PIKIRAN RAKYAT –Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tasikmalaya melaporkan terdapat 184 titik bencana yang tercatat sampai dengan 18 November 2025. Dari angka tersebut, sebagian besar kejadian bencana disebabkan oleh cuaca ekstrem sebanyak 13 peristiwa, 3 banjir, dan 6 bencana tanah longsor.
BPBD melaporkan bahwa bencana ini memengaruhi sebanyak 143 keluarga atau 422 orang, termasuk 39 kelompok yang rentan. Selain itu, ada 4 keluarga atau 9 jiwa yang harus mengungsi akibat peristiwa tersebut.
Sementara untuk kerusakan fisik, BPBD mencatat sebanyak 141 rumah terkena dampak, yang terdiri dari 94 rumah mengalami kerusakan ringan, 21 rumah mengalami kerusakan sedang, 6 rumah mengalami kerusakan berat, serta 19 rumah yang masih belum memiliki informasi mengenai tingkat kerusakannya.
Berbagai fasilitas umum juga terdampak oleh bencana, yaitu 1 tempat ibadah, 5 institusi pendidikan, 1 fasilitas kesehatan, 28 akses jalan, 20 fasilitas yang terendam, serta 31 fasilitas lainnya.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Tasikmalaya Ucu Anwar Surahman menegaskan bahwa masalah banjir yang terjadi setiap tahun tidak dapat dipisahkan dari kondisi sungai yang semakin memprihatinkan.
Mereka menyoroti bahwa banyak sungai di Kota Tasikmalaya kini mengalami penyempitan akibat endapan tanah dan tumpukan limbah, sehingga kemampuan alirannya berkurang dan menyebabkan banjir.
“Secara kasat mata, kita sudah tidak lagi melihat sungai yang utuh. Luasnya banyak yang hilang. Bahkan, badan sungai kini telah berubah fungsi menjadi warung, toko, bahkan rumah,” kata Ucu, Rabu 19 November 2025.
Ucu menekankan bahwa bila fungsi sungai ingin dipulihkan, Pemerintah Kota Tasikmalaya perlu mengambil tindakan keras guna mengembalikan kondisi badan sungai seperti semula.
Ia menegaskan bahwa jika sungai terus tertutup dan kehilangan kemampuannya untuk mengalir, hal ini bisa berdampak signifikan terhadap kelangsungan hidup masyarakat di masa depan.
Ia juga menyoroti hilangnya daerah penyerapan air akibat perubahan fungsi lahan. Sawah, kolam, dan ruang terbuka yang dahulu berperan sebagai penahan air, kini telah banyak berubah menjadi bangunan dan infrastruktur.
Menurut Ucu, masyarakat diharapkan dapat berperan dalam mengurangi risiko banjir dengan menyediakan kembali area penyerapan air di sekitar tempat tinggal mereka.
“Kami mengajak masyarakat untuk mempersiapkan resapan air. Jalan-jalan yang telah terlalu aspal sebaiknya digali kembali dan disediakan ruang untuk membuat biopori,” katanya.
Ucu menyampaikan, upaya pencegahan bencana tidak mungkin berjalan tanpa kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, mengingat semakin meningkatnya titik bencana serta kerusakan fasilitas dalam beberapa waktu terakhir.
“Kami berharap berbagai tindakan pengelolaan sungai dan peningkatan daerah penyerapan air segera dilaksanakan agar risiko banjir bisa diminimalisir,” katanya.***













