Bahas Transformasi, Ketua DPRD Demak Kumpulkan 200 Pengurus Pesantren dan Perempuan NU

banner 468x60

Forum Kota | Demak – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Demak, Zayinul Fata yang juga Ketua DPC PKB Demak, mengumpulkan 200 pengurus pondok pesantren (ponpes) dari berbagai wilayah di Kota Wali. Pertemuan ini menjadi ajang diskusi interaktif mengenai gagasan transformasi wajah pesantren di masa depan.
Acara ini digelar di Rumah Dinas Ketua DPRD Demak, Jalan Sultan Hadiwijaya, Kecamatan Demak dua hari berturut-turut Sabtu  Sore 28/2/2026, dan Minggu Siang 1/3/2026. Suasana gayeng terlihat saat para kiai dan pengurus pesantren berbaur dalam diskusi interaktif yang dipadukan dengan acara buka bersama tersebut.
Zayinul Fata, atau yang akrab disapa Zayin, menegaskan bahwa pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi biasa. Ia menekankan pentingnya sinergitas antara pemerintah dan pengelola pesantren untuk melakukan pembenahan manajerial dan infrastruktur.”Hari ini kita kumpulkan sekitar 200 pengurus pesantren. Poin utamanya adalah kita bicara soal transformasi pesantren. Kita ingin mengubah wajah pesantren agar semakin relevan dengan tantangan zaman,” ujar Zayin usai acara, Sabtu (28/2/2026).

Demikian halnya pada pertemuan dengan 200 Perempuan NU, Zayin mendorong agar para pengurus perempuan juga dilibatkan dalam pengambilan keputusan strategis. Mulai dari perencanaan pembangunan gedung hingga pengelolaan keuangan pesantren.

banner 525x280

“Perempuan jangan cuma dianggap kanca wingking yang tugas utamanya cuma masak buat santri. Tidak bisa begitu lagi. Perempuan harus ada di meja rapat, ikut menentukan kebijakan. Kalau perempuan dilibatkan, tata kelola pesantren pasti lebih rapi dan ramah anak,” tutur Zayin.

Zayin menyoroti isu krusial mengenai lingkungan pesantren seperti stigma pesantren yang kumuh. Stigma itu harus dihilangkan sepenuhnya melalui perbaikan sarana dan prasarana (sarpras) yang memadai.
Politisi muda ini mendorong agar setiap pesantren di Demak mulai memprioritaskan aspek kebersihan lingkungan dan pengelolaan limbah yang baik. Hal ini dinilai penting untuk menunjang kenyamanan para santri dalam menuntut ilmu.

“Pesantren harus bersih, sanitasinya harus bagus. Lingkungan yang sehat akan melahirkan santri yang cerdas dan kuat. Ini yang kita diskusikan, bagaimana sarpas-nya bisa kita dukung agar standar kebersihannya meningkat,” jelas Zayin.

Selain masalah kebersihan, Zayin juga menyinggung pentingnya ketersediaan Fasilitas Kesehatan (Faskes) di lingkungan ponpes. Mengingat jumlah santri di Demak yang mencapai ribuan, keberadaan Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) atau klinik pratama di lingkungan pondok dinilai sangat mendesak.
Zayin menyoroti isu krusial mengenai lingkungan pesantren seperti stigma pesantren yang kumuh. Stigma itu harus dihilangkan sepenuhnya melalui perbaikan sarana dan prasarana (sarpras) yang memadai.
Politisi muda ini mendorong agar setiap pesantren di Demak mulai memprioritaskan aspek kebersihan lingkungan dan pengelolaan limbah yang baik. Hal ini dinilai penting untuk menunjang kenyamanan para santri dalam menuntut ilmu.
“Pesantren harus bersih, sanitasinya harus bagus. Lingkungan yang sehat akan melahirkan santri yang cerdas dan kuat. Ini yang kita diskusikan, bagaimana sarpas-nya bisa kita dukung agar standar kebersihannya meningkat,” jelas Zayin.
Selain masalah kebersihan, Zayin juga menyinggung pentingnya ketersediaan Fasilitas Kesehatan (Faskes) di lingkungan ponpes. Mengingat jumlah santri di Demak yang mencapai ribuan, keberadaan Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) atau klinik pratama di lingkungan pondok dinilai sangat mendesak.
“Kesehatan santri adalah investasi bangsa. Maka, faskes di ponpes ini menjadi salah satu gagasan transformasi yang kita dorong. Kita ingin pastikan akses kesehatan bagi para santri ini mudah dan cepat,” imbuhnya.
Diskusi berjalan interaktif dengan banyaknya masukan dari para pengurus pesantren terkait persoalan yang ada di lapangan. Zayin berkomitmen untuk menampung aspirasi tersebut dan memperjuangkannya melalui kebijakan anggaran di DPRD.
Diskusi berjalan interaktif dengan banyaknya masukan dari para pengurus pesantren terkait persoalan yang ada di lapangan. Zayin berkomitmen untuk menampung aspirasi tersebut dan memperjuangkannya melalui kebijakan anggaran di DPRD.

Rangkaian acara tersebut ditutup dengan momen spiritual berupa doa bersama. Para kiai dan pengurus pesantren memanjatkan doa untuk keselamatan bangsa dan negara, serta kemajuan Kabupaten Demak.
Acara kemudian diakhiri dengan buka puasa bersama yang menambah kehangatan suasana. Zayin berharap pertemuan ini menjadi langkah awal yang konkret untuk kemajuan pendidikan keagamaan di Demak.
“Silaturahmi ini menjadi momentum penting untuk menyatukan semangat kita. Harapannya, gagasan transformasi yang kita bicarakan bisa segera terwujud. Tentu, doa dan dukungan para kiai menjadi spirit utama bagi kita dalam membangun Kabupaten Demak ke depan,” pungkas Zayin. ***

 

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *