Bahaya Tren Penutup Mulut: Dokter Memperingatkan Risiko Serius di Balik Tidur dengan Mulut Tertutup

Berita56 Dilihat
banner 468x60

Mitra Jakarta– Bayangkan tidur malam dengan mulut ditutup rapat. Terdengar seperti adegan mimpi buruk, bukan? Namun, di media sosial, terutama TikTok, tren “mouth taping” justru sedang ramai dibicarakan. Katanya, cara ini bisa membuat tidur lebih nyenyak dan mengurangi dengkuran.

Masalahnya, para ahli medis justru tegas berkata:jangan coba-coba.

banner 525x280

Dr. Kimberly Hutchison, ahli neurologi dan tidur dari Oregon Health & Science University, menegaskan bahwa penelitian tentangMengikat mulutmasih sangat sedikit.

“Manfaatnya kecil, risikonya nyata,” katanya.

Risiko yang dimaksud bukanlah hal yang sepele: mulai dari memperparahapnea tidurhingga bahaya kesulitan bernapas.

Lebih Baik Bernapas Melalui Hidung

Sebenarnya, bernapas melalui hidung memang lebih sehat. Hidung berfungsi sebagai filter alami yang menyaring debu dan alergen sebelum mencapai paru-paru.

Sementara itu, bernapas melalui mulut dapat menyebabkan tenggorokan kering, bau mulut, hingga memperparah mendengkur.

Namun, menurut para ahli, menutup mulut dengan plester bukanlah solusi. Studi kecil yang ada tidak menunjukkan manfaat yang signifikan, dan bahaya yang ditimbulkan justru lebih besar.

Ada Cara yang Lebih Aman

Dr. David Schulman dari Universitas Emory menyarankan alternatif yang jauh lebih aman. Misalnya, menggunakan alat bantu medis sepertipipa mulutkhusus, terapi dengan mesin CPAP, atau langkah-langkah gaya hidup sehat seperti berhenti merokok dan menurunkan berat badan.

Jika seseorang bernapas melalui mulut saat tidur, itu bisa menjadi tanda adanya masalah serius sepertiapnea tidur obstruktif— gangguan tidur yang menyebabkan pernapasan terhenti berulang kali karena saluran napas tersumbat.

Apnea tidurdapat menyebabkan kualitas tidur menurun drastis. Dampaknya dapat dirasakan sehari-hari, bahkan memengaruhi kesehatan jangka panjang,” jelas Dr. Brian Chen dari Cleveland Clinic.

Langkah Terbaik: Ketahui Penyebabnya

Para dokter sepakat: sebelum ikut-ikutan tren TikTok, sebaiknya periksa dulu penyebabnya melalui tes tidur, yang kini bisa dilakukan di rumah.

Lebih baik tahu kondisi sebenarnya,” kata Schulman. “Jika pun setelah tahu seseorang memilih tidak menjalani terapi, setidaknya keputusannya berdasarkan informasi, bukan sekadar ikut tren.

Jadi, daripada bermain-main dengan perban mulut, lebih baik periksa kesehatan tidur ke dokter. Tidur yang nyenyak itu penting, tapi keselamatan jauh lebih utama.***

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *