Dedi Mulyadi Bocorkan Kondisi Kiper Muda Bandung di Kamboja

Forum Kota0 Dilihat
banner 468x60

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi memberikan informasi terbaru mengenai kiper muda Bandung, Rizki Nur Fadhila. Ternyata kiper muda tersebut bukanlah korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Kamboja.

Diketahui bahwa pemain sepak bola asal Jawa Barat, Rizki Nur Fadhila, dilaporkan diduga menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Kamboja. Dugaan tersebut muncul berdasarkan pengakuan Rizki.

banner 525x280

Rizki mengakui pernah ditawarkan untuk menjadi pemain sepak bola di salah satu klub di Medan, Sumatra Utara, tetapi ia justru bekerja di Kamboja. Kejadian ini menjadi viral setelah orang tua Rizki menyebutkan bahwa putranya mengalami penganiayaan selama bekerja di Kamboja.

Mereka bahkan melaporkan ke Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Bandung dan meminta agar anak tersebut segera dikembalikan. Mengenai laporan tersebut, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi langsung menyelidiki dan menemukan fakta yang tak terduga.

Dedi Mulyadi menyatakan bahwa kiper muda Bandung, Rizki Nur Fadhila bukanlah korban perdagangan orang di Kamboja. Menurut pengakuan Dedi, Rizki bekerja di sebuah perusahaan di Kamboja tetapi merasa tidak nyaman dan ingin kembali ke Indonesia.

“Dan saya sampaikan bahwa Rizki bukan korban TPPO atau perdagangan manusia. Ia bekerja biasa di sebuah perusahaan di Kamboja dan mungkin, saya menyampaikannya dengan kemungkinan, ia merasa tidak nyaman di tempat kerjanya dan akhirnya ingin kembali ke Indonesia,” kata Dedi dalam rekaman video yang dilansir dari Kompas.com.

Dedi Mulyadi juga membeberkan kondisi kiper muda tersebut. Ia menyebut Rizki Nur Fadhila dalam keadaan aman dan berada di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).

Mantan Bupati Purwakarta mengakui akan berupaya sekuat mungkin untuk mengembalikan Rizki. Ia bahkan telah melakukan koordinasi dengan Kapolda Jabar.

“Kami malam berkoordinasi dengan Kapolda Jabar untuk melakukan pemulangan kembali ke Indonesia, yaitu ke Jawa Barat dan Kabupaten Bandung,” katanya.

Selanjutnya, Dedi juga memberikan peringatan kepada seluruh warganya yang berencana bekerja di luar negeri. Ia menghimbau agar para pekerja mempersiapkan mental serta mencari informasi lengkap mengenai perusahaan yang akan dituju.

 

Dan saya sampaikan kepada siapa saja yang ingin bekerja di luar negeri, persiapkan pikiran Anda dengan baik.

“Jika kurang memiliki ketahanan mental, lebih baik tidak bekerja di luar negeri karena pada akhirnya akan menyulitkan orang tua dan banyak orang,” kata Dedi.

Di sisi lain, klub sepak bola asal Medan, PSMS yang terlibat dalam kasus TPPO Rizki Nur Fadhilah akhirnya angkat bicara. Presiden klub PSMS Medan, Fendi Jonathan, menegaskan bahwa tidak ada perekrutan pemain sebagaimana yang diberitakan oleh Rizki.

“Saya memastikan PSMS tidak pernah melakukan perekrutan pemain. Informasi yang beredar di media sosial bahwa kami membuka seleksi adalah palsu,” katanya dilansir Tribunnews.com.

“Kami merasa prihatin terhadap kejadian yang menimpa Rizki Nur Fadhilah. Semoga ia dapat kembali bersama keluarganya seperti biasanya,” tambahnya.

Disebut Alami Penyiksaan

Sebelumnya, orang tua Rizki mengungkap awal mula anaknya diduga menjadi korban perdagangan manusia di Kamboja. Mereka menyebut bahwa putranya dijemput oleh sebuah travel menuju Jakarta, lalu dibawa ke Malaysia dan Kamboja.

“Anak saya mengatakan ada kontrak bermain sepak bola di Medan selama setahun. Kemudian dia dijemput ke sini dengan menggunakan travel, lalu dibawa ke Jakarta. Tapi di Jakarta, alih-alih pergi ke Medan, malah menuju Malaysia. Akhirnya sampai ke Kamboja,” ujar ayah Rizki, Dedi Solehudin (42).

Setelah Rizki tiba di Kamboja, orang tua menyampaikan bahwa anaknya mengakui mengalami penganiayaan. Ia dipaksa mencari 20 kontak calon korban dari berbagai negara agar bisa ditipu.

“Jika tidak berhasil, dia akan dihukum. Sampai 500 kali pukulan, terkadang bahkan lebih. Lalu diperintahkan untuk mengangkat galon dari lantai satu hingga lantai sepuluh. Dia bekerja setiap hari mulai pukul 8 pagi hingga pukul 12 malam. Bahkan sering belum selesai meskipun sudah melewati pukul 12 malam,” ujarnya. (*)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *