka HUT RI.

Pada momen itu, Tariske tidak hanya menjadi pengrajin, tetapi juga penggerak budaya.

“Keramaian di bulan Juni hingga Agustus. Banyak yang membutuhkannya untuk pentas. Saya senang, artinya barongan masih dicari dan dihargai,” katanya.

Di tengah era digital dan budaya instan, pilihan Tariske untuk tetap mempertahankan kerajinan tradisional bukanlah hal yang mudah.

Tetapi bagi pemuda ini, warisan budaya bukan hanya untuk diingat, melainkan dijaga agar tetap hidup dan berkembang.

“Jika bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Budaya Jawa itu kaya. Sayang kalau hanya menjadi pajangan museum,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *